[ARSIP] Diskusi dan Bedah Buku Sekolah itu Candu

Kredit Ilustrasi : Jurnal Rumaka


Baru-baru ini Studie Club Rumah Mahasiswa Merdeka (SC Rumaka) diketahui menggelar diskusi dan bedah buku. Diskusi tersebut digelar pada hari Kamis, (11/04/19) bertempat di Gazebo Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Malang. Adapun buku yang didiskusikan adalah buku berjudul “Sekolah Itu Candu” (2018) karya Roem Topatimasang. Diskusi ini dipimpin oleh Khairul Ikhwan, mahasiswa jurusan Bahasa Inggris UMM, sekaligus Koordinator SC Rumaka dan dihadiri banyak aktivis mahasiswa dari berbagai latar belakang organisasi.

Pengadaan diskusi dilatarbelakangi oleh keresahan klub belajar Rumaka terhadap wajah pendidikan nasional. Bagaimana tidak, belakangan banyak tersiar kabar bahwa pendidikan tengah mempersiapkan diri untuk memenuhi kebutuhan industri. Lebih tepatnya, mempersiapkan tenaga kerja guna menghadapi Revolusi Industri 4.0.

Baca Juga : Sepuluh Buku Penutup Akhir Tahun

Jurusan sosial-humaniora bakal dibatasi. Di lain sisi, pendidikan vokasi makin digalakkan. Dana pendidikan semakin digenjot untuk kebutuhan sarana-prasarana penunjang, sementara perbaikan mutu tidak pernah terjadi. Karena pendidikan makin terintegrasi dengan Revolusi Industri 4.0, maka paradigma serta disorientasi banyak terjadi di dunia pendidikan kita. Ini hanya sedikit fenomena yang belakangan sempat mencuat ke publik. Sementara yang diuraikan oleh Roem Topatimasang sangatlah kompleks.

Roem mengambil asal usul kata sekolah di era Yunani dengan pemaknaan serta metode pengajarannya yang relatif sederhana. Tak lupa beliau pun mengupas tuntas asal usul seragam, pelembagaan sekolah sampai metode, sistematika pembelajaran, dan lain-lain. Semua ditulis oleh Pak Roem dengan sistematis dan metodis. Demikian dengan pemaparan dari Khairul Ikhwan selaku pembedah.

Baca Juga : Kartini di Mata Pramoedya Ananta Toer

Sesi bedah buku pun berakhir. Forum berlanjut pada sesi diskusi. Berbagai respon bermunculan dari peserta diskusi. Diskusi berjalan selama dua jam dan ditutup dengan satu kesimpulan bahwa pendidikan kini harus menjadi sebuah objek yang perlu dikoreksi. Baik oleh kalangan pemerhati, peneliti sampai praktisi. Sebab netralitas pendidikan saat ini menjadi paradoks. Terkhusus pasca tunduknya dunia pendidikan terhadap mekanisme pasar.***


*TULISAN ini sebelumnya dimuat di kolom agenda Jurnal Rumaka pada 12 April 2019. Diterbitkan ulang di sini semata-mata demi tujuan pengarsipan.