Sepuluh Bacaan Penutup Akhir Tahun

Kredit Ilustrasi : aminoapps.com


Pertengahan tahun 2021 akan tercatat sebagai fase paling kelam bagi penanganan pandemi di Indonesia. Terekam jelas dalam ingatan betapa mencekamnya situasi kala itu. Suara sirine mobil ambulans semakin kerap terdengar. Kasus harian melonjak drastis sampai-sampai membuat fasilitas kesehatan kolaps. Kabar duka seolah tiada henti membanjiri linimasa.

Di waktu yang sama, dua kakak saya dinyatakan terinfeksi virus COVID-19 dari lingkungan kerja. Selain kesulitan mencari tempat isolasi, stigma yang kadung menyebar juga sempat menyulitkan saya dalam mencari tempat evakuasi. Memang tak berlangsung lama, tetapi peristiwa itu cukup menyisakan trauma dan rasa takut pada diri saya. Ia mendorong saya untuk membuat langkah antisipasi dengan cara menarik diri dari dunia luar dan memilih menjalani segala sesuatunya di rumah. Mulanya terasa normal-normal saja, tapi dalam banyak kejadian saya sadar jika keputusan yang saya ambil mengandung konsekuensi.

Pilihan untuk menggeser segala aktivitas di rumah berimbas pada biasnya batas antara waktu untuk bekerja dan waktu luang. Perubahan itu membawa dampak dalam diri saya: saya lebih sering gelisah dan sulit berkonsentrasi. Perasaan itu semakin menjadi ketika saya mencoba terhubung dengan riuh sesak yang kini tengah diperantarai dunia virtual. Akibatnya saya lebih sering menghamburkan diri di hadapan waktu.

Baca Juga : Kartini di Mata Pramoedya Ananta Toer

Semua baru berubah setelah saya bertemu cerpen “Manusia Kamar” karangan Seno Gumira Adjidarma lewat buku kumpulan cerpen berjudul “Senja dan Cinta yang Berdarah” (2014). Cerpen ini berkisah tentang seorang yang menarik garis demarkasi dari gamangnya hidup dan lebih banyak menghabiskan waktu di kamar untuk membaca. Cara hidup manusia kamar mengingatkan saya pada perkataan Camus soal keutamaan mempertahankan kesadaran sebagai tujuan utama manusia. Benar bahwa manusia kamar memutuskan untuk hilang dari peredaran, tetapi keputusan itu tak lantas membuat ia membiarkan kesadarannya memudar dengan perlahan. Manusia kamar memilih membaca sebagai salah satu cara mempertahankan kesadaran.

Membaca cerpen “Manusia Kamar” membuat saya mantap dengan keputusan yang sudah saya ambil. Ketika kecemasan hadir dan merenggut daya kreativitas, maka pengalihan harus dibuat. Layaknya manusia kamar, pengalihan yang saya lakukan adalah membaca. Saya membaca apapun yang bisa dibaca, dari buku, surat kabar, booklet, buletin, hingga fanzine. Rasa cemas berangsur mereda seiring perasaan penuh dalam diri. Bahkan, ia membuat saya terdorong untuk kembali menulis setelah sekian lamanya saya berjarak dengan aktivitas yang satu ini.

Sebagai permulaan, saya akan menulis rekomendasi bacaan. Terutama bacaan yang menemani saya melewati momen paling suram di tahun ini. Meski tak seluruhnya, semoga sepuluh daftar bacaan ini juga dapat menjadi teman di tengah pasang surutnya kewarasan akibat pandemi. Selamat membaca!

1. Kita yang Patah Hati, Gargi Bhattacharyya (2020)

Kredit Ilustrasi : archive.org


“Kita yang Patah Hati” berjudul asli “We’re the Heartbroken” (2020) merupakan karya sosiolog kenamaan Gargi Bhattacharya yang sebelumnya dimuat di laman blog Pluto Books. Saya ingat awal perjumpaan saya dengan buletin ini terjadi hanya beberapa bulan setelah aksi Reformasi Dikorupsi meletus di banyak kota. Sebagaimana yang kita tahu aksi ini sempat diwarnai berbagai upaya pembungkaman: dari penangkapan hingga brutalitas aparat yang berujung pada jatuhnya korban jiwa dari pihak rakyat sipil. Gambaran situasi kala itu membuat perjumpaan saya dengan buletin ini menjadi agak menarik. Sebab buletin ini fokus membahas keterhubungan antara fenomena patah hati dan praktik kekerasan negara.

Gargi membagi definisi patah hati ke dalam tiga bentuk. Pertama, patah hati adalah momen ketika seseorang menyadari kekecewaannya sebagai pertempuran antara keinginan untuk hidup, mencintai, dan menghancurkan. Kedua, patah hati adalah ketika seseorang menjalin hubungan dengan korban kekerasan negara dan memahami bagaimana kekerasan itu (tengah) diarahkan kepada kita. Ketiga, patah hati adalah ketika seseorang menyadari bahwa praktik kekerasan tidak dapat dibenarkan sama sekali.

Seperti halnya masyarakat umum, Gargi menganggap patah hati adalah momen ketika seseorang menyadari ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan. Betapa sering kita dijejali kepercayaan bahwa negara adalah institusi yang menjamin hak-hak sipil, termasuk hak akan rasa aman dari segala bentuk kekerasan. Faktanya di banyak kejadian negara lewat aparatnya kerap kali menjadi pelaku kekerasan terhadap sipil. Ironisnya ini tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga di banyak negara lainnya.

Mengglobalnya kekerasan negara memaksa mereka yang patah hati mengalihkan diri ke arah kolektif. Baik dalam mempererat solidaritas horizontal, maupun mengusahakan utopia tentang dunia yang sepenuhnya bebas dari kekerasan negara. Hanya mereka yang patah hati yang dapat membayangkan dunia semacam itu.

2. Panegrik : Jurnal Katarsis, Proyek Berhala Vol.I-IV (20/21)

Kredit Ilustrasi : https://berhala.neocities.org/panegrik01


Perjumpaan antara saya dan Panegrik terjadi lewat tangkapan layar yang dibagikan seorang kawan di media sosial. Saya ingat betul waktu itu yang dibagikannya adalah kepingan cerita pendek berjudul “Anjing Botak” (2020) yang dimuat dalam Panegrik Vol. III. Saya yang tertarik dengan cerita itu lalu memutuskan untuk mengunduh edisi keseluruhan Panegrik yang telah mencapai empat edisi.

Keempat edisi itu punya kesamaan jika dilihat dari segi materi. Selain artwork, keempat zine Panegrik juga berisi esai reflektif, cerita pendek, hingga puisi. Menyoal ciri khas, tampak jelas jika Panegrik hendak mengedepankan aktivitas menulis sebagai katarsis. Untuk memahaminya saya akan mulai dari definisi katarsis.

Kredit Ilustrasi : https://berhala.neocities.org/panegrik02


Katarsis berasal dari kata dalam bahasa Yunani yaitu “Khataros” yang berarti ‘untuk membersihkan‘ atau ‘untuk menyucikan’. Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Aristoteles lewat uraiannya tentang “Tragic Pleasure”. Baru pada perkembangan ilmu pengetahuan lanjutan, istilah katarsis didefinisikan lebih spesifik oleh rumpun ilmu psikologi, terutama yang mengacu pada psikoanalisis Freudian.

Kredit Ilustrasi : https://berhala.neocities.org/panegrik03


Setiap orang yang hidup pasti pernah mengalami peristiwa atau tragedi yang membuatnya mengalami trauma. Trauma mendorong luapan emosional dan agresi yang apabila tertahan hanya akan menimbulkan ledakan berlebih. Seseorang harus menyalurkannya dengan konstruktif tanpa merugikan yang lain. Penyaluran inilah yang dimaksud Freud sebagai katarsis.

Jurnal Panegrik bagi saya tidak lain adalah medium yang menyediakan ruang bagi siapapun yang ingin menyalurkan emosi dan agresi lewat tulisan. Sebagian besar karya berbicara soal tragedi hidup: dari kehilangan, horor, trauma, dan kegelisahan lainnya. Berbagai tema tersebut membuat Jurnal Panegrik identik dengan nuansa gelap, daripada sebaliknya. Namun justru itulah yang membuat Jurnal Panegrik menjadi khas dan menarik untuk dibaca. Dari keterwakilan emosional, pembaca seolah diajak untuk berefleksi tentang kehidupan masing-masing lalu mengambil katarsis sebagai sarana peleburan hasrat yang kian menumpuk tak tertahan.

Kredit Ilustrasi : https://berhala.neocities.org/panegrik04


3. Submisi Zine Edisi Mei 2021 (2021)

Kredit Ilustrasi : Submisi


Dari keseluruhan zine rilisan Submisi, edisi Mei 2021 seolah punya daya tarik tersendiri. Terlebih karena ia dirilis tepat saat momen ulang tahun Submisi yang pertama terhitung sejak kelahirannya pada Mei 2020 silam. Kemudian dari pemilihan tema, pada edisi kali ini Submisi memilih tema “menangis bersama” sebagai medium saling bertukar kesedihan. Dari momentum hingga pemilihan tema: keduanya tampak mengisyaratkan jika Submisi hendak mengembalikan perayaan ulang tahun ke tempat semula. Tak ada yang istimewa dari pesta ulang tahun karena hidup itu sendiri adalah menyedihkan dan hanya itu yang kita punya.

Submisi Zine Edisi Mei 2021 terdiri atas 120 halaman yang dibuka dengan kalimat : “kita sedang (tidak) baik-baik saja”. Penegasan itu makin diperkuat oleh kisah sedih yang dibagikan para kontributor dalam bentuk puisi maupun prosa. Rata-rata puisi berbicara tentang kegelisahan masa muda, kehilangan, hingga cinta yang tak sampai. Ditambah layout pendukung, kisah sedih yang dibagikan terasa begitu dekat dan nyata. Semua itu ditutup dengan sepuluh rekomendasi musik yang siap menemani pembaca merayakan kesedihan masing-masing.

4. Check Your People : Bringing Back The Grassroot Politic by Morgue Vanguard x Doyz (2017)

Kredit Ilustrasi : Pembebasan Buku!


Booklet ini dirilis bersamaan dengan rilisnya lagu hasil kolaborasi kedua antara MC Morgue Vanguard dan Doyz yang berjudul “Check Your People” (2017). Dari segi tema, booklet ini mengangkat politik akar rumput, terutama yang terkait dengan isu perampasan ruang hidup. Booklet ini dibuka dengan cover beserta lirik track “Check Your People” disusul beberapa esai elaboratif yang dihimpun dari berbagai kanal media alternatif seperti IndoProgress, anarkis.org, Selamatkan Bumi, hingga Watchdoc Documentary. Terdapat setidaknya lima esai elaboratif dan satu resensi film dengan paparan kasus yang berbeda namun dengan pendekatan yang bertujuan menguak relasi ekonomi politik di balik persoalan perampasan ruang hidup. Tak hanya itu, booklet ini juga memuat potret bagaimana warga mempertahankan ruang hidupnya secara mandiri. Membacanya tak hanya menjembatani pemahaman mengenai pesan politis yang tersemat pada baris lirik track “Check Your People”, tetapi juga memperluas imaji tentang politik alternatif yang melulu berkutat pada elektoralisme.

5. Sepilihan Fiksi #DiRumahAja Vol.I-II (2020)

Kredit Ilustrasi : Sepilihan Fiksi #DirumahAja Vol. I


Pandemi yang tidak mentolerir mobilitas sosial nyatanya tak mampu menghentikan geliat pengampu kebudayaan dalam menunaikan tugasnya. Contoh yang dilakukan para penggiat kebudayaan yang tergabung dalam proyek Sepilihan Fiksi #DiRumahAja ini. Dengan memanfaatkan teknologi yang ada, mereka melahirkan karya sastra dalam bentuk digital dan diedarkan secara cuma-cuma.

Edisi pertama proyek Sepilihan Fiksi #DiRumahAja berbentuk kumpulan cerpen dan puisi karya penulis ternama yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Mengenai isi, terdapat sepuluh judul cerpen dan dua puisi dengan tema yang berbeda-beda. Dari keseluruhan, dua di antaranya masuk dalam daftar favorit saya. Di urutan pertama, ada cerpen “Anak Perempuan” (1921) karangan Virginia Woolf. Sedangkan di urutan kedua ada cerpen monumental berjudul “Tuhan Tahu Tapi Ia Menunggu” (1872) yang dikarang oleh Leo Tolstoy.

Sementara itu, di edisi keduanya, proyek ini memilih untuk mengumpulkan karya sastra dari penulis lokal. Edisi ini diberi judul “COVID-20 dan Sepilihan Fiksi lainnya” (2020). Aris P. Rahman Putra dalam kata pengantarnya menyebut edisi ini terinspirasi dari gerakan Pekan Fiksi Indonesia 2038 sekaligus respon atas situasi pandemi yang sedang berlangsung. Jika ditotal terdapat empat puluh satu cerpen dengan judul berbeda namun membahas satu tema yang sama, yaitu Post-Apokalips. Seluruhnya menarik untuk dibaca, namun satu yang menurut saya terbaik adalah cerpen berjudul “Distopia” (2020) karangan Indri A. Anindita. Karena selain mengunggah kenyataan soal hidup di tengah pandemi yang mesti harus terus berjalan meski dengan terseok-seok — Indri dalam ceritanya juga mengingatkan soal naluri manusia sebagai salah satu makhluk hidup. Bahwa distopia sesungguhnya terjadi ketika situasi memburuk dan mau tidak mau kita mesti tetap mempertahankan hidup masing-masing.

Kredit Ilustrasi : COVID-20 dan Sepilihan Fiksi Lainnya


Orang sering mengerdilkan situasi yang pandemi sebatas perkara yang erat kaitannya dengan ilmu pasti, atau sains. Memang benar demikian, hanya terkadang aspek yang disoroti dunia sains relatif terbatas dan itu secara tidak langsung mempengaruhi aspek pemikiran dan imajinasi kita sendiri. Adakalanya kita harus mencari penyeimbang, yaitu dengan membaca karya sastra. Saya rasa dua edisi Sepilihan Fiksi #DiRumahAja sangat cocok untuk dijadikan alternatif pilihan.

6. Riot Klab Vol. III : Sepi (2021)

Kredit Ilustrasi : Riot Klab


Riot Klab akhirnya kembali aktivitas berbagi bacaan alternatif dengan dirilisnya zine edisi ketiga dengan judul “Merayakan Arti Kesunyian”. Dari segi materi, edisi kali ini terdiri atas catatan reflektif, memoar, prosa dan puisi, juga beberapa artwork. Seluruhnya berbicara soal tema yang sama, yaitu kesepian.

Berbicara soal kesepian, sebagian besar dari kita menganggap ia hanya akan hadir di saat seseorang terisolir dari kerumunan. Memang benar, tapi tidak seluruhnya. Pengalaman para kontributor dalam zine ini malah memperlihatkan bahwa kesepian itu simptomatik. Ia bisa datang kapan saja tanpa dikehendaki, bahkan dalam kondisi yang tidak memungkinkannya muncul. Ini sekaligus membuat anggapan tentang kesepian lebih rumit dari kelihatannya.

Zine Riot Klab edisi kali ini pantang untuk dilewatkan. Membacanya tak hanya membantu melengkapi pemahaman kita soal seluk beluk kesepian. Akan tetapi juga membantu kita menyelami dan menterjemahkan kesepian masing-masing.

Misalnya yang menimpa saya. Usai merampungkan zine ini, satu kenyataan yang tak bisa saya elak yaitu bahwa saya termasuk makhluk yang kesepian. Berbeda dari kebanyakan, kesepian yang saya alami seringnya muncul saat saya berkerumun begitu pula sebaliknya. Ada perasaan penuh ketika saya sendirian.

Orang terdekat sering bertanya soal apa yang sesungguhnya terjadi pada diri saya. Tak ada jawaban selain perubahan suasana. Waktu yang terus berjalan merubah banyak hal termasuk suasana yang melatari lingkungan di mana saya berinteraksi. Ia membuat segalanya menjadi asing, terlebih kita tahu fakta bahwa mentalitas kerumunan yang kini eksis dibangun atas pertumbuhan dan bukannya hal ikhwal yang sifatnya bermakna. Saya menolaknya dengan memutuskan untuk sendiri daripada berkerumun namun asing dan sepi.

7. Kelanadeszine Vol. I : Merekam Dendam, Menjaga Bara (2020)

Kredit Ilustrasi : Kelanadestin


Tahun 2020 menjadi penanda lahirnya berbagai karya menarik, terutama dari dunia bacaan alternatif. Karya menarik itu, salah satunya adalah zine perdana Kelanadeszine yang berjudul “Merekam Dendam, Menjaga Bara” (2020). Dalam edisi perdananya ini, Kelana mengangkat tema utama pertalian antara seni dan politik akar rumput. Terutama politik dalam konteks hak asasi manusia.

Terdapat enam belas seni visual karya Kelana yang lahir pada rentang tahun 2012 hingga 2016. Dari mural yang didokumentasikan lewat foto, seni grafis Marsinah dan Wijhi Thukul, hingga poster yang sengaja dibuat untuk diedarkan secara gratis. Masing-masing dokumentasi lengkap dengan uraian singkat, baik berupa catatan memoar dan juga puisi. Membacanya, seseorang seperti sedang menyelami laman Instagram yang menawarkan visualisasi lengkap dengan cerita yang dikemas dalam bentuk keterangan (baca : caption).

8. Kabar Pakel Banyuwangi : WALHI Jatim X Rukun Tani Pakel (2021)

Kredit Ilustrasi : WALHI Jatim


Konflik agraria yang melibatkan warga Pakel Banyuwangi kembali mencuat usai sekelompok warga melakukan aksi pendudukan kembali (reclaiming) terhadap lahan yang sebelumnya diakui oleh PT Bumi Asri sebagai pihak yang bersengketa dengan warga Pakel, Banyuwangi. Peristiwa yang terjadi pada 2020 itu, tak hanya menyita perhatian publik secara umum. Akan tetapi, juga memunculkan pertanyaan soal kronologi bagaimana konflik tersebut bermula. Terbitnya buku digital “Kabar dari Pakel Banyuwangi” (2021) hasil kolaborasi dari Wahana Lingkungan Hidup Jawa Timur (WALHI Jatim) bersama Rukun Tani Pakel layak dijadikan opsi bacaan terutama bagi publik yang konsen terhadap isu agraria atau sekadar mengetahui seluk beluk konflik agraria yang terjadi di Pakel, Banyuwangi.

Buletin ini dibuka dengan data dari Walhi Jatim soal kronologi konflik agraria di Pakel yang sudah berlangsung sejak era pra-kemerdekaan hingga saat ini. Kronologi yang diberikan cukup jelas, dalam artian tidak mengabaikan bagaimana latar belakang historis saat konflik meletus. Di samping itu, buletin ini juga memuat pers release, catatan reportase dan beberapa esai elaboratif.    Bagi saya, buletin ini teramat penting untuk dilewatkan.

9. Wabah, Sains, dan Politik : Antinomi (2020)

Kredit Ilustrasi : Antinomi Institute


Dalam “Pan(dem)ic Shake The World” (2020), Slavoj Zizek mengibaratkan bumi sebagai perahu tempat umat manusia berlayar sepanjang waktu. Lalu dalam pelayaran itu, umat manusia dikejutkan dengan badai pandemi COVID-19. Dari krisis kesehatan kemudian melebar menjadi krisis multidimensi. Umat manusia kian dituntut mencari jalan keluar di samping mempertimbangkan banyak hal yang memungkinkan pandemi berlarut-larut.

Terbitnya buku “Wabah, Sains, dan Politik” oleh Antinomi Institute (2020) nampak didasari semangat yang sama. Dalam arti, buku ini tidak terburu mencari jalan keluar dari kemelut situasi pandemi dengan tanpa mengabaikan faktor-faktor yang membuatnya menjadi mungkin.

Secara badaniah, buku ini adalah kumpulan esai opini penulis dari berbagai latar belakang. Dari pengamat, saintis, filsuf, mantan tenaga kesehatan, hingga aktivis politik. Satu hal yang membuat buku ini penting dibaca ada pada tesis yang diajukan. Buku ini mengajukan tesis bahwa gagal tidaknya pandemi tergantung pada solidaritas yang dilandasi rasa kepercayaan terhadap sains dan terutama kepemimpinan politik di level nasional maupun global. Ini sangat berbeda dengan tesis mayoritas yang mengatakan urusan pandemi hanya soal bagaimana mengkolaborasikan sains dan kebijakan politik.

Membaca buku ini membuat saya sadar betapa kepercayaan publik sejak awal telah dirusak oleh elite politik yang tidak bertanggung jawab. Di Indonesia sendiri, kita tentu ingat kejadian di mana para politisi saling lempar kelakar soal pandemi. Lalu ketika pandemi mulai bergejolak, kepercayaan publik yang kadung merosot justru berbuah kecurigaan terhadap seluruh kebijakan yang dibuat oleh pemerintah.

Baca Juga :  Menulis Serupa Perjalanan

Di akar rumput, betapa sering saya menyaksikan bagaimana masyarakat menganggap pandemi hanya soal urusan konspirasi. Apakah itu semata-mata kesalahan masyarakat? Tidak juga, jikalau kita mau mengulas lebih jauh, ketidakpercayaan ini muncul akibat buruknya kepemimpinan politik yang secara tidak langsung membuat publik berpaling dari sains ke teori konspirasi. Alhasil segala kebijakan pemerintah yang berbasis saintifik menjadi mentah dan pada gilirannya menyebabkan pandemi semakin berlarut-larut.

10. Tentang Relasi Sehat – Shefemalee (2017)

Kredit Ilustrasi : lakilakibaru.or.id


Topik tentang relasi barangkali kurang diminati jika dibandingkan dengan topik tentang politik, sosial, atau ekonomi. Namun bagi setiap orang yang punya keprihatinan terhadap isu kekerasan, topik relasi punya daya tarik tersendiri. Ini tidak terlepas dari fakta bahwa banyak kasus kekerasan yang terjadi sangat berkait kelindan dengan relasi. Relasi yang serba timpang sangat rentan berujung pada tindak kekerasan, baik fisik maupun non-fisik.

Zine “Tentang Relasi Sehat” (2017) terbitan SheFemalee sangat saya rekomendasikan untuk siapa saja yang ingin mendalami topik soal relasi dan kaitannya dengan isu kekerasan antar individu. Menarik, karena zine ini tak hanya menjelaskan relasi dan hubungannya dengan kekerasan antar individu atau membantu pembaca mengidentifikasi relasi tak sehat dengan orang sekitar. Akan tetapi, zine ini juga memberikan pengetahuan kepada pembaca soal bagaimana membangun relasi yang sehat. Membacanya, kita seperti sedang berdialog dengan konsultan lantaran penjelasannya yang sederhana namun sistematis dan komprehensif.

Desember, 2021