Menulis Serupa Perjalanan

Kredit Ilustrasi : The Atlantic


‘Menulis Itu Indah : Pengalaman Para Penulis Dunia’ merupakan buku kumpulan esai yang ditulis oleh para penulis dan pemikir raksasa dari berbagai rumpun baik filsafat, jurnalisme, hingga kesusastraan. Diterbitkan pada tahun 2016, buku ini mengusung tema pengalaman para penulis dan pemikir dalam kerja-kerja kepenulisan mereka. Masing-masing pengalaman itu sedikit banyak mengurai pengetahuan elementer seputar dunia tulis menulis. Sebut saja seperti pengertian menulis, motif, hingga teknik kepenulisan.

Menulis dan Motif Kepenulisan

Meminjam pandangan Jean Paul Sartre, menulis bukanlah pekerjaan pasif yang hanya berisi tata cara merangkai kalimat menjadi paragraf dan pada akhirnya, sebuah tulisan. Melainkan pekerjaan yang menuntut proses aktif dari makhluk berkesadaran untuk mengambil kehendak tegas pada pilihan-pilihan. Untuk menjelaskannya, Sartre memberi analogi seorang penulis dan pelukis dalam menggambarkan sebuah gubuk. Seorang penulis adalah pemandu yang menggambarkan sebuah gubuk sebagai simbol ketidakadilan sosial. Sementara seorang pelukis hanya menggambarkan gubuk dengan apa adanya dan setiap penikmat dibebaskan untuk menyukai bagian-bagiannya.

Lewat analogi ini, saya menangkap bahwa pilihan-pilihan yang disebutkan Sartre dalam definisinya tentang menulis berkenaan dengan pemaknaan terhadap objek dan hubungannya pada motif kepenulisan seseorang. Dibandingkan pelukis, seorang penulis musti punya motif dalam kepenulisannya. Motif ini sendiri berhubungan dengan alasan sang penulis. Maka pertanyaan yang musti diajukan oleh seseorang yang menulis yakni, mengapa harus menulis?

Jawaban atas pertanyaan tersebut jelas akan bervariasi. Sebab menurut sastrawan George Orwell, jawaban tersebut bergantung pada perkembangan awal seorang penulis berikut lingkungan pendukungnya. Perlu dicatat pula, dua hal tersebut bersifat dinamis. Maka jawaban motif kepenulisan tidak akan pernah bersifat final. Kendati demikian kompleks, Orwell berdasarkan pengalaman menulisnya menyatakan ada empat motif umum dari seorang penulis antara lain egoisme, antusiasme estetis, impuls historis, dan terakhir motif politis.

Orwell menyebut motif egoisme berhubungan dengan keinginan penulis untuk tampak pintar, populer, serta ingin dikenang setelah ia meninggal dunia lewat tulisan-tulisannya. Sementara antusiasme estetis, berkaitan dengan keinginan penulis untuk menggambarkan dunia lewat kata-kata indah dan teratur. Impuls historis berhubungan dengan keinginan penulis untuk mencari fakta sejati sebagai alat pelacakan asal-usul. Dan motif politis yang umumnya berhubungan dengan keinginan penulis untuk memperjuangkan konsepsi masyarakat ideal yang dianutnya (hlm 49-50).

Menulis Ala Ilmu Matematika

Bagi Sartre, seseorang menjadi penulis bukan untuk menyatakan hal-hal tertentu. Melainkan untuk menyatakan sesuatu dengan cara-cara tertentu. Maka seperti berbicara, menulis juga ada seninya. Seni yang itu berhubungan dengan tata cara menulis seseorang. Baik dalam pemilihan kata, metode, dan sistematika kepenulisannya.

Di dalam buku ini, paparan praktis tentang tata cara menulis hanya diwakilkan oleh salah seorang filsuf analitik bernama Bertrand Russel. Bertrand mengakui, hingga usia dua puluh satu tahun, ia terpikat oleh gaya kepenulisan filsuf John Stuart Mill. Terutama dari cara bagaimana filsuf tersebut menyusun struktur kalimat serta mengembangkan pokok persoalan dalam tulisannya. Di usia yang sama, Bertrand juga bertemu dengan Logan Pearsal Smith, seseorang yang kelak menjadi saudara iparnya.

Logan adalah pengikut sastrawan kenamaan Gustav Flaubert dan Walter Pater. Dari pembacaan Logan atas Gustav dan Walter, Bertrand menarik kesimpulan bahwa cara menulis yang baik adalah dengan meniru teknik kepenulisan seseorang yang dikaguminya. Dari Logan, ia mendapat dua pakem sederhana dalam menulis. Pakem tersebut antara lain, taruhlah koma di setiap empat kata dan jangan gunakan kata ‘dan’ kecuali untuk membuka kalimat. Di antara peraturan itu, Logan menasehati Bertrand agar selalu menulis ulang (rewrite).

Meski begitu, ada saat di mana Bertrand mulai jengah dengan gaya kepenulisan semacam itu. Bahkan ia menyebut teknik meniru gaya kepenulisan seseorang sebagai wujud ‘ketidaktulusan hati’. Lebih jauh karena menurut Bertrand, teknik ini berhubungan dengan orisinalitas. Sehingga cukup berbahaya apabila terus menerus diterapkan.

Kekeliruan itu pada akhirnya membuat Bertrand berpaling pada metode menulis dengan pendekatan ilmu matematika. Sebagaimana ilmu matematika yang sarat akan angka dan kepastian, Bertrand menyebut pendekatan ini mengharuskan para penulis untuk mengutarakan maksud dalam tulisan dengan sependek mungkin. Berikut pemilihan diksi yang sejelas mungkin. Tujuannya agar maksud si penulis bisa tersampaikan kepada pembaca dengan baik.

Bagi Bertrand, ada tiga pakem yang perlu diperhatikan penulis yang menggunakan pendekatan ilmu matematika ke dalam tulisannya. Pertama, jangan menggunakan kata yang panjang jika ada kata pendek yang bisa digunakan. Kedua, jika ingin membuat pernyataan dengan kualifikasi, kategori, atau poin-poin tertentu maka taruhlah kualifikasi itu dalam satu kalimat yang terpisah dengan kualifikasi, kategori, maupun poin-poin lainnya. Ketiga, jangan sampai anak kalimat yang ditulis bertentangan dengan kalimat penutup (hlm 15).

Sekilas buku ini nampak seperti pameran ego para penulis dan pemikir raksasa dalam kerja-kerja kepenulisan mereka. Pelbagai pengalaman yang ada di dalamnya bukan untuk ditiru sepenuhnya. Melainkan diposisikan sebagai batu pijakan untuk mengenal dasar-dasar kepenulisan. Terutama sebelum memasuki hal-hal yang bersifat teknis, seperti cara menulis.

Muhidin M Dahlan dalam esainya pernah menuliskan, “tugas seorang penulis adalah menulis yang baik”. Terkait apakah tulisan itu baik atau tidak itu persoalan lain. Biar itu menjadi urusan kritikus, pengamat, dan pembaca secara umum. Maka mulai membangun pengalaman dengan menulis adalah sebuah keharusan. Dan yang tak kalah pentingnya adalah terus mengembangkan teknik kepenulisan dengan tekun dan mandiri.

Sebab menurut Gabriel Garcia Marquez, ketekunan lebih mendatangkan maslahat dari pada sekadar peniruan. Seorang yang menulis harus rela berpeluh untuk menemukan rahasia di balik derai-derai halaman buku yang menampilkan sederet aksara itu. Dengan demikian maka menulis serupa perjalanan yang melelahkan. Sedang seorang penulis adalah pengembara yang senantiasa belajar dari pengalaman untuk menemukan dirinya.***



Judul : Menulis Itu Indah : Pengalaman Para Penulis Dunia

Penulis : Jean Paul Sartre, George Orwell, dkk

Penerjemah : Adhe

Penerbit : Octopus

Tahun Terbit : Cetakan I, 2016

Tebal : xiv + 258 halaman