The Sun Also Rises, Ernest Hemingway

Posted by

Kredit Ilustrasi : The Lost Generation 1920’s Literature


The Sun Also Rises adalah artefak yang merekam kekecewaan generasi dunia pasca perang. Ceritanya disusun atas pengalaman pribadi Hemingway dan istrinya Hadley, saat masih tergabung dalam kelompok ekspatriat di Inggris dan Amerika. Naas setelah terbit untuk pertama kalinya pada 1926, keduanya telah resmi bercerai. Perceraian itu dilatarbelakangi oleh perselingkuhan antara Hemingway dengan wanita bernama Pauline Pfeiffer.

Saat rumah tangganya berantakan, The Sun Also Rises justru menghantarkan Hemingway ke panggung dunia sastra abad ke-20. Dalam ulasannya tahun 1926, New York Times menulis, jika novel pertama Hemingway itu telah mempermalukan karya-karya lain dalam bahasa Inggris. Pujian ini disematkan lantaran teknik kepenulisan Hemingway yang dinilai cukup bernas. Bahkan, teknik kepenulisan yang dikembangkan oleh Hemingway itu dinilai punya kontribusi besar terhadap sejarah seni kepenulisan.

Baca Juga : Mengeksplorasi Ide Perubahan Sosial Para Pesohor Dunia

Jerome David Silinger, Gabriel Garcia Marquez, dan Hunter S. Thompson merupakan sederet penulis tersohor yang terpengaruh dengan teknik kepenulisan Hemingway. Saking besarnya pengaruh novel ini, Hemingway menyebut The Sun Also Rises sebagai karya terbaiknya. Pernyataan ini pun dibenarkan oleh Jeffrey Mayers selaku penulis buku biografinya dan dicetak besar di sampul belakang buku.

The Sun Also Rises merupakan novel yang tersusun atas kumpulan cerita harian. Cerita tersebut tersusun dalam 18 bab. Setiap babnya berisi pergulatan atas peristiwa yang berbeda. Masing-masing peristiwa itu dikemas dengan bahasa yang sederhana, lugas, dan tidak bertele-tele.

Cerita dimulai dengan perjumpaan dengan kehidupan Robert Cohn. Cohn merupakan seorang petinju sekaligus penulis yang mahsyur. Ia memiliki kekasih yang bernama Frances Clyne. Perjumpaan dengan Cohn ini, dipandu oleh narator utama dalam novel, Jake Barnes. Seperti dikisahkan dalam novel, Jake adalah mantan veteran Perang Dunia I yang telah banting setir menjadi seorang jurnalis di Kota Paris, Perancis.

Robert dan Jake merupakan sahabat karib. Keduanya terlibat dalam cinta segitiga dengan perempuan bernama Brett Ashley. Alih-alih terbalas. Cinta keduanya terpaksa harus kandas lantaran Brett lebih memilih untuk menikahi Mike Campbell, seorang veteran asal Skotlandia.

Kabar pernikahan disampaikan langsung oleh Brett kepada Jake. Dan, ia tak masalah dengannya. Sikap berbeda justru ditunjukkan oleh Cohn. Cohn marah karena dia merasa bahwa dirinya lah yang lebih pantas untuk menikah dengan Brett.

Menyadari situasi yang semakin rumit, Jake berpamitan kepada Brett untuk pergi ke San Sebastian, Spanyol. Jake menganggap keputusannya untuk meninggalkan Brett ini adalah jalan tengah bagi masalahnya dengan Brett Ashley dan Robert Cohn. Berbeda dengan Jake, Cohn justru mengajak Brett untuk keluar dari hiruk pikuk Kota Paris. Saat Cohn dan Brett tengah plesiran, datanglah pria bernama Bill Gorton di kota Paris.

Bill Gorton merupakan kawan lama Jake saat mereka masih menjadi veteran perang. Ia datang ke Paris untuk mengunjungi Jake, sekaligus mengajaknya pergi ke Pamplona, Spanyol. Jake yang juga ingin mangkat ke Spanyol, tentu saja mengiyakan saja ajakan itu. Bahkan ia berencana mengajak Cohn untuk turut serta.

Rencana itu berhasil. Pada akhirnya Jake, Bill, dan Cohn bersama-sama pergi ke Spanyol. Sesampainya di Spanyol, ketiganya menunggu kedatangan Brett pada suatu malam. Naasnya, Brett tak kunjung muncul. Jake dan Bill memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Pamplona untuk menghadiri festival, sementara Cohn memilih menunggu kedatangan Brett di Burguette.

Saat di Pamplona, Bill dan Jake banyak menghabiskan waktu untuk bermain dan mabuk-mabukan. Hal itu membuat Jake perlahan mampu melupakan masalah-masalahnya yang begitu rumit. Hingga tiba saat di mana Jake menerima surat dari Mike. Dalam surat itu, Mike menulis jika tak lama lagi ia akan pergi ke Pamplona bersama Brett.

Jake dan Bill bertemu dengan Mike Brett serta Cohn ketika mereka sedang menonton adu banteng di Pamplona. Dalam pertemuan itu, Mike meluapkan amarahnya kepada Cohn. Ia mengolok-ngolok Cohn atas sikapnya terhadap Brett. Peristiwa ini sekaligus menjadi awal munculnya konflik di antara mereka.

Selang beberapa hari setelah kejadian itu, festival di kota Pamplona pun dimulai. Kota itu mendadak menjadi pusat keramaian dengan pesta pora yang diadakan setiap harinya. Pengunjung pesta akan dimanjakan dengan berbagai tarian, minuman, hingga festival adu banteng. Di titik ini, Jake dan kawan-kawannya banyak menghabiskan waktu untuk minum-minum dan menonton adu banteng.

Di sela-sela aktivitas itu, Jake dan Brett Aslhey bertemu matador muda kenamaan Romero. Brett nampaknya tertarik dengan pemuda itu. Ia meminta kepada Jake untuk mengenalkannya dengan sang matador. Jake menyanggupinya dan lantas membiarkan Brett dan Romero menghabiskan satu malam bersama-sama.

Sepulangnya dari pertemuan dengan Brett dan Romero, Jake bertemu dengan Mike dan Bill yang sedang mabuk berat. Tak lama setelahnya, Robert Cohn pun datang. Cohn menanyakan di mana persisnya keberadaan Brett. Mike yang sedang mabuk, makin mengolok-ngolok sikap Cohn yang berlebihan terhadap Brett.

Cohn yang sudah tak kuat dengan olok-olokan Mike, mendadak naik pitam. Ia melayangkan pukulan kepada Mike dan Jake. Malam itu pula, Cohn juga memukuli Romero saat ia kepergok sedang berdua dengan Brett. Konflik diakhiri dengan penyesalan Cohn terhadap apa yang sudah ia lakukan. Pada akhirnya, pria yang memenangkan hati dan kehidupan Brett hanya Romero seorang.

Baca Juga : Sang Guru Piano, Elfriede Jelinek

Sekilas, The Sun Also Rises bisa dikategorikan sebagai novel yang cukup kompleks. Di setiap babnya ada nuansa keterasingan dan rasa frustasi yang begitu pekat. Nuansa-nuansa itu terselip dalam interaksi antar karakter yang ada di dalamnya. Tema tentang kehidupan harian, membuat novel ini berpotensi memunculkan ragam interpretasi dari kalangan pembaca.

Hemingway tidak hanya menjabarkan betapa rumitnya hubungan percintaan. Lebih dari itu, ia juga mengkritik sekaligus mengajak pembaca untuk merenungkan segi-segi kehidupan. Termasuk juga, mengenalkan corrida de toros, atau adu banteng sebagai kebudayaan asli orang Spanyol. Keseluruhannya diulas oleh Hemingway secara apik dengan bahasa yang sederhana dan lugas. Pada tahun 1957, The Sun Also Rises diangkat ke layar lebar dengan judul yang sama.

***


Kredit Foto : Dokumen Pribadi


Judul Buku : The Sun Also Rises

Penulis : Ernest Hemingway

Penerbit : Papyrus Publishing

Tebal : 340 halaman

One comment