Mengeksplorasi Ide Perubahan Sosial Para Pesohor Dunia

Posted by

Kredit Ilustrasi : The Gramineous Bicycle, Max Ernst, 1921 (www.famous-painters.org)


Kehidupan adalah sebenar-benarnya pameran seni. Kepingan peristiwa, baik berupa kejadian menyenangkan atau memilukan, tak ubahnya sebuah rentetan karya. Setiap manusia adalah pengunjung yang dihadapkan dengan dua pilihan antara menjadi sekadar penikmat, atau seorang kritikus.

Buku ‘Rebel Notes : Catatan Seniman Pemberontak’ ini menunjukkan bagaimana seorang seniman menjadi penikmat sekaligus kritikus terhadap lintasan peristiwa yang ada. Buku ini, berisi kumpulan catatan seniman avant-garde paling berpengaruh di dunia. Kurang lebih ada 16 catatan dan nama seniman tersohor dari berbagai cabang kesenian yang dicatut dalam buku ini.

Pada cabang seni musik, kita akan ditemukan dengan nama musisi ternama dunia seperti, John Lennon, Bob Dylan, Kurt Cobain, Bob Marley, Jim Morisson, Elvis Presley, Bono Vox, Thom Yorke dan Yoko Ono. Dari cabang seni penyutradaraan dan bermain peran, kita akan berjumpa dengan nama-nama seperti Marlyn Monroe, James Dean, Steven Spielberg, Oliver Stoner hingga Andy Warholl. Di cabang seni dua dimensi seperti grafiti atau lukisan, kita akan ditemukan dengan catatan milik Jean Michel Basquiat dan Pablo Picasso.

Baca Juga : Sang Guru Piano, Elfriede Jelinek

Masing-masing catatan mempersoalkan peristiwa besar yang terjadi di abad ke-20. Seperti perang dunia, politik apartheid, menohoknya sistem ekonomi dunia, hingga bagaimana cara kerja industri hiburan. Kekuatan buku ini terletak pada bagaimana karya-karya seniman tersohor ditafsirkan oleh empunya sendiri.

Lewat catatan bertajuk ‘Aku Menjadi Bintang Karena Tekanan’, kita akan mengetahui bahwa John Lennon menciptakan lagu kontroversial seperti ‘Imagine’, atau ‘Working Class Hero’ bukan sebatas untuk tujuan komersil. Melainkan John ingin mengungkap kekerasan sistemik oleh aparatus negara, agama dan keluarga. Melalui catatan ‘Menghisap Ganja Bersama Tuhan’ milik Bob Marley, kita akan tahu bahwa Bob Marley menyebut ‘rastafari’ sebagai sebagai cara hidup orang kulit hitam. Tujuan rastafari adalah untuk mempersatukan orang kulit hitam dan membebaskan mereka dari ketertindasan.

Di bagian yang lain, pembaca akan dipertemukan dengan fakta bahwa pembentukan DATA (Debt, AIDS, Trade In Africa) oleh Bono Vox didasari kemuakan Bono atas sistem hutang internasional. Melalui buku ini juga kita akan mengetahui bahwa Thom Yorke, seorang vokalis band alternatif Radiohead, pernah menulis risalah tentang ironi globalisasi dan pentingnya aktivisme politik. Atau, gagasan Yoko Ono tentang revolusi feminin sebagai respon atas kegagalan laki-laki dalam menjalankan dunia.

Membaca buku ‘Rebel Notes : Catatan Seniman Pemberontak’ sejatinya adalah membaca cara seniman menafsirkan dunia, sekaligus bagaimana mereka berusaha merubahnya. Tak heran jika buku ini kerap disebut sebagai buku yang mengeksplorasi ide progresif dari seniman tersohor dunia. Membaca buku ini sama saja menghidupkan ide seni dan perubahan sosial yang sebetulnya sudah lama menjadi perdebatan dalam kajian estetika terdahulu.

Penulis buku ‘Sejarah Estetika’, Martin Suryajaya dalam artikelnya yang bertajuk ‘Dorongan ke Arah Estetika Partisipatoris’ di laman IndoProgress, menyebut tema seni dan ide perubahan sosial sudah menjadi perdebatan di era Yunani Klasik, sekitar 500-300 SM. Saat itu sebuah karya seni yang baik, adalah karya seni yang berorientasi pada perubahan sosial. Tradisi ini berlangsung hingga zaman Renaisans pada abad ke-16.

Ide seni dan perubahan mulai mengalami pembongkaran pada zaman Romantik abad ke-18 dan 19. Di zaman itu, muncul gagasan untuk mengotonomisasi karya seni dari aspek kegunaannya, termasuk sebagai sarana untuk merubah tatanan sosial. Semua kepentingan yang ada dalam karya seni, termasuk ide tentang perubahan dianggap sebagai ihwal yang ‘asing’.

Sejak saat itu, munculah tradisi estetika yang disebut oleh Martin sebagai tradisi estetika modernis. Tegangan dalam tradisi estetika modernis mencakup tiga aspek, yakni antara keindahan dan kegunaan, bentuk dan isi, hingga otonomi seni dan keberpihakan seni. Dalam konteks sejarah kebudayaan di Indonesia, tegangan tersebut antara bisa dijumpai dalam sejarah polemik kebudayaan yang bermuara pada pertentangan ideologis antara Manikebu dan Lekra.

Baca Juga : Marxisme Otonomis : Sejarah dan Perjuangannya

Di abad ke-20, jejak sejarah tentang pertalian antara seni dan ide perubahan sosial milik seniman dunia nampaknya bisa ditelusuri lewat buku ini. Seniman progresif adalah seseorang yang dalam karya-karyanya memiliki semangat untuk menggalakkan perubahan sosial.

Tak banyak kekurangan yang ada dalam buku ini. Sebab, catatan seniman yang dalam buku ini murni dihimpun langsung dari sumber terpercaya. Hanya, buku ‘Rebel Notes : Catatan Seniman Pemberontak’, agaknya memiliki masalah yang sama dengan buku terjemahan pada umumnya. Bahwa, dalam buku ini terdapat susunan kalimat yang sulit untuk dipahami.

Kendati begitu, kekurangan yang ada sama sekali tidak mereduksi tujuan daripada penyusunan buku ini. Lebih dari itu, di tengah situasi dunia yang banyak dirundung krisis seperti sekarang ini, kemunculan seniman progresif dengan ide perubahan sosialnya amatlah dibutuhkan. Mengulang kalimat yang dicetak tebal di sampul belakang buku ini:

“Seniman progresif di seluruh dunia, bersatulah !”

***


Kredit Foto : www.berdikaribook.red


Judul Buku : Rebel Notes : Catatan SenPenerbit : Katalikaiman Pemberontak

Penulis : John Lennon, dkk

Penerjemah : Adhe Maruf

Penerbit : Katalika

Tebal : i-xxiv + 160