Sang Guru Piano, Elfriede Jelinek

Posted by

Kredit Ilustrasi : Zine Ndasmu Vol. 7 ‘AGONY’


Keberadaan keluarga sangat penting bagi seorang individu. Di mana keluarga merupakan salah satu entitas yang berperan mendukung perkembangan individu, selain sekolah dan lingkungan sosial masyarakat. Oleh sebab itu, pola asuh menjadi ihwal yang sangat penting untuk diperhatikan. Khususnya oleh kalangan orang tua.

Sayangnya, disadari atau tidak, kalangan orang tua dalam pola asuhnya kerap menjalankan pola asuh toxic parent. Atau yang lebih dikenal dengan pola asuh buruk dari orang tua. Alih-alih berperan menjadi pendukung. Keluarga di bawah pola asuh toxic parent, justru berpotensi menghancurkan perkembangan mental individu. Pertanyaannya, bagaimana toxic parent bekerja dan dampaknya terhadap mental individu?

Die Klavierspierin yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia menjadi ‘Sang Guru Piano’ merupakan salah satu novel yang paling tidak menggambarkan bagaimana toxic parent bekerja berikut dampaknya yang merusak terhadap kehidupan individu. Novel ini bercerita tentang kisah hidup Erika Kohut. Seorang profesor musik sekaligus guru piano asal konservatori Wina yang hidup dalam pola asuh dominan-submisif dari sang ibu. Itu dimulai sejak ayahnya pensiun dan Erika terpaksa menjadi tulang punggung keluarga.

Di usianya yang menginjak tiga puluhan, sang ibu masih mengontrol keseluruhan hidup Erika. Mulai dari aktivitasnya, caranya berpakaiannya sampai siapa saja yang berhak berteman dengannya. Erika Kohut sangat ingin menentang ibunya. Namun saat ia melakukannya, sang ibu selalu berhasil menciptakan rasa bersalah pada diri Erika. Hingga perlahan ia menyadari jika melawan ibunya adalah kesia-siaan.

Baca Juga : Marxisme Otonomis : Sejarah dan Perjuangannya

Bersamaan dengan itu, Erika kian tumbuh menjadi seorang individu yang pasif. Daripada mengajukan aspirasinya kepada sang ibu, Erika lebih memilih untuk menghindari sang ibu dengan berlindung di balik kamar pribadinya. Sebabnya ia meyakini jika kontrol sang ibu yang mencakup keseluruhan isi apartemen, tidak berlaku di kamar pribadinya. Kendati bisa menghindar dari kontrol sang ibu, Erika tidak benar-benar bisa menghindar dari hasrat pribadi yang selama ini terbelenggu oleh kontrol sang ibu.

Saat mengajar dalam kelas, Erika cenderung menyalurkan hasrat untuk mendominasi kelas. Ia membeli baju hanya untuk dilihat-lihat di kamar. Erika juga sering pergi ke lokalisasi hanya untuk menuruti hasrat yang haus akan hal-hal yang berkaitan dengan aktivitas seksual. Saat hasrat itu tak tersalur sepenuhnya, tak jarang Erika melakukan self harm atau perbuatan menyakiti diri sendiri dengan silet atau jarum.

Kehidupan Erika mulai berubah jauh lebih baik ketika ia jatuh cinta kepada seorang pria. Pria itu bernama Walter Klemmer. Ia tidak lain adalah muridnya di sekolah. Setiap hari, Erika merias dirinya untuk membuat muridnya itu tertarik. Perasaan itu berbalas, Walter Klemmer juga diam-diam memperhatikan gurunya itu.

Klemmer sangat berambisi untuk menakhlukkan sang guru. Akan tetapi, identitas yang melekat padanya selalu piawai dalam menciptakan jarak antara dirinya dengan Erika. Dalam keberjarakannya itu, Klemmer hanya bisa berfantasi dengan sosok Erika di dalam pikirannya. Persis seperti Erika saat berusaha berfantasi dengan hasratnya yang terbelenggu.

Klemmer adalah Erika dalam bentuknya yang berbeda. Ketimbang menjadi seorang yang pasif, Klemmer berkali-kali menginginkan agar ia bisa menakhlukkan sang guru. Apa yang terjadi dengan Walter Klemmer sangat kontras dengan apa yang diharapkan Erika dalam konteks hubungan di antara mereka.

Erika sangat berharap agar cinta yang tumbuh di antara dirinya dengan Klemmer, tidak seperti cinta yang didapat dari sang ibu. Cinta yang selama ini hanya digunakan oleh ibunya untuk mengontrol sekaligus menghukumnya dengan kekerasan. Untuk menyatakan harapannya itu, Erika menuliskan surat kepada Klemmer. Surat itu sendiri berisi perintah agar Klemmer memperlakukannya dengan kekerasan. Persis dengan apa yang dilakukan ibunya.

Sayangnya, belakangan terkuak jika apa Erika tulis dalam surat itu hanyalah metafor untuk menggambarkan perilaku sang ibu kepadanya. Karena itu, ia menyarankan agar Klemmer membaca dan memikirkannya baik-baik. Naas, hal itu sama sekali tidak dilakukan oleh Klemmer. Jarak yang tercipta antara dirinya dengan Erika, telah membuat Klemmer kebakaran jenggot.

Perasaan cintanya berubah menjadi hasrat untuk menguasai. Setelah tuntas membaca isi surat itu, Klemmer lantas menuruti semua kemauan Erika dalam suratnya. Ia mengumpat, memukul sang guru tepat di hadapan ibunya. Satu-satunya orang yang sebelumnya merasa paling berhak melakukan hal semacam pada Erika. Peristiwa itu sekaligus mengakhiri kisah hidup Erika yang pilu.

Baca Juga : Sidoarjo dalam Potret

Membaca kisah hidup Erika Kohut, kita jadi memahami jika tindakan toxic parent tidak hanya berdampak pada mental individu. Mental individu yang terlanjur tertekan akibat toxic parent, ternyata sangat mempengaruhi pola interaksi individu dengan lingkungan sosial yang lebih besar. Kecenderungan ini bisa dilihat dari perilaku keseharian Erika. Dalam kesehariannya, Erika tumbuh menjadi perempuan yang terjebak dalam dikotomi manusia sebagai subjek yang aktif dan objek yang pasif secara bersamaan.

Erika mewujud menjadi sosok sang ibu yang cenderung dominan saat ia berhadapan dengan siswanya di dalam kelas. Sangat kontras dengan bagaimana sikap Erika yang pasif dan nihil aspirasi seperti saat ia berhadapan dengan sang ibu di apartemen. Erika berhasil menciptakan mayoritas siswanya sebagai replika dirinya yang terobjektifikasi dan tersiksa akibat dominasi peran sang ibu. Akan tetapi, ia gagal untuk mengekspresikan dirinya dalam konteks hubungannya dengan Klemmer.

Erika gagal menebak hasrat terpendam dari seorang Walter Klemmer. Padahal hasrat untuk mendominasi Erika sudah jauh-jauh hari ditunjukkan oleh Klemmer. Saat berada di dalam kelas semisal. Klemmer sangat aktif melawan dominasi Erika. Kecenderungan itu bisa dilihat dari perdebatan antara Erika dan Klemmer dalam beberapa kesempatan, terutama saat mereka membahas tentang seni.

Klemmer adalah Erika yang lain. Dengan hasrat dan penyaluran yang terpendam. Lantas meledak akibat jarak. Saat Erika menyadarinya, ia sudah terlambat. Seperti yang digambarkan Jelinek di ujung cerita, jubah cinta dalam hati Klemmer sudah terlepas dari tubuhnya. Dan yang tersisa hanyalah hasrat untuk menguasai dan mengobjektifikasi Erika.

Pelajaran lain yang bisa diambil di bagian ini ialah bahwa jarak sangat mempengaruhi bagaimana ia mengaktualisasikan hasrat mereka. Sang ibu, ingin Erika bahagia. Akibat adanya jarak antara dirinya dan Erika, sang ibu justru mengaktualisasikan hasratnya itu dengan cara yang salah. Yakni dengan mengontrol Erika secara penuh. Pola asuh yang justru membuat kejiwaan Erika menjadi tertindas dan tertekan.

Obat dari keberjarakan itu, malah ditunjukkan oleh seorang Walter Klemmer. Klemmer sangat menginginkan agar ia dan gurunya itu bisa berbicara dari hati ke hati. Sayangnya, metode ini kontras dengan upaya Erika yang terkesan memilih untuk membangun dinding pembatas di antara mereka. Erika menolak hasrat Klemmer dan lebih memilih untuk mengirimkan surat berisi metafora yang tak lazim. Alhasil, perasaan cinta yang ada dalam diri Klemmer berubah menjadi cinta dalam bentuknya yang antagonistik.

Novel ini bukan kategori novel yang ringan dibaca. Selain tidak memuat dialog, alur cerita yang melompat-lompat kerap menyulitkan pembaca untuk memahami cerita. Dari segi kebahasaan, novel ini pun jauh dari gambaran kita yang terbiasa membaca karya sastra Melayu. Sebagaimana ditulis Ayu Utami dalam catatan editorialnya, Jelinek cenderung menggunakan kata-kata keras, instruktif dan sinis ketimbang menggunakan kata berbau lirisis seperti karya sastra Melayu pada umumnya.

Alih-alih menjadi kekurangan. Teknik pemilihan kata yang digunakan oleh Jelinek, menurut saya justru menjadi instrumen pendukung untuk membangun suasana dingin dalam keseluruhan isi cerita. Menciptakan keunikan yang tak jarang membuat pembaca mengernyitkan dahi. Terutama saat membaca bagian cerita yang mengeksplorasi kekerasan dan fantasi seksual.

Tak heran jika pada tahun 2004, Elfriede Jelinek memenangkan Nobel Sastra dari Yayasan Nobel di Stockholm, Swedia. Karyanya Die Klavierspierin atau Sang Guru Piano ini telah telah diangkat ke layar lebar dengan judul yang sama. Film ini juga telah mengantongi penghargaan dari Festival Film Cannes pada tahun 2001.

***


Kredit Foto : Berdikari Book

Judul : Sang Guru Piano
Penulis : Elfriede Jelinek
Penerbit : Penerbit. KPG
Tebal : 296 halaman
ISBN : 978-979-91-1081-7