Marxisme Otonomis : Sejarah dan Perjuangannya

Posted by

Kredit Ilustrasi : SC Rumaka


Pada poin terakhir dalam tesisnya tentang Feurbach, Marx menulis, ‘para ahli filsafat hanya telah menafsirkan dunia dengan berbagai cara, akan tetapi soalnya ialah mengubahnya’. Poin ini selain menandaskan sisi revolusioner dari materialisme Marx, juga kerap digunakan sebagai pijakan oleh para intelektual Marxis untuk menafsir sekaligus mengubah dunia melalui praktik-praktik revolusioner. Tak heran jika pasca Marx, diskursus mengenai Marxisme terus menuai perkembangan dan menghasilkan berbagai cabang pemikiran Marxis.

Marxisme Otonomis menjadi salah satu cabang analisa Marxis yang lahir dengan semangat yang sama. Kelahirannya tidak bisa dipisahkan dari gerakan otonomia yang muncul di pabrik-pabrik Italia pada dekade 1950 sampai 1960-an. Saat itu tengah terjadi protes kelas pekerja dalam berbagai model. Mulai dari mencuri di tempat kerja, bekerja secara lambat, melakukan sabotase mesin, sampai pendudukan dan pengambilalihan pabrik.

Baca Juga : Sidoarjo dalam Potret

Protes ini kemudian menyita perhatian intelektual otonomia seperti Mario Tronti, Bifo Berrardi, Paulo Virno, Sergio Bologna, dan Antonio Negri. Mereka membangun kritik dan diskusi, saling bertukar ide dan taktik yang hendak diujicobakan untuk menandingi perkembangan kapitalisme abad ke-20. Ide-ide Marxis Otonomis disebarkan secara terbatas. Sebab di saat yang sama, gerakan otonomia juga tengah berhadapan dengan ancaman represi negara di bawah pemerintahan rejim Partai Komunis Italia.

Analisa dan Tujuan Marxisme Otonomis

“Otonomia memang unik. Ia keluar dari posisi biner perdebatan anti-kapitalisme yang sebelumnya berputar di dua poros: Leninisme dan segala variannya di satu sisi, serta anarkisme. Ia menyerap berbagai keunggulan dari bermacam tendensi dan faksi anti kapitalisme yang terserak macam tai saat perutmu dihajar mencret”

Andre Barahamin ‘Marxisme : Musto’.

Seperti yang ditulis oleh kawan Rikki, lahirnya Marxis Otonomis tidak bisa dilepaskan dari etos ‘operaismo’ atau ‘buruh-isme’ yang dibawa oleh gerakan otonomia. Etos ini yang kemudian menjadi pijakan analisis sekaligus pembeda antara kalangan Marxis Otonomis dan ortodoksi Marxis secara teoritik. Kalangan Marxis Otonomis menganggap, jika perkembangan kapitalisme tidak lain adalah bentuk ekspresi dari kapitalisme untuk melawan resistensi dari kelas pekerja. Anggapan ini sangat berbeda dengan kalangan ortodoksi Marxis yang selama ini menganggap perkembangan kapitalisme dimungkinkan jika terdapat kontradiksi dalam dirinya sendiri.

Persinggungan ini yang dominan menyebabkan analisis dan aksi politik dari kalangan Marxis Otonomis dan Marxis Ortodoks. Kalangan Marxis Otonomis cenderung menjadikan ‘kekuatan kelas pekerja’ sebagai subjek dalam agenda revolusi. Sebaliknya, kalangan Marxis Ortodoks yang selama ini menggunakan ‘kapitalisme’ sebagai subjek.

Seorang aktivis Marxis sekaligus pengkaji gerakan otonomia, Herry Claver mengatakan, “hanya dengan memahami kekuatan kita, kita dapat menentukan langkah apa yang akan kita lakukan berikutnya”. Dengan kata lain, perubahan melampaui kapital hanya dimungkinkan bila kelas pekerja mengenali potensinya. Dalam hal ini, kalangan Marxis Otonomis lebih tertarik untuk merumuskan lompatan perubahan yang diinisiasi oleh kelas pekerja, ketimbang sekadar menganalisa perkembangan kapitalisme, berikut menyusun agenda kelas pekerja untuk menyesuaikan diri.

Karena itu, dalam tradisi Marxisme Otonomis, kekuatan revolusioner dari kalangan ploletariat kembali diperiksa dan dimaknai ulang. Kelas pekerja ‘tidak’ hanya mereka yang sedang berada dalam pabrik-pabrik. Melainkan mereka yang secara tidak langsung masuk dalam praktik reproduksi kapital seperti buruh tani, kelas terpelajar, masyarakat adat dan seterusnya. Selain memperluas mobilisasi swadaya, aksi ini bertujuan untuk merealisasikan keragaman eksistensi dari subjek-subjek yang terlibat (hlm 5).

Secara garis besar, kalangan Marxis Otonomis memiliki tujuan untuk menolak pemberhalaan kerja di bawah kendali kapitalisme. Karenanya, kalangan Marxis Otonomis menuntut pengurangan jam kerja dan perbaikan etos kerja di bawah kapitalisme. Apabila kerja-kerja di bawah kapitalisme selama ini mengalienasikan manusia, maka  kalangan Marxis Otonomis mengajukan ‘kerja yang tidak teralienasi’ sebagai kritik terhadap praktik ini. Sebab mereka meyakini jika ‘kerja yang tidak teralienasi’ adalah titik tertinggi dari eksistensi manusia (hlm 15).

Tinjauan

Saya kira, uraian panjang lebar dari kawan Rikki yang ada dalam buku saku ini sudah memenuhi kriteria sebagai pengantar untuk mengenal apa itu Marxisme Otonomis. Penjelasannya yang tidak berbelit-belit sangat memudahkan pembaca untuk memahami pokok-pokok ajaran Marxisme Otonomis. Lebih dari itu, buku saku ini juga menyertakan glosarium di halaman paling belakang. Sehingga sangat memudahkan pembaca dalam memahami kata-kata sulit yang ada dalam buku.

Gagasan Marxisme Otonomis penting untuk dibaca oleh kalangan intelektual Marxis pada umumnya. Sebab, gagasan ini memiliki warisan yang cukup relevan dengan perkembangan kapitalisme kontemporer. Ada pun warisan kalangan Marxis Otonomis yakni konsep pekerja imaterial dan pekerja otonom.

Baca Juga : Asal-Usul Genre Karya Sastra Arus Utama

Seorang intelektual Marxis, Antonio Negri dalam teorinya mengenai pekerja imaterial membahas tentang komodifikasi kegiatan kognitif, afektif dan kreatif melalui peran internet dan otomatisasi industri. Sergio Bologna, dengan teorinya mengenai pekerja otonom, banyak mempengaruhi perkembangan apa yang sering kita sebut sebagai prekariat atau pekerja rentan. Analisa ini memiliki relevansi dengan perkembangan menuju kapitalisme post-industrial. Di mana dalam produksinya, ia mengharuskan komodifikasi data lewat kerja-kerja immaterial. Modus produksi ini terangkum dalam apa yang kita sebut sebagai revolusi teknologi 4.0.

Dalam esainya ‘The Common Before Power : An Example’, Antonio Negri menulis, jika setiap proposal politik yang bertujuan merusak sistem kapitalis, musti memuat transformasi modus produksi. Oleh sebab itu, Negri mengajukan alternatif berupa valorisasi mandiri (self valorization). Dalam analisisnya soal valorisasi mandiri, Negri menyatakan jika perjuangan kelas pekerja tidak semata-mata untuk menghadapi kekuatan kapital saja. Melainkan juga untuk menciptakan berbagai bentuk realisasi diri.

Pengertian valorisasi mandiri yang diajukan Antonio Negri jauh berbeda dengan valorisasi mandiri versi sosialisme utopis dan komunis pada umumnya. Bagi Negri, valorisasi mandiri hanya bisa dicapai dengan membebaskan tenaga kerja dari bentuk komodifikasi untuk mengganggu sirkuit nilai tukar. Karena itu menurut Negri, kita tidak hanya diwajibkan untuk memahami soal apa yang membuat kita terikat pada modal. Melainkan juga harus memahami bagaimana kita terikat pada modal sebelum kita mencoba menghapusnya dari mode produksi kapitalis.

Negri berpendapat jika sabotase atas mode produksi kapitalis merupakan salah satu upaya valorisasi mandiri. Untuk mencapainya, kelas pekerja musti memusatkan kekuatan menuju zero work melalui penolakan terhadap kerja yang ada di bawah kendali kapitalisme. Selain menciptakan waktu mati pada modal, aksi zero work ini juga bertujuan untuk menciptakan waktu luang bagi kelas pekerja. Melalui waktu luang, kelas pekerja akan lebih bebas untuk merealisasikan diri dengan kerja-kerja otonom, alih-alih kerja untuk menyokong produktivitas kapitalis. Dengan demikian bisa disimpulkan jika valorisasi mandiri versi Negri mencakup valorisasi mandiri atas kerja di bawah kapital dan valorisasi mandiri atas kerja otonom dari kelas pekerja.

Gagasan yang diajukan oleh kalangan Marxis Otonomis tentu belum bersifat final secara teoritis. Menurut saya, kalangan Marxis pada umumnya musti membaca dan mendiskusikannya ulang secara metodologis melalui pembacaan kritis terhadap pemikiran Marx.

***


Referensi :

1. Marx Kalr. 1845. Tesis Tentang Feurbach; marxist.org :
https://www.marxists.org/indonesia/archive/marx-engels/1845/tesis-feuerbach.htm

2. Barahamin Andre. 2015. ‘Marxisme : Musto’; marcellomusto.org:
https://www.marcellomusto.org/marxisme-musto-andrebarahamin-com-11-december-2015/536

3. Negri Antonio. 2017. ‘The Common Before Power: An Example’; e-flux journals :
https://www.e-flux.com/journal/87/169460/the-common-before-power-an-example/

4. Gabriel R. Valle. ‘Time and Self-Valorization Freedom from Work Through Work, an EJ Perspective on Work, Capital, and the
Environment” (March 15, 2012). National Association for Chicana and Chicano Studies Annual Conference. Paper 19 :

http://scholarworks.sjsu.edu/naccs/2012/Proceedings/19


*UNDUH buku saku Rikki H. ‘Marxisme Otonomis : Makhluk Apalagi itu?’ DI SINI.