Lapindo : Antara Wisata dan Bencana

Posted by

Kredit Foto : Dokumen Pribadi


Malam itu kondisinya hujan deras. Saya yang sedang dalam perjalanan menuju Kota Sidoarjo, lupa tidak membawa jas hujan. Alhasil saya terpaksa melipir untuk menunggu hujan reda. Saya berhenti di sebuah toko yang sedang tutup bersama abang tukang bakso yang kebetulan bernasib sama dengan saya.

Karangploso yang semakin dingin akibat hujan perlahan membikin perut saya lapar. Tak mau repot, saya lantas memesan semangkok bakso pada abang penjual bakso yang sedari tadi berada di samping saya. Bersamaan dengan itu, kami mulai terlibat dalam obrolan kecil.

Ia menanyakan tujuan saya. Mungkin heran dengan barang bawaan saya yang begitu banyak. Dan saya jawab jika saya sedang dalam perjalanan pulang kampung ke Kota Sidoarjo. Beliau antusias dan lanjut menimpali jawaban saya itu dengan pertanyaan di mana persisnya lokasi kediaman saya.

Baca Juga : Semua Ini ‘Pernah Baru’, Mereka Hanya Dilamakan oleh Kebaruan yang Mencurigakan

Saya menjawab pertanyaan itu dengan menyebut nama kecamatan tempat saya tinggal. Beliau mendadak tertawa lanjut mengatakan jika dia merupakan orang Sidoarjo. Tepatnya orang Porong. Beberapa tahun yang lalu, ia pindah ke Kota Malang lantaran rumahnya telah karam oleh bencana lumpur panas Lapindo.

‘Hari-hari yang memilukan’, mungkin kalimat itu yang bisa mewakili kesan dari apa yang ia ceritakan malam itu. Rumahnya yang begitu dekat dengan pusat semburan lumpur, membuatnya menjadi saksi bagaimana ini meluluh-lantahkan kehidupannya. Cerita itu dimulai dengan ledakan dahsyat yang menghasilkan korban jiwa, menjerumuskannya dalam ketidakpastian hidup lainnya.

Saya mendengar cerita itu sambil menyantap bakso yang ada di pangkuan saya. Sesekali, abang tukang bakso terlihat bercerita sambil melamun. Ia sedang mencoba mengingat hari-hari paling berat itu. Saat ia harus mengungsi ke rumah saudara. Berpindah dari satu tempat ke tempat lain dan akhirnya menetap di Kota Malang.

Sejak malam itu, saya tidak pernah lagi melewati Jalan Raya Porong. Jalan pantura yang bersebelahan langsung dengan tanggul lumpur panas Lapindo. Selain karena bau gas yang cukup mengganggu, saya kerap teringat cerita pilu dari abang tukang bakso itu. Saya ingin berkata, jika saya kerap mendapati jalan, rumah-rumah tak berpenghuni, dan tanggul lumpur yang berada di sepanjang jalan itu berbicara tentang penderitaan yang sama.

Dua tahun berselang. Setelah sekian lamanya saya berjarak dengan lokasi bencana ini, tiba saat di mana saya harus kembali menuju tempat itu. Namun kali ini bukan hanya sekadar menyusuri Jalan Raya Porong saja. Melainkan mengeksplorasi lokasi bencana lumpur panas Lapindo dengan naik ke tanggul yang tingginya sudah melampaui tiang listrik itu. Rencana itu lahir dari niat baik kawan saya yang ingin meringkas sejarah lumpur panas Lapindo dan mendokumentasikan kondisi aktualnya melalui video dokumenter. Alih-alih sekadar plesiran.

Kami memasuki lokasi dengan menggunakan sepeda motor pribadi. Menyusuri bibir tanggul yang kini ditumbuhi rerumputan. Tak banyak yang bisa kita saksikan, selain kubangan air dengan rumah-rumah penduduk yang sudah rusak, alat pepompa air, pipa besi dan beberapa jenis alat berat yang jumlahnya ada banyak sekali. Saya semakin teringat akan cerita pilu abang tukang bakso dua tahun silam.


Kredit Foto : Dokumen Pribadi


Sesekali kami berhenti untuk mengabadikan kondisi terkini dari lumpur Lapindo dalam foto mau pun video. Karena masih pagi, kami dengan mudah berjumpa dengan orang-orang yang kebetulan berada di lokasi yang sama. Ada yang berolah raga dengan lari-lari kecil atau bersepeda memutari tanggul. Ada juga yang berkunjung, murni untuk plesiran. Kelihatan dari laku mereka yang lebih sibuk mengambil foto diri.

Pertanyaannya, apakah orang-orang itu menikmati pemandangan semacam?

Saya iseng membuka Instagram untuk melihat semua postingan yang tertaut pada tagar maupun lokasi lumpur panas Lapindo. Hasilnya, ada banyak sekali. Namun alih-alih menggunakan tagar yang memperingati lumpur panas Lapindo sebagai ‘bencana’, kebanyakan foto yang saya temui justru mengeksplorasi daya jual lumpur panas Lapindo sebagai ikon ‘wisata’ di Kabupaten Sidoarjo.

Lapindo tidak lagi dilihat sebagai bencana tak berkesudahan yang diiringi cerita pilu para penyintas dan potensinya dalam menciptakan bencana yang lebih besar. Persis dengan apa yang diharapkan oleh Bupati Sidoarjo, Saiful Ilah dalam pernyataannya ketika lumpur panas Lapindo memenangkan juara tiga dalam ajang Anugerah Pesona Indonesia Award (AIPA) pada tahun 2017. Bahwa adanya penghargaan ini sekaligus menginformasikan jika lumpur panas Lapindo bukan lagi sesuatu yang mengerikan.

‘Cheap holiday in other peoples misery’ yang merupakan lirik pembukaan pada lagu ‘Holiday In The Sun’ karya Sex Pistols barangkali cukup mewakili interpretasi saya akan perubahan ini. Dengan harga murah, kita bisa menikmati bencana lumpur panas Lapindo yang kini sudah masuk dalam daftar ‘dark tourism’. Mengeksplorasi keindahan ilusif yang terkesan menutupi kenyataan bagaimana bencana ini telah menjerumuskan para penyintas dalam kubangan derita.

Tahun ini adalah tahun ke-14 bagi bencana lumpur panas Lapindo, terhitung sejak bencana ini meletus pertama kalinya pada 29 Mei 2006. Sejak tahun 2011, hari itu diperingati sebagai Hari Anti Tambang (HATAM) oleh organisasi bernama Jaringan Advokasi Tambang (JATAM). HATAM sendiri, berangkat dari kenyataan bahwa sudah saatnya pertambangan dijadikan sebagai sejarah dalam perjalanan bangsa ini. Dengan bencana lumpur panas Lapindo sebagai salah satu potret betapa menghancurkannya dampak yang dihasilkan oleh industri tambang.

Baca Juga : Hidup Ini Sungguh Absurd, Tidak Seperti Kelihatannya

Hingga hari ini, kepulan asap dari pusat semburan masih terus mengudara. Menandakan aktivitas semburan belum berhenti. Selama ini, hanya tanggul yang ditinggikan. Tak ada upaya lain yang dapat memastikan kapan bencana ini akan berakhir. Padahal, ibarat bom, bencana ini tinggal menunggu waktu untuk meledak dan menciptakan dampak sosial-ekologis yang lebih besar.


Kredit Foto : Dokumen Pribadi


Beberapa sudah menunjukkan tanda-tandanya. Dalam aspek kesehatan, masyarakat yang masih tinggal di sekitar tanggul mulai mengidap Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) sampai ancaman infeksi saluran kencing. Di ranah lingkungan, pembuangan lumpur ke Kali Porong telah menyebabkan sungai ini mengalami pendangkalan akibat sedimentasi lumpur. Akibatnya, bencana banjir siap mengancam warga sekitar apabila musim penghujan tiba.

Kendati begitu, pemerintah pusat lewat Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) masih memberikan perpanjangan izin eksplorasi dan eksploitasi yang dilakukan oleh perusahaan Lapindo Brantas Inc. Dengan motif ekonomi yang kuat, kontrak tersebut diperpanjang hingga tahun 2040. Ironisnya, persetujuan ini terkesan abai terhadap dampak sosial-ekologis dan ganti rugi yang masih bermasalah.

Tak banyak yang bisa kita lakukan selain merawat ingat sambil bersolidaritas dalam rangka memperjuangkan keadilan bagi para penyintas. Lumpur panas Lapindo bukan situs pariwisata. Lumput panas Lapindo adalah bencana yang berpotensi melahirkan bencana. Menjadi bencana yang tak berkesudahan.

***


*CATATAN ini ditulis dalam rangka memperingati 14 tahun bencana Lumpur Panas Lapindo, Hari Anti Tambang dan Hari Lingkungan Hidup Internasional