Sidoarjo dalam Potret

Posted by

Pabrik Gula Toelangan
Kredit Foto : Jawa Pos


Sebagai seorang yang lahir di Kota Sidoarjo, tak banyak yang saya tahu tentang kota ini. Bagi saya, Kota Sidoarjo tak ubahnya kota-kota lain di Indonesia. Ia menjadi istimewa hanya karena menjadi kota kelahiran saya. Karena itu, saya jarang sekali menyoroti kota yang satu ini. Lebih-lebih setelah saya merantau di Kota Malang untuk berkuliah.

Hingga perlahan saya sadari, kota ini mengalami perubahan yang cukup besar. Jika di masa kanak-kanak, saya begitu mudah menemukan sawah, kebun dan ladang-ladang, maka kini, cukup sulit untuk menemukannya kembali. Banyak lahan sawah, kebun dan ladang yang sudah beralih menjadi pabrik, atau bisnis properti seperti perumahan atau ruko.

Perubahan drastis dengan skala yang begitu besar tersebut jelas memunculkan pertanyaan. Sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan Kota Sidoarjo? Mengapa perubahan yang terjadi begitu cepat? Kira-kira apa yang melatarbelakangi perubahan ini?

Hadirnya zine edisi ketiga terbitan kawan-kawan kolektif Sisa Kertas ini, seakan menjawab pertanyaan yang sudah diajukan di muka. Melalui salah satu esai berjudul ‘Dari Agrikultur ke Manufaktur: Perjalanan Panjang Industrialisasi di Sidoarjo Sejak 1835’ karya Ronal Rido’i — kita bisa mengetahui bahwa perubahan yang terjadi di Kota Sidoarjo menandai adanya pergeseran pola pikir masyarakat dari masyarakat agrikultural menuju masyarakat industrial.

Baca Juga : Asal-Usul Genre Karya Sastra Arus Utama

Dalam literatur Kota-Kota Pantai karya F.A Sutjipto Tjiptoatmojo yang diterbitkan oleh Universitas Gadjah Mada, sejak pertengahan abad ke-17 Kota Sidoarjo telah mengantongi identitas sebagai kota berbasis pertanian dan perikanan. Ini ditandai dengan masih banyaknya lumbung padi dan melimpahnya hasil tambak. Konon, hal itu juga yang pada akhirnya melatarbelakangi penciptaan logo Kabupaten Sidoarjo yang terdiri dari padi, tebu, ikan dan udang.

Periode ini, tulis oleh Ronal Rido’i, berlangsung sampai akhir abad ke-18. Saat di mana pola Industrialisasi belum menjamah kota ini. Perubahan menuju masyarakat industrial baru dimulai setelahnya, yakni di awal abad ke-19. Saat pemerintah kolonial Hindia-Belanda mulai menjadikan Kota Sidoarjo sebagai kawasan industri gula dengan dibangunnya pabrik gula pertama di Kota Sidoarjo pada tahun 1835 (hlm 4).

Awalnya, fokus manufakturisasi ini hanya berfokus pada produksi gula. Akan tetapi, sejak tahun 1950-an, manufakturisasi di Kota Sidoarjo mulai merembet ke sektor-sektor potensial lainnya. Mulai dari industri berat, pertambangan, kimia, kerajinan dan seterusnya. Manufakturisasi di segala sektor potensial ini membuat Kota Sidoarjo mulai dilirik oleh dunia investasi. Dan semakin didukung oleh realisasi Undang-Undang Penanaman Modal Asing (UU PMA) (hlm 5).

Baca Juga : Jam 9 Kita Bertemu, Puthut EA

Kondisi ini lambat laun berimplikasi pada ketimpangan pendapatan antara sektor industri dan agrikultur. Ronal Rido’i mengutip data Sensus Ekonomi menulis, pada tahun 2016 pendapatan Kota Sidoarjo dari sektor industri mencapai 58 trilyun. Sementara pendapatan di sektor agrikultur hanya berkisar 2,6 trilyun. Apabila kondisi ini terus berlanjut, bukan tidak mungkin masyarakat Kota Sidoarjo yang sejak awal bercorak agrikultur bergeser menjadi masyarakat bercorak industrial. Implikasi jangka panjangnya, Kota Sidoarjo bakal kehilangan jati diri sebagai kota agrikultural.

Selain menyajikan esai tentang pergeseran pola pikir masyarakat Kota Sidoarjo, zine ini juga mencantumkan esai tentang ironi lumpur panas Lapindo yang hendak disulap sebagai situs pariwisata, beberapa esai ringan, seni ilustratif dan kolase, kolom teka-teki silang, diksi embongan, sampai review buku dan film. Sangat cocok dibaca oleh semua kalangan. Khususnya yang ingin menyelami Kota Sidoarjo dalam potret masa lalu dan masa kini.

***


Informasi Zine :

Judul : Sisa Kertas Zine Issue 3

Penyusun : Kolektif Sisa Kertas

Dirilis Oleh : Kolektif Sisa Kertas

Tahun Rilis :

*UNDUH zine melalui laman Kolektif Do It Together. Klik DI SINI.

One comment