Asal-Usul Genre Karya Sastra Arus Utama

Posted by

Ilustrasi oleh M. Awaludin Yusuf. Karya-karyanya bisa dijumpai di sini.


Judul Buku : Geneologi Sastra Indonesia : Kapitalisme, Islam dan Sastra Perlawanan
Penulis : Okky Madasari
Penerbit : www.okkymadasari.net
Tahun Terbit : 2019
Tebal : vi+128 halaman

Oleh : Faris Fauzan Abdi


Dewasa ini, karya sastra Indonesia sangat didominasi oleh karya sastra bertema percintaan bernuansa agama yang berbalut motivasi dan gaya hidup hedonistik. Jumlahnya yang begitu banyak dan selalu disambut oleh instrumen pasar, membuat genre sastra semacam ini didaulat sebagai genre sastra arus utama. Kondisi ini diasumsikan oleh Okky Madasari sebagai ironi dalam dunia sastra. Sebab selain berpotensi menyeragamkan, genre karya sastra semacam itu juga cenderung apolitis terhadap situasi nasional. Padahal dalam iklim demokrasi seperti sekarang ini, pemikiran kritis terhadap kehidupan sosial-politik masyarakat amat diperlukan.

Berangkat dari keresahan tersebut, buku ini mencoba melakukan penelusuran mengenai sejarah kesusastraan di Indonesia sejak era kolonialisme, hingga era reformasi. Pertama, untuk menjawab mengapa dan bagaimana sastra bertema percintaan, keagamaan dan motivasi hidup yang hedonistik bisa mendominasi diskursus sastra kontemporer. Kedua, menemukan pengaruh otoritas politik, identitas keagamaan dan sistem ekonomi-politik kapitalisme dalam sebuah karya sastra. Pembaca akan dibuat berapi-api karena Okky menuliskannya dengan metode diskursus oleh Michel Foucault untuk memperlihatkan pertarungan antara sastra arus utama dan sastra non arus utama di zamannya. Dengan tujuan umum, agar pembaca mengetahui bahwa genre karya sastra kontemporer tidak bisa dilepaskan dari diskursus-diskursus yang terjadi sebelumnya.

Baca Juga : Jam 9 Kita Bertemu, Puthut EA

Sejarah karya sastra Indonesia di era kolonial sesungguhnya dimulai dengan terbitnya majalah Pujangga Baru pada dekade 1930-an. Saat itu, dunia kesusastraan Indonesia tengah diwarnai oleh perdebatan yang menyangkut kebudayaan Indonesia modern. Periode ini dikenal sebagai era ‘Polemik Kebudayaan‘. Sebuah era di mana para sastrawan Pujangga Baru seperti Sutan Takdir Alisjahbana, Sanusi Pane, Peorbatjaraka, Soetomo, Tjindarbumi, Adinegoro, M. Amir dan Ki Hadjar Dewantara berkumpul untuk memutuskan arah kebudayaan Indonesia. Secara umum, ide mengenai budaya yang dipilih para sastrawan Pujangga Baru ada dua macam, yakni budaya Barat atau budaya Asia Pra-Islam.

Beberapa tahun setelahnya, tepatnya pada tahun 1938, lahirlah dua novel fenomenal karya Buya Hamka. Novel tersebut antara lain ‘Di Bawah Lindungan Ka’bah‘ (1938) dan Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk (1938). Karena tidak mengandung unsur politis untuk melawan kolonialisme Belanda serta sesuai dengan semangat modernisme yang dibawa oleh kolonialisme, dua karya ini mendapat dukungan dari penerbit Balai Pustaka (penerbit milik pemerintahan kolonial). Dua novel ini sekaligus menjadi titik keberangkatan bagi lahirnya karya sastra dengan tema yang sama. Perubahan genre karya sastra menjadi karya yang nir-melodrama, sentimentil, kasar dan lugas, serta sinis terhadap realitas sosial, baru terjadi di tahun-tahun setelahnya. Tepatnya, pada rentang tahun 1942-1949. Di mana, pada saat itu Indonesia masih mengalami pendudukan oleh Jepang dan revolusi fisik untuk melawan pemerintahan kolonial Belanda.

Bebarengan dengan itu, lahir banyak sastrawan-sastrawan baru. Sastrawan-sastrawan inilah yang kelak disebut sebagai Sastrawan Gelanggang. Memasuki tahun-tahun pasca kemerdekaan RI, genre karya sastra mulai konsen terhadap hal-hal yang bersifat dogmatis. Salah satunya, agama. Para sastrawan di era ini, tidak hanya mempertanyakan ulang semua ajaran agama, melainkan juga mengkritisi berbagai tradisi keagamaan. Karya sastra yang cukup berpengaruh di era ini adalah Atheis karya Achiat Karta Mihardja (1949) dan ‘Rubuhnya Surau Kami’ karya A.A Navis (1955).

Karena kuatnya kritik yang dilancarkan, karya sastra di era ini pun menuai reaksi keras dari kalangan agamawan, khususnya dari kalangan muslim. Lima tahun sebelum terbitnya novel karya A.A Navis, tepatnya pada 17 Agustus 1950, berdiri sebuah organisasi bernama Lembaga Kebudayaan Rakjat atau Lekra. Pramoedya Ananta Toer yang baru bergabung dengan Lekra di tahun 1955 menyatakan berdirinya Lekra dilatarbelakangi oleh manuver politik Belanda pasca Konferensi Meja Bundar (KMB). Saat itu, Belanda sedang berupaya agar politik kolonialnya ini terlihat simpatik. Karena menganggap manuver ini berbahaya, Lekra lantas berusaha mendepolitisasi upaya Belanda ini dengan mengusung semangat ‘Seni Untuk Rakyat’ dan ‘Politik Sebagai Panglima’ untuk dipertentangkan dengan gagasan ‘Seni Untuk Seni’ milik Sastrawan Gelanggang yang terkesan menjunjung tinggi netralitas dalam dunia sastra, dan cenderung mengusung nilai kebarat-baratan.

Pasca pemilu tahun 1955 yang ditandai dengan menguatnya pengaruh politik Sukarno dan Partai Komunis Indonesia, posisi Lekra dalam dunia kesusastraan semakin menguat. Dengan menggunakan pendekatan realisme sosialis yang cenderung bersandar pada realitas sosial, para sastrawan Lekra tak jarang menghakimi karya-karya sastra menurut mereka tidak ilmiah. Kendati begitu, genre karya sastra revolusioner yang diusung oleh Lekra, tak kunjung mendapat pengakuan sebagai genre karya sastra arus utama. Pasalnya, ada alat ukur yang berbeda antara sastrawan Lekra dan Sastrawan Gelanggang sebagai pemegang otoritas kesusastraan Indonesia pada saat itu. Bahkan tidak jarang para kritikus Gelanggang mendakwa karya-karya sastrawan Lekra sebagai propaganda dengan mutu rendah, hanya karena adanya tolak ukur yang berbeda mengenai sastra di antara mereka.

Ketika Lekra berjaya, kondisi ini lantas berbalik. Lekra sangat agresif dalam menghantam karya sastra yang dianggap tidak sesuai dengannya. Baru pada tanggal 17 Agustus 1963, berdiri sebuah kelompok bernama Manifes Kebudayaan (Manikebu). Manikebu diusung dan ditandatangani oleh beberapa pengarang dan seniman antara lain H.B Jassin, Taufiq Ismail, Goenawan Muhammad, Leon Agusta, Arief Budiman dan lain-lain. Tujuan didirikannya Manikebu, tidak lain adalah untuk melepaskan sastra dari kepentingan politik dan merebut ruang kebebasan bagi sastrawan dan seniman.

Di tahun-tahun berikutnya, pertarungan antara Lekra dan Manikebu terus terjadi dan semakin sengit. Namun tepat di usianya yang ke lima belas tahun, lebih tepatnya pasca peristiwa G30S, Lekra dilibas habis oleh kekuasaan orde baru karena dituduh berafilasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Lekra didaulat menjadi organisasi terlarang, karya-karya sastrawan Lekra dilarang edar dan para sastrawannya termasuk Pramoedya Ananta Toer, dipenjara sebagai tahanan politik. Sejak saat itu, Manikebu dengan semangat humanisme universal yang mirip dengan para Sastrawan Gelanggang, menjadi satu-satunya otoritas tertinggi dalam dunia sastra. Humanisme universal yang meletakkan kebudayaan dunia sebagai kebudayaan nasional, pada saatnya dimanfaatkan oleh orde baru untuk menjalankan roda ekonomi yang berasaskan semangat liberal-kapitalistik (hlm 89).

Baca Juga : Review Zine ‘Kita Semua Adalah Penyintas, Kita Semua Adalah Pelaku’

Akibat sensor yang ketat dari pemerintahan rezim orde baru, karya-karya sastra di era itu berubah menjadi karya sastra yang kompromis terhadap penguasa. Karya sastra dengan nafas keagamaan yang didengungkan oleh Taufik Ismail dalam karyanya ‘Dan dari Ibu Seorang Demonstran’ dan ‘Tirani’ adalah dua karya sastra yang memperlihatkan kecenderungan itu. Taufik lewat dua karyanya ini, cenderung mengkhotbahkan agar umat Islam lebih sibuk membenahi hubungan vertikal antara dirinya dengan Tuhan daripada hubungan horizontal antara dirinya dengan penguasa. Di saat yang sama, Manikebu dengan semangat humanisme universalnya juga sedang giat-giatnya dalam membentuk diskursus dominan mengenai dunia kesusastraan melalui media cetak sastra seperti Horizon.

Melihat kondisi yang mapan ini, baru lah pada tahun 1984 salah seorang sastrawan sekaligus penandatangan Manikebu, Arief Budiman mengajukan gagasan ‘sastra kontekstual’ sebagai lawan dari ‘sastra universal’ yang diusung oleh Manikebu. Tujuannya agar karya sastra lebih kritis dan berpijak ke bumi setelah lama dibuat mengawang-awang oleh gagasan humanisme universal yang diusung oleh kelompok Manikebu. Tidak hanya itu, akibat represi orde baru tehadap kelompok Islam mendorong para sastrawan Islam untuk membangkitkan karya sastra islami pada dekade 1990-an. Terbitnya majalah Annida pada tahun 1991 dan berdirinya organisasi kepenulisan bernama FLP (Forum Lingkar Pena) pada tahun 1997 adalah dua indikator yang dipakai oleh Okky untuk menunjukkan kebangkitan sastra Islam. Sementara untuk menunjukkan kebangkitan karya sastra bertema cinta, Okky mengambil tema karya sastra pada dekade 1970-1990-an yang fokus pada isu pelemahan perempuan di ranah privat.

Menjelang keruntuhan orde baru, muncul sebuah karya sastra yang mencoba mendobrak moralitas masyarakat yang didominasi oleh diskursus sastra islam. Karya sastra itu novel berjudul Saman dan Larung karya Ayu Utami. Lewat dua karyanya ini, Ayu tidak hanya menceritakan perjuangan kisah perjuangan beberapa pemuda di era otoritarianisme orde baru. Melainkan juga, mendobrak moralitas masyarakat dengan menyodorkan karya sastra yang mengeksplorasi seksualitas dari sudut pandang perempuan.

Tema-tema yang berkaitan dengan percintaan, agama dan motivasi terus mendominasi diskursus kesusastraan pasca reformasi. Secara serentak mereka mengisahkan kehidupan kelas menengah yang berkelana di mancanegara untuk berdakwah, di satu sisi mengajarkan motivasi hidup yang hedonistik. Kalau pun menceritakan kehidupan orang miskin, para sastrawan pasca reformasi biasanya mendakwahkan bahwa hanya dengan kerja keras lah kesuksesan hidup bisa dicapai. Kecenderungan ajaran ini bisa dilihat dari novel ‘Ayat-Ayat Cinta‘ karya Habiburrahman El Shirazy dan ‘Laskar Pelangi’ karya Andrea Hirata. Karena penjualannya yang menggiurkan, dua karya sastra itu selanjutnya menjadi epigon yang terus mendominasi diskursus sastra kontemporer.

Epigonisme atau kecenderungan perilaku dalam mengikuti genre karya sastra lain, semakin terasa kuat semenjak karya sastra mulai dikomodifikasi pada dekade 1970-an. Okky berpendapat, komodifikasi ini dipengaruhi oleh perkembangan pasar perbukuan dan ketatnya sensor yang diberlakukan orde baru. Sejak saat itu, karya sastra tidak lagi mengacu pada perdebatan mengenai ideologi politik seperti yang terjadi di era Balai Pustaka, Pujangga Baru, Angkatan 45 dan Lekra. Melainkan mengacu pada segmentasi pasar untuk mengejar keuntungan sebesar-besarnya sebagaimana ajaran kapitalisme.

Buku ini adalah buku yang berhasil menjelaskan asal-usul genre karya sastra kontemporer. Dengan menggunakan metode diskursus ala Foucauldian, buku ini juga berhasil menunjukkan pertentangan antara karya sastra arus utama dengan non-arus utama telah terjadi sejak era Polemik Kebudayaan. Sementara setiap pertentangan itu selalu dipengaruhi oleh kondisi sosial politik di zamannya serta otoritas negara, komunitas agama dan pasar. Terbukanya kajian sastra melalui buku ini, membuka harapan bagi sastrawan idealis di masa ini untuk melawan genre karya sastra kontemporer yang cenderung mapan. Seperti yang dilakukan para sastrawan-sastrawan non-arus utama sebelumnya.

***


*PENULIS merupakan mahasiswa yang sedang menyelesaikan studi sarjana di Universitas Muhammadiyah Malang. Pegiat literasi di Perpustakaan Jalanan Studie Club Rumah Mahasiswa Merdeka (SC RUMAKA)

*ARTIKEL resensi ini sebelumnya dimuat di kolom Rehal Buku BasaBasi.co. Dimuat ulang di sini demi tujuan pendidikan dan pengarsipan

Kredit Ilustrasi : www.okkymadasari.net

One comment