Hari Keenam : Kuliah Kerja Drama

Posted by

Kredit Ilustrasi : www.romadecade.org


Semua orang tahu, di lingkungan akademik, KKN itu akronim dari kuliah kerja nyata. Nyata kuliahnya, nyata kerjanya. Akan tetapi, malam ini yang saya rasakan justru berbeda. Yang nyata dari KKN itu bukan nyata kuliahnya dan kerjanya. Melainkan nyata sinisnya, nyata dramanya.

Saya tentu punya alasan untuk mengatakan ini. Beberapa jam yang lalu, kelompok kami melakukan evaluasi mengenai kegiatan lomba yang diadakan oleh Divisi Sosial Budaya siang tadi. Seperti yang sudah saya duga, evaluasi berjalan sedemikian singkatnya. Kalau pun ada yang dibahas, pembahasan difokuskan pada hal-hal yang sifatnya teknis. Tujuannya agar divisi yang sedang dievaluasi bisa berbenah dan menjalankan program berikutnya dengan sebaik mungkin.

Sejak awal sampai akhir evaluasi, saya memang duduk dengan Adly, Koordinator desa di kelompok kami. Sejak awal pula, saya dan Adly memiliki niat untuk menyampaikan tawaran dari Pak Sulis. Memang, sebelum beranjak dari rumah Pak Sulis kemarin, kami sempat mendapat tiga tawaran dari beliau.

Pertama, Pak Sulis menawarkan agar kelompok kami bisa membantu menata buku di perpustakaannya untuk disesuaikan dengan minat baca warga desa. Kedua, Pak Sulis menawarkan agar kami membuat nomor rumah bagi warga desa. Dan ketiga, Pak Sulis menawarkan agar kami ikut membantu beliau membersihkan masjid dan taman desa yang sedang digarapnya. Dan yang paling menarik dari ketiga tawaran itu adalah, Pak Sulis berjanji akan menyediakan kebutuhan pendukungnya.Tiga tawaran ini cukup menarik bagi saya dan juga Adly, karenanya kamu ingin membicarakannya di dalam rapat — untuk kemudian disetujui semua anggota.

Sebagai koordinator, Adly mulai menginterupsi rapat dan menjelaskan tiga tawaran beserta niat baik dari Pak Sulis. Sayangnya, tiga program itu ditolak mentah-mentah oleh mayoritas kelompok. Mereka menduga, permintaan itu diajukan Pak Sulis untuk memperalat kelompok KKN kami. Bahkan, di akhir penolakan itu, ada salah seorang dari anggota kelompok KKN kami yang nyeletuk :

Kita disini itu kkn. Kuliah kerja nyata. Bukan kuliah kerja ngebabu

Mendengarnya, saya kaget bukan main. Saya ingin membantah celetukan itu. Namun tidak jadi lantaran Adly keburu menyenggol tangan saya sambil berbisik :

Sudah, mending kita segera rampungkan rapat ini dan ngopi‘, kata Adly.

Melihat situasi forum yang tidak menguntungkan, saya menghela nafas kemudian mengangguk tanda setuju. Tak lama kemudian rapat evaluasi dinyatakan selesai. Seperti rapat-rapat sebelumnya, ia diakhiri dengan salam dan pemberitahuan mengenai program-progam yang dilakukan besok.

Usai bersih-bersih, saya dan Adly, bergegas meninggalkan balai desa untuk mencari kedai kopi. Kami ngopi di sebuah kedai kopi yang letaknya tak jauh dari lokasi desa. Di sana, Adly bercerita banyak hal termasuk bagaimana tanggapannya mengenai rapat evaluasi malam ini.

Saya mencoba bersikap netral dan mencari jalan tengah. Alih-alih menjadi kompor. Saya menawarkan agar tawaran itu agar dijalankan — dengan tanpa memprogramkannya. Adly tentu saja sepakat dengan solusi yang saya tawarkan. Bahkan ia meminta keengganan saya untuk tetap menjalankan tiga tawaran itu — jika yang lain tetap kekeh dengan prasangka-prasangka mereka.

Malam telah berganti pagi. Kami berdua meninggalkan kedai kopi dan kembali ke balai desa. Di jalan, Adly memberikan kalimat penutup yang saya akan ingat sampai nanti :

Kamu ingat ini ya? Tidak ada yang awet dari kelompok KKN ini. Setelah KKN selesai, kita bakal kembali ke kehidupan masing-masing. Semuanya akan mencar satu persatu

Saya hanya menertawakan kalimat itu. Sembari membatin dalam hati jika apa yang dikatakan Adly, kian menunjukkan tanda-tandanya. Setidaknya mulai malam ini. Malam ini saya mulai merasakan kelompok kami terbagi atas faksi-faksi. Cepat atau lambat, saya kira faksi-faksi itu akan terpecah belah dan berpisah satu sama lain. Atas nama prasangka dan drama-drama.