Catatan Kilat

Posted by

Kredit Ilustrasi : Pinterest


///

Daun itu lepas dari ranting,
Melayang-layang
Lalu ia jatuh menukik di jantung sebuah samudera
Mengalir mengikuti gelombang air
Terpontang-panting,
Jika itu membawaku padamu,
Aku ingin jadi daun itu

///

Dua tiga tutup botol,
Mengapa diri ini mendadak tolol?
Ada udang di balik batu,
Jika sedang memikirkanmu

///

Minggir dulu nona, aku sedang berpikir !
Bila semua tlah usai,
Barangkali aku akan kirim sebuah pesan manis,
Pesan yang ku tulis dari padang pasir yang gersang,
Tepat pada pukul sembilan petang.

///

Dia memanglah dewi,
Tapi bukan Athena dari Yunani,
Dia dewi asal Nusa Tenggara
Ufuk timurnya Indonesia

///

Nona jika aku adalah pegawai langit yang sedang terjatuh,
Berkenankah kau menangkap tubuhku?
Menyentuh hatiku?
Menggenggamnya?

Lalu kau ukir senyumku
Kehidupan yang kembali
Tak peduli betapa menyebalkannya dunia ini
Asal itu bersamamu,
Semuanya mudah teratasi

///

‘Kata adalah senjata’, Marcos berkata
Berarti kata adalah senapan itu
Lalu dimana sasarannya?
Menurutku, bukan di kepala, telinga dan hati
Melainkan di jiwa

///

Setali tiga uang,
sejak dulu rasaku tetap terlarang

///

Dunia ini sederhana, yang hebat-hebat hanya merindukannya
Mohon maaf, oppa Pram.

///

Nona, jika ada hal yang harus kau percayai di dunia
Apa kau percaya?
Apa kau percaya masih ada jalan yang disediakan untuk kita?

///

Belakangan aku susah tidur,
Apa kau, juga?
Obat penenang pun enggan meredahkannya

Perlahan, kusadari hatiku sedang berlubang
Semakin membesar saja
Berkenankah kau menutupnya?
Barangkali aku akan lebih lega

///

Aku sebenarnya ingin berjudi dengan melambungkan janji,
Seperti lelakimu barangkali?

Tapi aku enggan melakukan itu
Sebab, aku sendiri tak pandai melempar dadu

///

Nona, jangan tanyakan kepastian
Nona, kau sudah mengetahuinya
Aku hanya butuh jawaban
Aku hanya butuh jawaban
Sudah berulang kali ku layangkan ketukan
Sudah lama aku membunyikan bel rumah tanda kedatangan
Pada hatimu
Tepat di jiwamu
Adakah kau merasakannya?
Apa benar pintu itu telah terkunci?
Apakah karena bel itu sudah mati?

///

Sudah ku bilang,
Kalau kau menangis, langit pasti hujan
Lalu indekosku bocor seperti biasanya
Dan pipi akan basah sedemikian rupa

///

Selamat pagi,
Tak ada satu pun pintaku pada Tuhan,
Selain melihatmu bahagia, puan
Bahkan jika bukan aku penyebabnya,

///

Mengapa bersedih?
Dari nadamu, sepertinya kau sedang merasa tidak dihargai olehnya?
Siapa? Mengapa bisa?
Berpikir lah jernih
Sebab, ia adalah bahagiamu saat ini
Barangkali juga, nanti

///

Sedang marah?
Sini mamam gulali dan naik biang lala

///

Kode ini sedang menguat,
Tapi jangan tuduh aku subversif
Kamu bukan orba,
Apalagi anak cucunya

///

Pilpres Amerika memang seru,
Tapi lebih seru mencintaimu

///

Aku bukan jurnalis,
Aku hanya pengagummu yang manis

///

Kepada-Mu,
Aku berdoa secukupnya,
Berusaha semampunya

///

Tapi senja tetap hilang
Matahari tak sebinar biasa
Aku bertanya-tanya;
Ada apa?

Hari ini, ku putuskan pulang
Melangkahkan kaki ke hutan
Memberi jeda pada kenyataan
Memberi jarak pada manusia

///

Jalan-jalan sedang padat.
Berisikan kendaraan nan padat merayap
Langit senantiasa berganti
Pemuda ulung itu lantas bertanya;
Bisa kah waktu berhenti sejenak?
Bisa kah ia memberikan jeda untuk kita bercerita?

///

Langit tetap menghitam,
Bulan telah dilalap kelabunya awan
Pemuda itu tetap berpegang pada angan
Karena kenyataannya ia harus bersiap menerima kehilangan

///

Malam ini terlalu panjang,
Bahkan jika kuhabiskan bersama-mu
Awan-awan tak khayal adalah lembaran
Bagi tiap bait puisiku,
Menyoal dirimu

///

Resah sang tuan menggulung langit dengan awan
Selamat pagi putri
Bulan sudah ditendang matahari
Aku senang kau masih ada hingga hari ini

///

Jalan demi jalan
Pasar demi pasar
Tak ubahnya potret dunia tanpa makna
Ramainya hanya ilusi
Karena yang nyata adalah kesepian hati

///

Nona,
Kudapati tinta di penaku makin mengering
Kudapati pikiranku makin garing
Bombardir informasi masih terus terjadi
Tapi kabar tentangmu tak kunjung ku dapati

///

Nona, aku telah lama meninggalkan kehidupan
Meludahinya dari atas langit
Hanya aku tidak ingin jadi mereka;
Ribuan jasad yang terkapar mati
Digulung besarnya dunia yang sama sekali tidak mengerti

Aku ingin waktu luang
Aku ingin jeda
Berkata Marx pada istrinya:
‘Jenny adalah cinta dan cinta adalah Jenny’
Tetapi bagiku kau lah hidup, dan hidup adalah kau
Kau bumi dan isinya

Yang didalamnya ada kehidupan
Yang didalamnya ada kematian
Ada suka cita, ada duka cita
Ada tugas yang bahkan tak pernah bisa kita rampungkan
Apalagi sempat kita tanyakan

///

Aku selalu bersembunyi dalam bayang
Menari-nari dalam angan
Di alam bawah sadarku sendiri
Tapi jika boleh aku berharap,
Aku ingin merayakannya dalam dunia nyata
Yang di mana hanya ada aku dan kau di dalamnya

///

Malam semakin larut
Udaranya mendadak dingin
Suasananya yang mendadak sunyi
Langit semakin gelap
Bulan tak menunjukkan parasnya
Bintang-bintang pun juga,
Mereka terbirit-birit entah kemana

Dan wajahmu tetap menatapku dari atas
Di ujung malam itu
Saat malam sedang bekerja
Memperkosaku dengan sebegitunya

Kini dingin semakin mengangguku
Ia meresap ke dalam tubuhku
Mempreteli tulang
Meretas syaraf-syarafku
Kini yang ku rasa hanya resah

Aku menuju mati
Aku menuju mati
Aku menuju mati

Layar-layar kita masih berisi tentang kabar mereka yang kalah
Parade omong kosong sedang menggangguku
Tapi aku tidak sedang memegang api
Aku hanya punya bara kering

Ingin rasanya aku segera menyulut bara itu
Apalagi malam semakin tak menunjukkan belas kasihnya
Burung bangkai sudah berada di sekitarku
Menunggu kematian tanpa perayaan

Dimana kau?
Dimana kau?
Dimana kau puan?

Warna-warni hidup mendadak jadi hitam putih
Beberapa singgah, beberapa pergi
Kedatangan selalu berakhir keterasingan

Apakah waktuku sudah sampai?
Entah
Yang ku tahu kau sudah terlambat waktu
Semoga baik kabarmu
Semoga terwujud harapmu
Semoga memang ada tempat teraman untuk singgahmu

Dan biar aku di sini
Menyandarkan kepala
Menggerakkan jariku
Menghitung rindu
Hingga terpejam kedua bola mataku

///

Puan inilah budaya layar
Kau menatapku
Aku menatapku

Aku mendengar kabarmu
Barangkali kau juga,
Aku merasakan sukacita dan dukacitamu
Barangkali kau, juga

Puan lagi-lagi ini budaya layar
Kita menatap layar yang sama
Aku hanya berpegang pada teka-teki
Pada sesuatu yang tak pasti
Karenanya aku lebih suka memakai kata ‘barangkali’

***


*DITULIS dalam buku harian saat penulis berada di Gunung Pundak, Pacet Mojokerto. Dipublikasikan ulang di sini semata-mata demi tujuan pengarsipan