Jam 9 Kita Bertemu, Puthut EA

Posted by

Kredit Foto : SutterShock via OkeZone


Doni adalah pemain cinta. Sejak masa kuliah, ia berkali-kali dalam hubungan asmara dengan banyak perempuan. Bahkan itu terjadi sampai saat ini, ketika ia sudah beristri dan berprofesi sebagai penggarap film. Doni, ia terlibat cinta segitiga dengan dua sahabat baik. Dua orang sahabat itu adalah Lisa dan Kenes.

Lisa merupakan seorang wartawan cantik yang tenang dan tegas, sementara Kenes adalah seorang aktivis LSM yang cenderung kekanak-kanakan. Kisah cinta segitiga antara Doni, Lisa dan Kenes dikisahkan lewat 16 bagian cerita yang disusun dalam buku berjudul Jam 9 Kita Bertemu’ karya penulis kondang Puthut EA.

Setiap babnya, berisi dua konsep cerita yakni panggung dan benak. Panggung dan benak dianalogikan oleh Puthut EA, seperti ibu yang sedang mendongeng dengan cerita yang didongengkan dan peristiwa di mana ibu hanya sekedar mendongeng. Dongeng itu sendiri tidak lain adalah sinopsis yang berisi teks dialog antara Doni, Lisa dan Kenes.

Baca Juga : Review Zine ‘Kita Semua adalah Penyintas, Kita Semua adalah Pelaku’

Di awal cerita, hubungan antara Doni, Lisa dan Kenes terjalin dengan baik. Kelihaian Doni dalam memainkan perannya berhasil membuat hubungannya dengan Lisa dan Kenes semakin berkelanjutan. Pertanyaannya mengapa hubungan terlarang antara mereka bisa terjadi?

Jawabannya tersirat di akhir cerita. Ketika Doni, Lisa dan Kenes mengalami turbulensi di tengah konflik asmara yang semakin memuncak. Di titik ini, para tokoh sebetulnya baru menyadari satu hal, bahwa hubungan gelap di antara mereka terjadi lantaran adanya ketidakpuasan hidup yang dialami oleh ketiganya. Faktor itu lah yang kemudian melatarbelakangi keputusan mengapa mereka terjebak dalam cinta segitiga.

Doni misalnya. Dalam cerita di bagian ketujuh, Doni sempat berujar bahwa petulangan cintanya dengan Lisa dan Kenes tak lebih dari upaya pencariannya terhadap apa yang benar-benar ia butuhkan — yang mungkin, itu sendiri belum didapatkan oleh Doni dalam hubungan rumah tangganya. Dalam hal ini, Doni menganalogikan hidupnya seperti ‘roti lima rasa’ :

“Hidup ini kadang-kadang seperti ‘roti lima rasa’. Setiap kita adalah para pembeli dengan bekal keinginan mencicipi rasa keju. Kamu pembeli itu, kamu meng-usahakannya, dua potong telah kamu betot dan memakannya, tapi ternyata baru yang berisi kacang dan coklat. Masih tiga ruas, dan kemudian seorang teman datang meminta rotimu. Ia membetot satu ruas, dan kamu masih mempunyai dua ruas pengharapan lagi. Matematika mengajari bahwa kemungkinan besar, kamulah yang akan mendapatkan itu semua. Tapi peristiwa memastikan bahwa dia,
temanmu itulah yang menemukan sekepal keju tertanam di dalam daging roti yang empuk itu’.

( Doni dalam Puthut EA, Jam 9 Kita Bertemu, hlm 30)

Singkatnya, meski sudah menikah Doni tidak benar-benar melihat roti rasa keju itu ada pada istrinya sendiri. Karena itu, meski Doni sudah menikah, ia tidak pernah merasakan cinta dalam maligai rumah tangganya. Itu disadari Doni ketika istrinya sedang hamil anak pertama mereka. Dengan rasa penuh penyelasan Doni berujar :

“Aku bahkan tidak sanggup menatap matanya ketika semalam ia memberi kabar dengan wajah bahagia kalau ia sedang hamil. Sedang mengandung benihku. Aku bahkan ingin meledakkan telingaku sendiri ketika ia bilang: Ini benih cinta kita, Sayang… Cinta? Cinta yang mana? Cinta yang seperti apa?”

(Doni dalam Puthut EA Jam 9 Kita Bertemu hlm 71-72)

Apa yang dialami Doni, sebetulnya terjadi pula pada Lisa dan Kenes. Lisa yang lebih suka melibatkan perasaan dalam cinta, akhirnya terpaksa hanyut dalam kisah hubungan gelapnya dengan Doni. Namun saat ia melibatkan nalar untuk mempersoalkan hubungannya dengan Doni, ia kerap menyadari bahwa apa yang dilakukannya bersama Doni adalah sebuah kesalahan

“Apakah benar rasa sayang itu berhimpit dengan pikiran bebal? Banyak orang bilang kalau aku itu cerdas. Tapi kenapa untuk soal seperti ini selalu nalarku tidak jalan? Benarkah cinta bukan di jalur nalar? Ah, aku tidak percaya. Tapi… tapi buktinya bahkan aku mengiyakan saja saat ia memintaku datang. Aku tetap tidak bisa menolak saat ia minta menjemputku. Padahal aku tahu, kalau aku bertemu lagi dengannya, pasti… Ah……. Mungkin butuh satu langkah yang tidak goyah untuk mengatakan tidak. Lalu semua akan lebih mudah. Mungkin.”

(Lisa dalam Puthut EA Jam 9 Kita Bertemu hlm 76-77)

Kenes lain lagi. Kebiasaanya dalam menggerutu ihwal keterasingan hidup yang ia alami, pada akhirnya menyadarkan dia bahwa dia adalah manusia yang hampa dan tidak memiliki apapun. Bahkan, Doni. Di titik ini, ia akhirnya menyadari bahwa tanpa kepastian, ia tidak memiliki Doni. Doni selama ini tidak lebih dari sosok yang mengisi kekosongan hidup yang dirasakan oleh Kenes. Itu baru disadarinya ketika ia berada di satu kota dengan Doni di Yogya.

“Lalu apa yang sebetulnya aku miliki? Kekasih yang sebetulnya pun aku tidak punya. Doni? Ah, bahkan ia semakin terasa menjauh, selalu susah diajak bertemu, dan seperti semakin tidak butuh. Ah, bahkan dia terlalu pengecut untuk menerima konsekuensi dari apa yang dirasakannya. Atau jangan-jangan dia memang tidak punya perasaan itu?”

(Kenes dalam Puthut EA Jam 9 Kita Bertemu hlm 81)

Membaca cerita cinta antara Doni, Lisa dan Kenes, pada akhirnya membawa saya pada satu kesimpulan bahwa penulis sebetulnya sedang ingin mengadu interpretasi mengenai cinta yang esensial dan cinta dalam pandangan umum. Cinta yang esensial tergambar jelas dari hubungan antara Doni dan Lisa, sementara cinta yang sakral seperti gambaran umum masyarakat terjadi pada hubungan antara Doni dan Kenes.

Baca Juga : Into The Wild : Kisah Tragis Seorang Moralis

Doni dengan demikian adalah sosok yang gagal dalam pergulatan antara dua hal itu. Karenanya, di akhir cerita Doni harus menerima peristiwa yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Di akhir cerita, Doni dipertemukan dengan Lisa dan Kenes dalam sebuah pertemuan yang tidak direncanakan di sebuah bandara.

Tidak ada yang tahu bagaimana kelanjutan kisah mereka. Penulis hanya menutup kisah cinta segitiga mereka dengan kata ‘selesai’. Sebuah penutup yang menandai berakhirnya hubungan asmara mereka, barangkali juga dengan hubungan persahabatan antara Lisa den Kenes.


Kredit Foto : Buku Mojok

2 comments