Into The Wild : Kisah Tragis Seorang Moralis 

Posted by

Christopher Johnson McCandless, Kredit Foto : https://agusbudiawan.wordpress.com/2013/08/29/christopher-mccandless-menolak-sistem-memeluk-dunia-dengan-caranya-sendiri


Oleh : Faris Fauzan Abdi


Into The Wild (2007) merupakan sebuah film besutan sutradara kelahiran asal Amerika Sean Pean — yang mengangkat kisah nyata kehidupan Christopher Johnson McCandless — seorang pemuda asal Amerika yang memiliki ketertarikan ekstrem pada alam bebas. Film ini sendiri diangkat dari sebuah jurnal milik Christ yang telah direkonktruksikan oleh Jean Krakauer menjadi sebuah novel ‘best seller’ dengan judul yang sama.

Isinya menceritakan tentang kisah hidup Christ, pemuda lulusan Emory University dengan kategori ‘cum laude’ — yang kemudian memulai hidup dengan mengganti nama menjadi Alexander Supertramp dan mulai menjalani sebuah petualangan radikal.

Dari pada memilih untuk melanjutkan sekolah hukum, ia memilih untuk menghibahkan seluruh dana pribadinya kepada yayasan kemanusiaan, Oxfam. Meninggalkan seluruh kehidupannya dan memulai petualangannya menuju belantara Alaska pada Mei, 1990.

Ini dilakukan Christ, semata-mata sebagai bentuk pemberontakan atas lingkungan dan peradaban yang ada. Christ memang lahir dari keluarga kelas menengah atas. Akan tetapi, ketidakharmonisan keluarganya telah membuat Christ mengambil keputusan untuk meninggalkan lingkungan yang disebutnya sebagai ‘materialisme kosong’.

Selain faktor lingkungan, ada juga faktor pemikiran. Christ merupakan seorang pembaca yang taat. Setidaknya, tiga pemikir yang mempengaruhi Christ. Tiga tokoh tersebut antara lain, Leo Tolstoy (1828-1910), Jack London (1876-1916) dan Henry David Thoreau (1817-1816).

Baca Juga : Review Zine NDASMU Vol. 7 : Agony

Sementara karya pemikir yang paling spesifik dengan kisah pemberontakan Christ menuju Alaska adalah karya Thoreau yang berjudul ‘Walden : Life In The Wood‘. Pasalnya, buku ini berisi tentang pengalaman nya dalam mengasingkan diri di sebuah pondok tepian Danau Walden — setelah meninggalkan kehidupannya di Concord, Massachussetts.

Perjalanan dan Kematian

Christ memulai perjalanannya dengan bertolak dari Atlanta menuju Dakota Selatan. Melalui perjalanannya ini, Christ mendapat banyak pengalaman baru. Christ sempat bekerja sebagai pengiling gandum, bertemu orang-orang baru, mengarungi sungai Colorado sampai Grand Canyon dengan perahu ilegal, ditangkap petugas kereta api, ke Meksiko dan mengarungi Salvation Mountain — The Slabs dan kemudian Alaska. Tiap-tiap pertemuan itu digambarkan oleh sang sutradara, Sean — sebagai pertemuan yang bermakna bagi Christ. Christ, ia mulai menyadari arti dari keluarga, cinta dan kedewasaan berpikir.

Kendati begitu, pertemuan-pertemuan ini tak membuat Christ mengurungkan niatnya untuk pergi ke belantara Alaska. Christ benar-benar mencapai Alaska. Selama berada di sana, ia tinggal di dalam sebuah bus tua Fairbanks 142 peninggalan Internasional Havester tahun 1940-an.

Baca Juga : Review : The Anarchist

Untuk bertahan, ia hidup dengan berburu apa saja dari alam. Namun setelah memasuki hari ke-113 petualangannya berakhir tragis. Christ, dinyatakan meninggal karena memakan tanaman beracun — setelah menyatakan diri bahwa ia ingin kembali ke pangkuan keluarga. Mayatnya baru ditemukan pada tanggal 6 September 1992 oleh salah seorang pemburu lokal bernama Alex.



Monumen Kematian Christopher Johnson McCandless, Kredit Foto : https://agusbudiawan.wordpress.com/2013/08/29/christopher-mccandless-menolak-sistem-memeluk-dunia-dengan-caranya-sendiri

Tinjauan

Keputusan sang sutradara dalam memilih Emile Hirsch sebagai pemeran Christopher Johnson McCandless sebenarnya sudah tepat. Dari awal sampai akhir, aktor ini terlihat sangat mahir dalam memainkan peran sebagai Christ. Alur cerita dan latar tempat (hutan Alaska) — yang dihadirkan oleh film ini juga cukup membawa penonton terbawa suasana. Selain menjebak penonton ke arah melankolia, petualangan Christ saat ia berada di pedalaman Alaska, cukup membuat jantung berdebar-debar.

Menurut saya pribadi, Into The Wild adalah film dengan nilai moralistik yang kuat. Ia tak lebih dari kisah pemuda yang putus asa akibat teralineasi oleh peradaban yang menurutnya tidak ideal. Meski pada akhirnya ia tidak bisa lepas sepenuhnya dari realitas kehidupannya sebelum melakukan petualangan di hutan Alaska.

Christ sebagaimana manusia pada umumnya, adalah seorang idealis yang ingin merubah keadaan. Darinya seharusnya kita belajar satu hal; bahwa kadang kala kita harus bermain sudut pandang dalam memandang hidup. Sebab makna kehidupan itu sendiri terlampau sempit jika dipandang hanya dari kacamata hitam-putih. Seperti ajaran-ajaran para moralis.

***


Catatan :

1. Baca informasi lengkap film Into The Wild melalui laman Internet Movie Database (IMDb). Link akses :
https://m.imdb.com/title/tt0758758/

2. Baca biografi lengkap Christopher Johnson McCandless disini :
https://agusbudiawan.wordpress.com/2013/08/29/christopher-mccandless-menolak-sistem-memeluk-dunia-dengan-caranya-sendiri/

One comment