Hari Keenam : Antara Lomba, Salam Metal dan Salam Jempol Kejepit

Posted by

Suasana Perlombaan (Kredit Foto : Dokumen Pribadi)


Memang, waktu KKN yang terbatas dan tidak sampai menginjak peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia. Karenanya, kelompok kami berinisiatif untuk mengadakan lomba Agustusan lebih cepat. Untungnya inisiatif kami itu disambut baik oleh masyarakat desa. Toh kebetulan di tahun ini, Karang Taruna Desa Payungrejo tidak mengadakan lomba Agustusan. Alasannya karena, kegiatan lomba dialihkan dalam bentuk festival.

Lomba Agustusan sepenuhnya diserahkan kepada kelompok KKN kami. Penanggungjawab utamanya tentu saja Divisi Sosial dan Budaya. Sebab peringatan Hari Kemerdekaan Nasional erat kaitannya dengan divisi ini. Ada beberapa cabang lomba yang diselenggarakan. Seluruhnya berkategori lomba anak. Mulai dari lomba balap karung, memasukkan pensil dalam botol, estafet air, dan seterusnya.

Rangkaian acara berjalan cukup baik. Anak-anak dan warga desa pada umumnya, pun terlihat gembira. Meskipun dalam momen-momen tertentu (dalam acara), kerja-kerja dari Divisi Sosial Budaya agaknya — perlu untuk diberi semacam catatan khusus. Utamanya dalam hal ‘kesiapan’ mereka sebagai penanggungjawab utama.

Saya menuliskan catatan-catatan itu di buku harian — yang akan saya utarakan saat forum evaluasi nanti malam. Awalnya, catatan-catatan itu hanya berisi anjuran yang bersifat teknis. Namun karena ini menyoal hari kemerdekaan RI, perlahan saya mulai mempersoalkan hal-hal yang sifatnya ideologis. Terkhusus mengenai bagaimana hubungan antara refleksi hari kemerdekaan dengan perhelatan yang baru saja terlaksana.

Saya berpikir keras. Namun di sela-sela proses paling khidmat itu, Rafli dan Alfi sudah kembali ke balai desa — dalam kondisi yang tak seperti sebelumnya. Terlihat sudah mandi dan gosok gigi, semoga. Saya pun menghampiri mereka. Ingin sekadar bertanya, alih-alih memberi hadiah tambahan.

Eh, bagaimana menurut kalian soal lomba barusan?“, saya bertanya.

Seru mas Faris“, jawab Rafli.

Nanti ada lagi kan? Sebentar lagi kan Agustusan? KKN yang dulu saja lombanya berkali-kali“, tanya Alfi.

Loh, tadi itu lomba Agustusannya. Tapi tenang, masih ada lomba-lomba lagi“, jawab saya.

Hadiahnya banyak kan?“, tanya Alfi.

Kalau bisa uang saja lah, kemarin Cutta saja dikasih uang“, ujar Rafli.

Ya nggak lah kalau uang. Dan soal Cutta, itu bukan lomba. Tapi tantangan soal siapa itu, pahlawan nasional Tan Malaka“, jawab saya.

Kasih tantangan buat kita kalau begitu“, pinta Rafli.

Saya menantang langsung, “coba ketik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia di Google dan sebutkan lima nama pahlawan nasional”

Banyak sekali“, kata Alfi.

Kalian kan berdua, jadi nanti bagi tugas“, pinta saya.

Mereka berdua lanjut meminta saya untuk menuliskan catatan kecil perihal tantangan yang harus mereka lakukan. Saya pun mengiyakannya. Baru setelah itu, saya mengajak mereka ke depan balai desa. Untuk sekadar berbincang.

Tapi kami tidak ada uangnya“, seru Alfi sambil berteriak.

Yah sama dong, mas juga lagi tidak ada uang“, kata saya sambil beranjak.

Alfi dan Rafli lantas menghalang-halangi langkah saya untuk menuju ke warung depan. Karena saya butuh informasi lebih lanjut, saya pun mengalah. Saya, menuruti kemauan mereka.

Oke, masing-masing dapat uang Rp 2000,00. Tapi foto dulu

Mereka mengiyakan permintaan saya. Rafli berpose dengan gaya metal, sementara Alfi dengan gaya salam jempol kejepit. Saya kira ini sebuah kode. Oleh sebab itu, saya bertanya lebih lanjut perihal ini di warung.

Jadi ini apa artinya ini?” , tanya saya sambil menunjukkan pose mereka.

Sialnya, sambil menikmati jajan, mereka lantas tertawa.

Kalau aku nggak tahu mas, kalau tangannya Alfi ini artinya ngeres“, jawab Rafli.

Itu lah kalau seorang itu lupa pada sejarah, jadi tidak tahu apa yang ia lakukan“, jawab saya bijak.

Berarti itu benar artinya ngeres mas?“, tanya Alfi polos.

Ayo dicari bareng-bareng“, ajak saya.

Di titik ini, mendapat ide mengenai hal yang perlu dievaluasi dari kegiatan Divisi Sosial Budaya hari ini. Bahwa dalam kegiatan ini, mereka alpa mengenai refleksi. Akan tetapi, apakah catatan itu akan berpengaruh?

Saya kira tidak, sebab kegiatannya sudah terlaksana.

Rafli dan Alfi (Kredit Foto : Dokumen Pribadi)