Semua Ini ‘Pernah Baru’, Mereka Hanya Di-Lamakan oleh Kebaruan yang Mencurigakan

Posted by

Kredit Ilustrasi : https://www.stevecutts.com


‘Orang yang tidak dapat mengambil pelajaran dari masa tiga ribu tahun, hidup tanpa memanfaatkan akalnya’

GOETHE

Perjuangan warga Banyuwangi dalam menolak Tambang Emas Tumpang Pitu, saya kira — membuat rasa kemanusiaan kawan saya Rizal, agak sedikit tersinggung. Sambil membawa salah seorang temannya, Renal, Rizal menjemput saya di rumah — yang pada saat itu saya sedang tidur siang.

Kami bertiga berangkat dari Kota Sidoarjo menuju Kantor Gubernur di Surabaya dengan dua motor. Rizal berboncengan dengan Renal, sementara saya, membawa motor sendirian saja. Saya yang tidak menguasai rute jalan menuju kantor gubernur hanya bisa membuntut motor Rizal dan Renal. Saat itu, kondisinya sedang hujan deras. Saya memutuskan untuk tidak menggunakan jas hujan, karena takut kehilangan jejak dengan Rizal dan Renal — yang saat itu memacu kendaraan mereka dengan cukup kencang.

Menyadari badan saya sudah basah kuyup, saya pun memutuskan untuk berhenti di depan sebuah warung makan. Saya hendak mengenakan jas hujan, sambil memberi kabar kepada Rizal agar ia memberikan alamat lokasi kantor gubernur — setelah mereka sampai di tempat.

Saya pun mulai membuka jok motor. Naasnya, saat saya membuka jok motor, saya tidak menemukan jas hujan saya di dalamnya. Di sini saya baru ingat kalau beberapa hari yang lalu, saya memang mengeluarkan jas hujan itu dari motor saya, untuk kemudian dijemur. Artinya, saya harus menunggu hujan reda dulu, baru kemudian bisa menyusul Rizal dan Renal.

Akhirnya, saya memutuskan untuk menghubungi Rizal via pesan Whatsapp. Saya ambil gadget saya dalam tas yang saat itu sudah basah kuyup oleh hujan. Posisi handphone saya sudah mati waktu itu. Saya menyalakannya. Namun yang saya dapati, handphone saya itu tak kunjung menyala. Bahkan setelah saya cas beberapa saat di warung makan tempat saya berhenti sekalipun.

Dapat disimpulkan, handphone saya mengalami konselet / hang karena kemasukan air. Alhasil, saya terpaksa menunggu saja di warung itu — sambil sesekali memikirkan bagaimana caranya agar saya bisa menghubungi kawan saya, Rizal. Setelah berpikir lumayan keras, saya mendapat sebuah solusi. Solusinya adalah saya harus mencari sebuah warnet.

Setelah beberapa saat menunggu, hujan yang awalnya cukup deras berubah menjadi gerimis. Saya pun segera beranjak dari warung makan itu dan mulai mencari warnet. Di titik ini, saya baru menyadari bahwa mencari warnet di abad ini cukup sulit. Barangkali sesulit mencari jarum dalam sekam (meminjam pengandaian Firli Bahuri dalam pencarian Harun Masiku).

Namun setelah beberapa kali berkeliling, tiba lah saya pada sebuah warnet yang cukup kecil. Sebuah warnet rumahan yang saya sendiri, lupa mengabadikan namanya. Dengan dindingnya yang kekuningan dan layar serta keyboard yang berdebu, warnet itu, berhasil mengingatkan saya pada kenangan satu dekade silam. Saat saya masih menjadi bocah warnet.

Saat itu saya masih bocah SMP dan kemajuan teknologi saya kira — belum segila sekarang ini. Anak-anak seusia saya jarang sekali yang memiliki android. Kalau pun ada, paling hanya beberapa saja. Itu lah yang menyebabkan warnet masih menjadi alternatif utama, bagi mereka yang memiliki prodak teknologi terbatas. Warnet, sebagaimana gadget di era ini, adalah hal yang baru di zamannya. Karena itu, saya ingin membawa beban sejarah tentang ‘era keemasan warnet berikut keambrukannya’ dalam tulisan ini.

Dalam memoar saya, ada tiga warnet yang sering saya kunjungi waktu itu : NickNet, Arwana Net dan Zidan Net. Masing-masing dari mereka memiliki kesannya tersendiri, utamanya jika dilihat dari minat saya pada aktivitas bermain warnet. Sementara aktivitas yang saya lakoni di warnet ada banyak sekali. Mulai dari bermain game online (Point Blank dan Lost Saga), bermain sosial media (Facebook dan Twitter), sampai streaming video klip Avenged Sevenfold, Bullet For My Valentine atau Killing Me Inside — band-band yang pada saat itu cukup memiliki nama di hati teman sebaya saya.

NickNet dan Arwana Net adalah dua warnet yang paling nyaman digunakan untuk gaming. Sebab koneksi internet di sana terbilang cukup stabil. Sementara untuk aktivitas lainnya seperti bermain media sosial, atau streaming YouTube, saya biasanya akan pergi ke Zidan Net. Sebab, koneksinya memang stabil untuk aktivitas-aktivitas semacam.

Di NickNet atau Arwana Net saya tidak memiliki kesan yang begitu banyak, selain datang, nge-game dan pulang. Saya pun tak mengenal baik masing-masing penjaga dua warnet itu. Ini agak berbeda dengan Zidan Net. Di Zidan Net, saya memiliki kesan yang cukup banyak.

Zidan Net berada tepat di jantung Kecamatan Krian. Sebuah kecamatan yang dalam peta Kabupaten Sidoarjo — diduga menjadi kecamatan paling strategis sepanjang masa lantaran keberadaannya yang menghubungkan beberapa ibu kota kabupaten/kota madya. Zidan Net sendiri, persis berada di dekat beberapa sekolah, antara lain, SMP 2 Krian dan SMAN 1 Krian. Itu membuat warnet ini tidak pernah sepi pengunjung. Baik pengunjung yang sedang gabut, ingin nge-print atau nge-game, bahkan.

Keberadaannya yang bersebelahan dengan rumah sang pemilik, membuat tempat ini sangat nyaman jika digunakan sebagai tempat untuk berkumpul. Faktor ini lah yang kemudian menjadikan Zidan Net adalah patron bagi berkembangnya budaya musik, mode, dan komunitas-komunitas yang melingkupinya.

Saat itu, yang berkembang di warnet ini adalah gaya musik emo dan reggae. Salah seorang yang menjajakkan kaki di antara keduanya adalah penjaga warnet itu sendiri : Mas Antok. Saya mengenalnya sebagai kakak kelas saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Kebetulannya juga dia merupakan teman dekat dari kakak sepupu saya.

Jujur saja, saya selalu memantau dia karena saya terinspirasi oleh kelihaiannya dalam mengedit sebuah foto. Bahkan ada suatu saat di mana saya terpaksa bertanya padanya soal cara mengedit foto yang bagus ala-ala bocah emo. Toh saat itu, video tutorial dalam hal apapun masih sangat terbatas.

Tapi begitu lah Mas Antok dengan kebaikannya. Alih-alih membodohi bocah labil seusia saya, justru dia malah mengajarkan saya agar mulai mempelajari Photoshop. Mulai dari fiturnya, cara editing dan lain sebagainya. Ia mengajarkan pada saya dengan begitu telatennya. Meskipun dalam hati saya berkata : ini terlalu rumit bagi seorang pemula.

Ironis, saya tak pernah mahir dalam menggunakan Photoshop sampai sekarang. Karena setelah diberikan pengajaran oleh Mas Antok, saya tidak pernah lagi punya minat dalam mengedit foto menggunakan aplikasi ini. Di satu sisi, saat itu tidak ada perangkat komputer satu pun di rumah. Sehingga saya kerap kesulitan dalam mengaplikasikan ilmu apapun yang saya dapat dari warnet.

Singkat cerita, terakhir kali saya ke Zidan Net yakni pada kelas tiga SMP. Saat itu warnet ini sudah sepi pengunjung. Penjaganya pun, bukan lagi Mas Antok. Aktivitas saya ke warnet berakhir di tahun berikutnya: saat saya memasuki SMA. Kebetulan saat itu untuk pertama kalinya saya mempunyai smartphone. Sebuah gadget yang konon, mewakili kebutuhan umat manusia hanya dalam satu genggaman.

Dengan gadget ini, saya bisa melakukan banyak hal. Mulai dari aktivitas nge-game, bermedia sosial, bahkan editting foto. Sebab di saat yang sama, aplikasi media sosial dan editing foto, Instagram masih baru dilahirkan. Dengan demikian, saya tidak perlu lagi ke warnet.

Di tahun ini juga saya kembali bertemu dengan Mas Antok. Namun bukan dalam ikatan antara pelanggan Zidan Net dan penjaganya, melainkan atas nama komunitas musik pecinta Iwan Fals : Anak Wayang Oi Krian. Sementara menurut kabar yang saya dengar dari dia, Zidan Net sudah tutup karena bangkrut.

Seusai mengenang kenangan itu, saya kembali menatap layar monitor di depan saya. Suasana warnet ini sangat lah sepi. Sehingga membuat saya agak merenungi apa yang saya lihat di layar monitor. Di situ tersaji banyak sekali program, mulai dari Microsoft Word, Excel, Power Point, Photoshop, Adobe Reader, Google Chrome dan seterusnya. Masing-masing dari program itu, dulunya terintegrasi dengan pekerjaan-pekerjaan. Mulai dari pengetikan, editing foto, dan seterusnya.

Kini pandangan saya mengarah pada smartphone saya yang rusak karena air hujan tadi. Saya bertanya-tanya dalam hati, bagaimana bisa semua program itu kini berada dalam satu genggaman — yang kita sebut sebagai smartphone ini? Sehingga ia mengeleminasi pekerjaan yang dulunya sangat bergantung pada kemahiran dalam komputing — seperti editing foto, jasa pengetikan dan lain sebagainya?

Bahkan saat ini , kecerdasan buatan sudah dimulai oleh dunia. Google misalnya, sudah mengusung program Asisten Google. Kita cukup mengucapkan ‘Oke, Google bla-bla-bla’, — kita dapat mendapatkan informasi tentang apapun. Tak jauh-jauh dari itu, robot-robot dengan kecerdasan buatan dengan berbagai keterampilan bahkan sudah banyak beredar di pasaran. Pertanyaannya, bagaimana bisa? Dan dari mana kecerdasan-kecerdasan ini muncul lalu diorganisasikan dalam sebuah prodak teknologi?

Setelah saya melakukan riset kecil-kecilan, saya menemukan jawabannya. Bahwa semua kecerdasan manusia itu mula-mula dikumpulkan melalui interaksi harian antara manusia dengan teknologi. Ini mungkin pula menjadi alasan mengapa hari-hari ini media amat meminta informasi pribadi kita. Mulai dari minat, ulasan soal sesuatu, ketertarikan pada hal-hal tertentu, sampai lokasi saat kita bermain media sosial.

Setelah data-data berhasil ditambang, ia akan diorganisasikan ke dalam katakanlah big data. Big data inilah yang kemudian diberikan kepada prodak teknologi berbasis kecerdasan buatan (artificial intelegence) untuk dipelajari polanya, dan dilatih untuk membuat keputusan.

Ini terlampau gila, saya kira. Karena perubahan ini terjadi saat masyarakat Indonesia khususnya — sedang terobjektifikasi oleh teknologi. Mereka tidak sekali pun pernah mempertanyakan sejauh mana tanggung jawab korporasi dalam menambang data-data mereka — mengingat mereka selalu membeli paket data — tanpa pernah memperoleh sesuatu dari apa yang mereka hasilkan (selain menjadi influencer tentunya). Mereka tidak pernah bertanya soal bagaimana misalnya, sejauh mana peran pemerintahan dalam memberikan jaminan atas pembelajaran soal teknologi, berikut dengan aksesnya. Bahkan mungkin yang paling radikal, siapa yang mengendalikan perubahan ini?

Jika terus seperti itu, saya kira, kita akan mengalami nasib yang tidak jauh berbeda dengan ironi-ironi di balik bangkrutnya warnet-warnet dan penjaganya, atau profesi-profesi yang mungkin berkaitan dengan program-progam di balik itu. Mereka akan terdisrupsi sedemikian rupa. Seperti yang sudah terjadi pada pekerjaan yang berkaitan dengan beberapa bidang, antara lain transportasi, perbankan, dan seterusnya.

Lalu sejauh mana kita akan berbuat mulai dari sekarang? Itu yang saya ingin saya ajukan pada diri saya, dan bahkan seluruh masyarakat Indonesia pada umumnya. Dengan mengutip karya William Shakespeare, ‘As Do You Like It‘, saya agaknya akan memulai proposal ‘ngehek’ saya ini :

“Dunia ini adalah panggung sandiwara. Dan semua pria serta wanita, hanya lah pemainnya: bagi mereka telah ditentukan jalan keluar dan masuknya. Dan seorang manusia bisa memainkan banyak peranan” .

Wiliam Shakespeare

Merujuk pada karya Shakespeare, setidaknya dua kata yang menurut saya agak penting dicermati dalam konteks perubahan ini. Pertama sandiwara, kedua peranan. Dalam hal sandiwara yang dikontekskan dengan perubahan ini, kita semestinya mulai melacak beberapa hal; siapa sutradaranya, bagaimana alurnya, siapa saja pemain di dalamnya, siapa saja yang diuntungkan dan dirugikan dalam pembuatan sebuah sandiwara bertajuk ‘perubahan dunia’ ini, dan bagaimana seharusnya kita berperan saat ini?

Sayangnya untuk mengambil peranan yang lebih besar, kita selalu saja mengalami keterbatasan. Utamanya dalam hal sumber daya. Sehingga, bagi kita, yang notabene rakyat biasa, memperkuat basis pertahanan adalah hal kecil yang tidak boleh dilupakan. Dan strategi pertahanan yang paling cocok — agar kita tidak digilas oleh era ini adalah peranan dalam mengasah soft skill. Utamanya dalam kemampuan berpikir kritis dan abstrak. Itu hanya bisa didapatkan jika kita mulai mendekatkan diri pada filsafat, ilmu-ilmu pengetahuan, dan karya-karya sastra.

Barangkali itu juga yang mungkin coba diutarakan oleh Joestein Gaarder dalam sebuah percakapan antara Sophie Amundsend dan guru filsafatnya Albert Knox — saat mereka mengulas filsafat Descartes (2017:381). Di mana dalam teks tersebut ditulis bahwa Sophie sedang berhadapan dengan sebuah prodak teknologi bentukan Albert. Di titik ini, program tersebut sempat keteteran saat Sophie mulai menanyakan hal-hal yang tidak pernah diprogramkan kepada prodak teknologi tersebut.

Teks ini bahkan, menyadarkan saya bahwa prodak kecerdasan buatan, tidak akan bisa mendahului manusia — selama manusia itu sendiri melestarikan kemampuannya dalam berpikir kritis dan abstrak. Prodak teknologi itu hanya bekerja lewat program. Dan, seyogyanya, sebuah hanya bisa diinput oleh manusia. Jadi kesimpulannya, perubahan ini memang akan menggilas kebiasaan lama dan memunculkan kebiasaan baru dengan standar yang lebih tinggi khususnya. Alhasil ini, kerja-kerja yang dibutuhkan di era ini adalah kerja berbasis soft skill itu sendiri.

Maka jelas, sebelum otomasi menyentuh semua aspek kehidupan manusia, tenang saja, manusia akan tetap bekerja. Barangkali dengan menjadi programmer, problem solver, analys, dan seterusnya. Dengan mengikuti solusi yang berbau teknokratik, penyesuaian atas kondisi ini pun terbilang cukup mudah. Anda tinggal mendorong pemerintah agar menyediakan jaminan pendidikan berbasis teknologi, bahkan akses terhadap teknologi itu sendiri. Selesai.

Namun berbeda halnya, jika Anda menginginkan terbebas dari semua kerja-kerja yang saya sendiri memprediksikan — akan selalu tergilas era. Solusi paling radikal yang mungkin layak diajukan untuk itu adalah merebut tuas-tuas yang memungkinkan perubahan-perubahan ini bisa terjadi di bawah kendali kita. Akan tetapi ini akan sangat rumit. Serumit memahami bagaimana bisa warnet-warnet sulit sekali ditemukan karena kebanyakannya, bangkrut. Atau serumit bagaimana saya merasa kehilangan hidup saya, ketika gadget saya tidak lagi bisa dinyalakan karena konslet. (Faris Fauzan Abdi)


*TULISAN ini terinspirasi dari artikel Martin Suryajaya di Harian IndoPROGRESS yang berjudul ‘Musik Warnet Akhir Abad ke-20