Mengenang Marsinah

Posted by
Kredit Ilustrasi : www.scrumaka.wordpress.com

Oleh : Faris Fauzan Abdi


Marsinah, begitulah mantan buruh PT Catur Putera Surya (PT CPS) itu dipanggil. Ia mungkin sama dengan buruh-buruh pada umumnya. Tak memahami asal usul komoditas, pengondisian tenaga kerja dan segala praktik dari kapitalis industri guna melipatgandakan keuntungan. Ia pun pasti tidak menamakan perjuangannya sebagai potret perjuangan kelas. Sebab, ia sudah merasakannya secara langsung. Masalah perjuangannya dianggap sebagai perjuangan kelas, biarlah waktu yang bicara.

Marsinah adalah sebuah nama yang menyalakan keberanian kelas pekerja pada waktu itu. Padahal saat itu ialah era orde baru. Di mana di era ini, pembungkaman hak berpendapat dan pemberangusan serikat buruh sangat masif terjadi.

Di satu sisi, intervensi yang sangat militeristik dalam dunia perburuhan acapkali masih dilakukan. Salah satunya melalui Surat Keputusan Bakorstanas No.02/Satnas/XII/1990 dan Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. 342/Men/1986. Surat itu menegaskan : jika ada bentuk perselisihan antara pengusaha dan buruh, maka yang berhak melakukan mediasi adalah militer.

Kendati memahami resiko yang bakal ia dapatkan, Marsinah merasa tetap merasa acuh tak acuh. Alih-alih mundur dari garis perjuangannya, Marsinah bersama teman-temannya tetap memperjuangkan hak-hak mereka yang dituangkan dalam sebelas tuntutan :

Sebelas Tuntutan Marsinah. Kredit Infografis : Tirto.id

Untuk pertama kalinya, Marsinah dan teman-temannya melakukan pemogokan pada tanggal 03 Mei 1993. Saat mogok pertama ini, Koordinator Massa Aksi, Yudo Prakoso dibawa ke kantor Koramil 0816/Porong. Di titik ini, ketegangan antara pihak militer dan para buruh pun baru saja dimulai.

Karena Yudo Prakoso diboyong oleh anggota militer, Marsinah pun segera mengambil komando aksi. Marsinah dan kawan-kawannya kembali melakukan pemogokan keesokan harinya, tanggal 04 Mei 1993. Dalam aksi ini, semua tuntutan massa aksi dituruti dimenangkan oleh Marsinah dan kawan-kawan. Kecuali, pembubaran SPSI (Serikat Pekerja Seluruh Indonesia). Satu-satunya serikat pekerja yang pada saat itu dilegalkan oleh orde baru dan kerap bersekutu dengan kelas pengusaha.

Pasca kemenangan itu, hari-hari memilukan pun dimulai. Yudo Prakoso, yang sempat dipanggil oleh Kodim mendapatkan surat perintah untuk menulis nama para buruh yang terlibat dalam aksi pemogokan. Keesokan harinya, ketigabelas buruh disodori surat PHK untuk kemudian ditandatangani. Artinya, mereka bukan di PHK oleh perusahaan, melainkan oleh aparat Kodim

Dua hari berselang, pada tanggal 6 Mei 1993 tak seorang melihat Marsinah pada saat itu. Hingga tanggal 8 Mei 1993 sebuah kabar mengerikan datang. Marsinah ditemukan tidak bernyawa di sebuah gubuk pematang sawah Desa Jagong, Nganjuk. Hasil visum Rumah Sakit Umum Nganjuk menunjukkan hasil bahwa Marsinah tewas dibunuh.

Pembunuhan itu pun dilakukan secara keji. Ditemukan luka robek tak teratur sepanjang 3 cm di tubuh Marsinah. Tulang panggul bagian depannya hancur. Selain itu selaput daranya pun robek. Kandung kencing dan usus bagian bawahnya pun memar. Hingga pendarahan di bagian perut kurang lebih satu liter.

Kabar pembunuhan ini akhirnya menarik perhatian aktivis HAM, Munir Said Thalib. Munir bersama kawan-kawannya melakukan advokasi dan investigasi yang diduga dilakukan oleh aparat militer tersebut. Sejak saat itu, Munir diangkat sebagai pengacara untuk kasus Marsinah.

26 tahun berlalu. Orde baru pun telah lengser sejak tanggal 21 Mei 1998. Namun kasus Marsinah belum lah selesai. Otak pembunuhan Marsinah dari pihak militer, pun tidak pernah ditemukan sampai sekarang ini. Tak ada yang berani membuka, tak ada yang berani bicara.

Itu lah yang membuat sosok Marsinah menjadi salah satu ikon perlawanan yang sejajar dengan aktivis HAM, Munir Said Thalib yang juga dibunuh beberapa tahun setelah reformasi bergulir. Hal itu semata-mata dilakukan untuk mengabarkan kepada publik bahwa negara masih memiliki hutang tanggung jawab dalam kasus Marsinah. Selain itu, hingga saat ini sosok Marsinah tetap menjadi ikon perlawanan bagi gerakan buruh. Utamanya sebagai ikon perlawanan terhadap kesewenang-wenangan kelas pengusaha yang kerap bersekongkol dengan aparatus negara.

***


*ARTIKEL sebelumnya ditulis di Jurnal Rumaka. Dimuat ulang disini semata-mata demi tujuan pengarsipan dan pendidikan

Rujukan Primer :

  1. Baca ‘Pembunuhan Buruh Marsinah dan Riwayat Kekejian Aparat Orde Baru di Tirto.id .
    Link akses :
    https://tirto.id/pembunuhan-buruh-marsinah-dan-riwayat-kekejian-aparat-orde-baru-cJSB
  2. Baca Majalah Tempo berjudul ‘Bermula dari Pembela Buruh’.
    Link Akses :
    https://majalah.tempo.co/read/laporan-utama/146989/bermula-dari-pembela-buruh
  3. Baca Laporan Kekerasan Penyidikan dalam Kasus Marsinah oleh Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI).
    Link Akses :
    https://www.ylbhi.or.id/wp-content/uploads/2018/07/LAPORAN-KASUS-KEKERASAN-PENYIDIK-DALAM-KASUS-MARSINAH-1995-web.pdf&sa=U&ved=2ahUKEwiW_8KlodPnAhXTzDgGHVTwCvEQFjAFegQICBAB&usg=AOvVaw1v08jA899lEIzFVkRZOqD3