Orang-Orang Pulau, Giyan

Posted by
Kredit Ilustrasi : www.steveadamsillustration.com


Kelas sosial itu ada dan nyata. Kehadirannya hampir saja memenuhi seluruh aspek kehidupan manusia. Tidak terkecuali dalam urusan cinta. Akibatnya, cinta distandarisasikan sedemikian rupa. Bahwa cinta yang menghantarkan pada kebahagiaan hidup, haruslah memandang pada status sosial dari seorang pasangan.

Ini tentu tidak terjadi begitu saja. Melainkan sudah sejak feodalisme masih berjaya di masanya. Ia ditinggalkan, lantas diturun-temurunkan dari generasi ke generasi melalui saluran bernama kebudayaan. Barangkali persoalan itu lah, yang coba diangkat dan dikupas oleh Giyan dalam novelnya ‘Orang-Orang Pulau‘ ini.

Novel ini bercerita tentang sosok utama, Darso. Seorang pemuda, asal Desa Ketapang, Kepulauan Ra’as. Sebuah desa di pinggiran pesisir yang terbelakang dan masih di kejumudan. Tidak tahu peradaban, tidak tahu apa itu mengaji, dan apa itu belajar. Alhasil, mayoritas penduduk di desa itu terkenal suka berbuat rusuh, mendewakan materi, dan status sosial.

Beruntung, sekali pun sudah tidak memiliki ayah dan ibu, Darso masih memiliki nenek yang pernah mengenyam pendidikan tinggi. Itu yang membuat Darso menjadi satu-satunya pemuda yang berpikiran modern di Desa Ketapang.

Kesadaran Darso kian memuncak dan menuju pada perlawanan setelah ia jatuh cinta dan berhubungan dengan Supini. Seorang gadis keturunan ningrat di desanya. Itu terjadi setelah keluarga Supini, melarang agar Supini jauh-jauh dari Darso. Sebab, status sosial di antara mereka sangat lah tajam.

Di titik ini, komitmen cinta mereka baru saja diuji. Meskipun berbeda status sosial, mereka tetap saling berhubungan secara diam-diam. Darso, berusaha menyebarkan kesadarannya soal kesetaraan manusia. Di satu sisi, ia juga berjuang dalam mempertahankan hubungannya dengan Supini.

Sampai suatu ketika, datanglah dua orang pria yang hendak meminang Supini. Dua pria tersebut adalah Rozaki dan Feri. Rozaki merupakan anak tuan tanah, sementara Feri adalah anak kepala desa. Hak istimewa pun bekerja. Karena memiliki status sosial yang sederajat dengan ningrat, mereka berdua mendapat karpet merah dari keluarga Supini.

Akibatnya, perseteruan antara dua keluarga Feri dan Rozaki pun terjadi. Di tengah pertikaian itu, hubungan antara Darso dan Supini kian memasuki masa kritis. Apalagi saat itu, neneknya baru saja meninggal. Satu-satunya harapan Darso ialah Supini seorang. Namun di satu sisi, ia menyadari bahwa ia bukan seseorang yang memiliki hak istimewa seperti Rozaki dan Feri.

Hubungan mereka semakin menemukan jalan buntu. Supini yang sudah putus asa, lantas memberikan tubuhnya kepada Darso. Karena menurutnya, meskipun ia menikah dengan orang lain, setidaknya Darso lah yang menjadi suami pertamanya. Darso yang awalnya sempat menolak permintaan Supini, lantas mengiyakannya. Mereka berdua marayakan malam pertama, meskipun tanpa hubungan pernikahan.

Cerita ditutup dengan kekalahan Darso atas Supini, begitu juga dengan perjuangannya dalam menghapuskan budaya yang melegitimasi kastanisasi di kampung Ketapang. Darso, ia di usir dari kampung lantaran dituduh berbohong soal hubungannya dengan Supini.

“Suaramu tetap indah, hayal tentangmu selalu mempesona, dan perlahan kau akan melihatku sempurna dengan sirna”

Giyan.


Kredit Foto : www.sahabatgiyan.blogspot.com