Hidup Ini Sungguh Absurd, Tidak Seperti Kelihatannya

Posted by
Kredit Ilustrasi : creapills.com


Saat masih mahasiswa baru, saya pernah memiliki target yang boleh dikata cukup mulia. Target tersebut adalah diwisuda dengan total waktu studi 3,5 tahun. Tahun ini adalah tahun di mana peluang untuk mencapai target itu baru saja terbuka lebar. Mengingat, tahun ini adalah tahun keempat bagi perjalanan studi kesarjanaan saya.

Seharusnya, saya menyambut ini dengan gegap gempita. Memilih tiarap sejenak dari aktivitas, lalu berjibaku dengan jurnal, buku, berikut cercaan dari para dosen pembimbing — layaknya mahasiswa se-angkatan saya. Apalagi target saya adalah lulus lebih cepat dari waktu normal. Seharusnya, konsekuensi yang saya terima lebih ketat dari itu semua kan?

Harusnya begitu. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Di titik ini, saya merasakan kehilangan gairah untuk ngebut mengerjakan skripsi. Tetap saya kerjakan. Hanya saja, saya memakai adagium Jawa ‘alon-alon penting kelakon’. Tentu saja, saya tetap memiliki alasan untuk ini. Berikut alasan saya :

Singkat cerita, saya memiliki satu senior organisasi yang sebetulnya mirip dengan Atta Halilintar. Senior saya itu bernama Azizu. Ia merupakan mahasiswa angkatan tua yang memilih untuk tidak tunduk pada sistem perguruan tinggi. Khususnya sistem yang mengharuskan mahasiswa lulus tepat waktu. Tapi tidak memberinya pilihan untuk pekerjaan. Selain memanfaatkan ijazah dengkul.

Suatu hari, kami bertemu di sebuah warung kopi tanpa disengaja, apalagi — sempat diduga-duga. Dalam pertemuan itu saya tetap saja bengal seperti biasanya. Membully Azizu soal kelulusan.

Seperti biasa, ia pun menimpalinya dengan pembelaan. Hanya kali ini, pembelaan tersebut lebih singkat, akan tetapi terbilang rumit untuk dipahami. Sebab, ia menggunakan kalimat dengan metafor tingkat tinggi yang berpotensi menjebak. Perkataan itu bunyinya begini: “mahasiswa yang benar-benar mahasiswa itu bukan lulus tepat waktu, melainkan lulus di waktu yang tepat

Sialnya, sewaktu saya menanyakan maksud dari perkataan itu, Azizu menyuruh agar saya menjadikannya PK, atau Pekerjaan Kosan. Versi lain dari Pekerjaan Rumah (PR). Itulah mengapa beberapa bulan ini, saya jarang keluar kosan, bung dan nona. Saya bersemedi dengan khidmat di kosan demi memecahkan teka-teki yang diberikan oleh Azizu. Alih-alih menemukannya, justru tugas ini nyaris membuat saya ingin bunuh diri — dengan cara terjun bebas dari lantai kosan yang hanya berjarak 100 sentimeter dari permukaan tanah.

Beruntungnya ketika hendak terjun bebas, gadget saya tiba-tiba berbunyi. Ternyata ada sebuah pesan dari salah seorang teman SMA saya, Tini. Tini menanyakan soal pengalaman saya saat bekerja di industri media. Alasannya karena ia menaruh minat pada pekerjaan di bidang itu. Kebetulannya juga, ia merupakan mahasiswa dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Pekerjaan di bidang ini, tentu saja ‘link and match‘ dengan program studi yang ditempuhnya.

Obrolan itu sangat singkat. Di akhir obrolan, saya hanya menyarankan agar dia segera mengerjakan skripsiannya dan lulus. Mengingat untuk bekerja di bidang itu, ada satu hal yang lebih penting dari sekadar ketersesuaian jurusan, bakat, bahkan, keteguhan pribadi. Ia adalah waktu. Ya, kerja di bidang itu tentu saja memerlukan komitmen terhadap waktu yang begitu besar.

Toh kebetulan saat ini, peluang untuk memasuki industri media sangat lah besar. Ia tidak harus riwa-riwi memburu akses, bahkan setelah kelulusan. Cukup mengisi hari-hari dengan meningkatkan kompetensi diri sambil mengerjakan skripsi. Pertanyaannya sekarang, jika Tini melakukan saran saya dengan baik, lalu ia lulus di tahun ini, sebutan apa yang pantas bagi dia? Apakah dia mahasiswa yang lulus tepat waktu, atau lulus di waktu yang tepat?

Menurut saya, jika setelah lulus Tini bisa memastikan bahwa ia diterima oleh industri media, maka ia mengantongi dua identitas sekaligus. Yakni sebagai mahasiswa yang lulus tepat waktu, dan lulus di waktu yang tepat. Akan tetapi, jika setelah lulus, Tini masih riwa-riwi memburu peluang untuk bekerja di bidang itu, maka ia hanya mengantongi identitas sebagai mahasiswa yang lulus tepat waktu — tapi modyar pada waktunya.

Apabila ditulis dalam bentuk rumus,
maka rumus yang muncul kurang lebih seperti ini :

Lulus tepat waktu :

(-kompetensi) + (-usaha) + (-berdoa) + (-akses) + (ijazah dengkul) / (-analisis peluang) = bunuh diri.

Lulus di waktu yang tepat :

(+kompetensi + (+relasi) + (+usaha) + (+berdoa) + (+akses) + (ijazah dengkul) / (+analisis peluang) = bunuh diri.

Agak masygul rasanya mengetahui dua-duanya hanya akan mengarahkan kita pada bunuh diri. Bunuh diri yang saya maksud adalah hidup ditengah kebingungan yang ditambah dengan gonjang-ganjing dari orang tua, mertua, bahkan tetangga — hanya karena Anda menjadi sarjana pengangguran. Ini bakal terjadi, saya percaya — apabila Anda tidak bisa memastikan sesuatu hidup Anda kedepannya. Pertanyaannya, kepastian seperti apa yang bisa kita harapkan?

Nyaris tidak ada. Karena fungsi universitas sejak dulu tidak mengajarkan Anda untuk bekerja. Dan bahkan, memastikan Anda bisa bekerja setelahnya. Sekali pun dengan modal keteguhan pribadi, niat, pelatihan bahkan ijazah dengkulnya. Barangkali benar kata Martin, bahwa kuliah itu sama seperti mendaki gunung. Sementara mahasiswa adalah lah pendaki itu sendiri. Pendaki yang tersesat utamanya.

Seperti pendaki yang tersesat, Anda diharuskan berjalan di Barat tetapi tiba di Timur. Anda bersusah payah menghindari jurang, tetapi lagi-lagi Anda kembali lagi ke jurang yang sama, berpuluh-puluh kali. Ini seperti kuliah. Setiap hari Anda dipaksa untuk mempelajari sosiologi birokrasi, antropologi basa-basi, dan ekonomi migrain. Tapi kemana pun Anda melangkah, Anda terus-menerus dihempas kembali ke tengah rimba raya omong kosong. Itulah manfaat universitas, berkat universitas Anda tidak hanya menjunjung kesia-siaan dalam kata-kata, tetapi juga dalam perbuatan

– Martin Suryajaya, Kiat Sukses Hancur Lebur (2016 : 194).

Itu lah makannya lulus tepat waktu mau pun lulus di waktu yang tepat nyaris tidak ada bedanya. Dua alibi konyol yang hanya akan membuat lubang kuping Anda disodok oleh linggis berkali-kali. Baik untuk sekarang ini, mau pun saat Anda melewati prosesi kelulusan Anda.

Apakah itu tidak bisa dirubah, bung?

Bisa dik milenial yang doyan mengaji. Utamanya, di bagian lulus di waktu yang tepat, saya kira. Hanya saja, agak musykil rasanya apabila itu tidak dibarengi dengan perhitungan dan pertimbangan yang begitu matang. Dan, ini lah perhitungan saya soal skripsi dan kehidupan pasca kelulusan :

Saya pernah punya mimpi, jika lulus nanti, saya ingin mendirikan lembaga pers, caffe literasi, penerbitan buku, lembaga penelitian. Itu lah mengapa sejak mahasiswa baru, saya bergiat di dunia jurnalistik, sempat jualan buku, dan menulis untuk media mainstream.

Selain untuk memperoleh pengetahuan ihwal manajemen, memupuk kompetensi diri, serta memperoleh modal kultural bernama ‘relasi’. Relasi itu bisa kita kategorisasikan dalam akses. Sementara akses itu jumlahnya ada banyak sekali. Saya hanya mendapatkan satu diantaranya, belum semuanya.

Modal finansial salah satunya. Selama ini saya hanya mendapatkannya lewat uang saku, kalau tidak menjadi kuli pena. Uang saku yang saya dapat biasanya saya belikan buku, sebagai bahan untuk menulis. Setelah tulisan itu selesai dan menghasilkan, buku itu lantas saya jual. Itu saya lakukan selama tiga semester. Dengan harapan, kelak saya bisa mewujudkan mimpi saya yang paling besar.

Sialnya, modal finansial itu tak kunjung terkumpul. Bahkan sampai sekarang, saat saya sudah mahasiswa tua dan mengetik catatan ini. Padahal saya sudah banting tulang selama tiga semester ini. Menulis dan jualan buku dari lapak ke lapak, dari tangan ke tangan. Di tengah persaingan dengan online shop yang begitu tajam. Di tengah ketatnya meja redaksi yang tidak memberi ruang pada penulis tanpa latar belakang berarti.

Dan, saya harus kembali pada hari itu. Di mana saya hanya bisa menabung uang saku untuk membeli buku, menulis lantas menjual bukunya. Untuk mengantisipasi ketatnya ruang redaksi media mainstream, saya pun mendirikan blog ini. Tujuannya lagi-lagi untuk mempersingkat masa banting tulang.

Itu lah yang membuat saya enggan untuk menyelesaikan skripsi dengan sistem kebut. Saya memilih untuk menundanya untuk beberapa bulan. Sebab menurut pandangan saya, saya akan lebih bahagia jika saya terlibat dalam kerja-kerja seperti ini. Kerja hidup yang jauh dari komando majikan dan ancaman potong gaji, kendati, tanpa jaminan apapun.

Itu lah perhitungan dan pertimbangan yang saya maksudkan itu. Sudah kah Anda menghitung dan mempertimbangkan kehidupan Anda sendiri?

Mengingat, tak ada kepastian yang menjamin kita setelah ini. Baik bagi kita yang ingin bekerja sesuai arahan universitas dengan ijazah dengkulnya, mau pun bagi kita yang ingin bekerja dengan cara-cara kita sendiri. Di zaman ini, zaman yang tidak memberi kesempatan bagi mimpi-mimpi kecil, apalagi peluang untuk mimpi-mimpi besar. Dengan begitu, hidup ini sungguh absurd, tidak seperti kelihatannya. (Faris Fauzan Abdi)