Hari Kelima : Bukan Intelektual Biasa

Posted by
Kredit Foto : Dokumen Pribadi

Hari semakin malam. Beberapa kawan saya memutuskan kembali ke Balai Desa untuk beristirahat. Karena besok pagi Divisi Sosial Budaya akan mengadakan lomba anak-anak yang tentunya, akan menguras energi mereka habis-habisan.

Meski beberapa kawan kami sudah kembali ke Balai Desa, saya, Adly dan juga Edi memilih tetap berada di tempat. Untuk sekadar ngopi sambil mengobrol ringan tentang beragam topik. Mulai kebijakan impor beras, konsep ekonomi Pancasila, sampai imaji tentang desa mandiri seperti Kasepuhan Ciptagelar yang difilmkan oleh Watchdoc empat tahun silam.

Obrolan itu sangat panjang. Dari obrolan itu saya paham satu hal : bahwa Pak Sulis bukan sekadar tokoh intelektual biasa. Melainkan tokoh intelektual dengan keberpihakan, lebih-lebih gemar memberikan alternatif untuk merubah keadaan.

Sebagai contoh dalam problem impor beras. Kita rakyat Indonesia jelas menyepakati bahwa impor beras merupakan kecelakaan. Apalagi di saat alih fungsi lahan pertanian yang kian masif. Saking masifnya, riset Jurnal Tanah menyebut, sawah akan habis di tahun 2025.

Kalau sudah begitu, maka kelangkaan beras tidak lama lagi akan terjadi. Dan tentu saja, harga beras akan semakin tinggi. Maka , kebijakan impor beras seakan-akan datang sebagai satu-satunya solusi untuk tetap menstabilkan harga beras di pasar domestik, dengan logika menambah pasokan secara jor-joran tentunya.

Makannya, saya juga mengkritik itu mas. Saya kritik habis“, kata Pak Sulis.

Selain mengkritik kebijakan impor beras, Pak Sulis juga mengkritik gaya hidup masyarakat Indonesia yang selama ini gemar membuang sisa makanan. Terutama beras. Padahal, limbah makanan yang terbuang setiap harinya itu cukup untuk menghidupi rakyat Indonesia.

Kita ini kadang suka sekali kritik pemerintah soal kebijakan impor, tapi kita tidak pernah menghemat nasi yang kita makan. Coba saja mas-mas ini hadir dalam acara-acara besar, atau sesekali mengintip dapur pembuangan sebuah restoran. Lihat berapa makanan yang terbuang setiap harinya. Hitung keseluruhannya dan bandingkan dengan jumlah orang Indonesia. Pasti cukup untuk memberikan mereka makan setiap harinya“, kata Pak Sulis sambil berapi-api.

Maka dari itu, selain mengubah kebijakan, ada kalanya kita juga merubah mindset kita. Kebetulan saya sekarang lagi menggalakkan gerakan sosial untuk menangani pola hidup macam ini“, imbuh Pak Sulis.

Caranya pak?” , tanya saya penasaran.

Membuat gerakan sosial selamatkan satu sendok nasi. Kalau mau gabung, ayo“, ajak Pak Sulis.

Menarik pak. Tapi biar goal bagaimana? “, tanya saya polos.

Ya kampanye. Kita advokasi bareng-bareng. Dulu saya juga pernah membuat gerakan sosial macam inu. Tapi waktu itu dalam rangka penolakan kita kepada rencana pembangunan tol tengah di Kota Surabaya. Alhamdulillah berhasil kok. Asal konsisten“, terang Pak Sulis.

Iya ya pak, sekarang kan udah zamannya media sosial. Dengan begitu, kampanye-kampanye seputar hal-hal yang positif seharusnya lebih cepat tersebar“, sahut Edi.

Iya, tapi saya dulu nggak pakek media sosial mas. Saya dulu pakek koran. Saya kumpulkan semua warga yang terancam penggusuran, saya tarik semua kalangan akademisi yang konsen terhadap tata ruang kota, lalu saya sebarkan ke masyarakat Kota Surabaya. Mau lihat korannya?” , ujar Pak Sulis.

Iya pak, boleh“, jawab saya singkat.

Pak Sulis lantas beranjak dari tempat duduknya untuk mengambil koran yang diceritakannya itu. Selang beberapa saat, ia keluar lagi membawa beberapa koran yang sudah ada dalam genggamannya. Koran-koran tersebut kemudian dibagikan kepada kami.

Coba dibaca dulu“, ujar Pak Sulis.

Saya hanya membaca sebentar. Dan benar saja, koran tersebut adalah koran perjuangan yang memuat pendapat. Mulai dari subjek advokasi (warga terdampak), sampai kalangan intelektual yang konsen terhadap tata ruang kota. Karena menarik, saya berniat untuk mengabadikan koran ini dalam dalam sebuah foto. Tentu saja melalui handphone pribadi saya. Ketika saya hendak memfoto bagian koran itu, Pak Sulis berujar :

Nggak usah di foto, bawa saja. Saya masih punya banyak. Lagian soft file nya sudah ada kok. Bawa, bawa“, ujar Pak Sulis.

Wah terima kasih ya pak. Kebetulan juga saya suka mendokumentasikan koran, buletin dan sebagainya“, kata saya.

Buat apa?“, tanya beliau penasaran.

Dikliping pak“, jawab saya.

Hahaha, iya bagus itu. Jangan dibuang, tapi dibaca“, kata Pak Sulis sambil tertawa.

Malam semakin larut. Jam sudah menunjukkan pukul 23.45 WIB. Merasa tidak enak hati, saya, Edi, dan Adly memutuskan untuk pamit dan kembali ke Balai Desa. Untuk beristirahat, sambil menulis catatan yang jumlahnya tiga buah ini.