Jalan Keberpihakan

Posted by
Kredit Ilustrasi : kamijurowski.wordpress.com

“Dan bukannya satu ciri manusia modern adalah juga kemenangan individu atas lingkungannya dengan prestasi individual? Individu-individu kuat sepatutnya bergabung mengangkat sebangsanya yang lemah, memberinya lampu pada yang kegelapan dan memberi mata pada yang buta”

(Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia, 1980)

Kebiasaan membaca dan kecakapan hukum. Barangkali dua kompetensi itu yang hendak ditanamkan oleh kawan saya Trisna kepada masyarakat saat ini.

Benar saja, beberapa bulan silam ia bercerita bahwa saat ini ia tidak hanya menjadi dedengkot Perpustakaan Jalanan Amorfati atau aktivis GMNI saja. Melainkan juga, menjadi pegiat literasi yang aktif memberantas buta huruf sekaligus menjadi pengacara bagi masyarakat yang termarjinalisasi. Semua aktivitas itu, ia lakukan dengan bergeriliya dari desa ke desa.

Bagi negara yang memiliki paradigma positivisme hukum macam Indonesia, dua keterampilan ini menjadi penting untuk dimiliki masyarakat. Membaca membuat masyarakat tidak buta aksara. Sementara kecakapan hukum, membantu masyarakat agar tidak mudah diplokotoi oleh hukum yang kadang tidak berpihak terhadap mereka. Barangkali kegentingan itu yang dibaca oleh Trisna selaku pegiat literasi dan mahasiswa hukum. Meskipun ia bukan satu-satunya kelas terpelajar yang pernah mengambil jalan keberpihakan di bidang ini.

Dalam hal pemberantasan buta huruf semisal. Sukarno, selain merupakan orator ulung dan presiden pertama republik — ia juga aktif mengkampanyekan pemberantasan buta huruf di awal kepemimpinannya sebagai presiden pertama Republik Indonesia. Operasi itu dilakukan oleh Sukarno lantaran ia percaya bahwa buta huruf akan menjauhkan republik dari jalan nasionalisme dan kesejahteraan.

Dalam kecakapan hukum, seorang bapak pers nasional asal Blora, RM Tirto Adhi Soerjo — juga pernah melakukan hal yang dilakukan oleh Trisna. Seperti dikisahkan Muhidin M Dahlan, Tirto tidak hanya membagi masyarakat menjadi dua kelas : kelas terprentah dan kelas pemrentah, untuk menentang politik rasial dari kolonial Belanda saja. Tirto, ia juga meletakkan jalan keberpihakannya pada kelas yang terprentah.

Berbeda dengan Trisna yang memilih menjadi pengacara dan memberikan pengetahuan seputar hukum secara verbal kepada masyarakat — Tirto memilih jalan jurnalistik untuk menterjemahkan hukum pidana/perdata kepada umat. Tentu saja lewat koran mingguan bernama Soeloeh Keadilan. Sebuah media hukum pertama milik pribumi yang konon, hanya konsen terhadap penyuluhan hukum dan perlawanan lewat jalur litigasi.

Berpuluh dekade telah berlalu. Kini ada seorang kelas terpelajar yang mewarisi garis perjuangan para pembesar republik itu. Kelas terpelajar itu bernama Trisna. Sebagai seorang marhaenis, ia membuktikannya dengan berpihak pada kelas terprentah. Mempersenjatai kelas terprentah dengan dua kompetensi maha penting : membaca dan kecakapan hukum. Itulah Trisna dan jalan keberpihakannya. (Faris Fauzan Abdi)

2 comments