Bintang Senja : Kisah Perjalanan Hidup Karamel Sastrawira

Posted by
Kredit Ilustrasi : scrumaka.wordpress.com

Judul Buku : Bintang Senja

Penulis : Fathin Najla

Penerbit : ALRA Media

Tahun Terbit : 2019

ISBN : 979-623-7192-45-9


Novel ini merupakan novel pertama dari Fathin Najla. Seorang mahasiswa yang sedang menyelesaikan studi sarjana prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Muhammadiyah Malang. Lebih-lebih telah beberapa kali menjadi topik utama dalam beberapa forum diskusi. Pertama, dalam acara bedah buku yang diadakan Studie Club Rumah Mahasiswa Merdeka. Kedua, dalam acara AKARFEST yang bertajuk ‘Sinergitas Karya Sastra di Era 4.0’. Ketiga, dalam acara bertajuk Belajar Sastra dengan Karya Sastra yang diadakan oleh LSO Didaktik Universitas Muhammadiyah Malang.

Sinopsis

Secara umum, novel ini bercerita soal perjuangan hidup seorang gadis bernama Karamel Sastrawira. Awalnya, Karamel atau akrab disapa Kara, merupakan seorang gadis yang lahir dari kubangan kesedihan. Sejak kecil, ia harus menerima dirinya sebagai seorang anak yang lahir dan dibesarkan dalam keluarga yang tidak baik-baik saja. Ibarat air dan minyak, ayah dan ibu Kara adalah dua insan yang sulit bersatu. Ayah Kara merupakan seorang yang dingin dan arogan, sementara ibunya adalah sosok kuat dan tegar. Dan karakter ibunya itulah yang membuat hubungan pernikahan mereka tetap langgeng sampai Kara menginjak usia dewasa.

Sampai suatu ketika, ada saat dimana ayah Kara semakin hari semakin arogan saja. Dan hal itu membuat ibunya makin sakit-sakitan. Karena tidak kuat memendam tekanan batin yang begitu besar, Kara akhirnya mengizinkan ibunya untuk meminta cerai kepada ayahnya. Perceraian itu terjadi saat usia Kara terbilang masih sangat muda, yakni 18 tahun. Di mana waktu itu Kara baru saja menjajakkan kakinya di dunia perguruan tinggi. Dan sejak perceraian itu, kehidupan Kara semakin tidak baik-baik saja.

Kara, ia hanya tinggal bersama kakak dan ibunya. Ibunya harus merangkap diri sebagai seorang tulang punggung keluarga agar buah hatinya bisa manamatkan bangku perguruan tinggi. Menyadari kondisinya ini, Kara benar-benar serius menjalani masa kuliahnya dan tumbuh sebagai seorang mahasiswa yang mandiri. Seorang aktivis organisasi yang merangkap diri sebagai seorang penulis.

Semua perubahan ini tidak terjadi begitu saja. Melainkan datang dari desakan hidup yang kemudian didukung oleh sebuah proses interaksi dengan lingkungan. Benar saja, di fase ini Kara memang sering terlibat aktif dalam sebuah diskusi. Baik dengan teman sejawatnya, maupun kakak se-organisasinya. Selain berpengaruh terhadap perkembangan dirinya, perlahan semua proses ini membuat Kara jatuh cinta setelah sebelumnya sempat mengalami kegagalan.

Di momen ini, ada dua lelaki yang dikagumi Kara. Dua lelaki itu adalah Bintang Purnama dan Bintang Senja. Dua-duanya memiliki perannya masing-masing dalam hidup Kara. Namun seiring berjalannya waktu, Kara lebih memilih buat melabuhkan hatinya kepada sosok yang ia sebut sebagai ‘Bintang Senja’. Mereka terlibat bersama dalam sebuah hubungan. Kendati sebelumnya, keduanya sempat ragu.

“Pulang bukan hanya tentang rumah, tapi tentang sebuah peluk untuk mengakhiri perjalanan lelah. Sudahkah kau temukan peluk itu?”

Karamel Sastrawira dalam Bintang Senja, 2019.

Tinjauan Buku

Membaca novel ini membuat saya mengingat salah satu teori keseharian milik salah satu filosof Hungaria bernama Agnes Heller. Sebagaimana yang diulas Peter Murphy (2002 : 226), Heller dalam teorinya menyebutkan bahwa tujuan utama dari kehidupan sehari-hari adalah pemeliharaan diri. Dengan kata lain, untuk memelihara hidupnya, seseorang harus mengembangkan segala macam kemampuan sebagai objektivikasi dalam dirinya sendiri (in it self). Dan menjadi ‘berkembang’ atau memiliki kompetensi tertentu dalam kehidupan sosial, adalah hasil akhir dari keseluruhan proses ini.

Itulah yang dialami Karamel Sastrawira. Di awal cerita, Kara dikenal sebagai seorang gadis yang hidup di tengah ketidakharmonisan keluarga dan tak jarang, Kara dibuat putus asa karenanya. Namun suatu ketika, ada saat di mana dia harus hidup di tanah rantau sebagai seorang mahasiswi. Lewat interaksi dengan lingkungan yang baru, kepribadian Kara perlahan tumbuh sedemikian rupa. Kara, ia tidak hanya menjadi mahasiswi biasa, melainkan juga menjadi sosok organisatoris yang gigih, mandiri, dan tidak mudah putus asa.

Semua kisah hidup Kara ini ditulis dengan alur yang boleh dikata cukup mengalir. Dalam penulisannya, penulis banyak menghindari kata yang terlalu kias. Utamanya dalam mendeskripsikan beberapa peristiwa yang disajikan dalam novel. Seperti latar waktu, tempat, serta suasana. Itulah beberapa kelebihan yang membuat novel ini menjadi salah satu karya sastra yang mudah untuk dipahami.

Kendati memiliki beberapa kelebihan, novel ini tidak terlepas dari beberapa kekurangan. Semisal dalam hal penokohan, penulis terkesan mensamarkan identitas beberapa tokoh dengan menggunakan beberapa analogi. Semisal dalam penyebutan ‘Bintang Senja’ dan ‘Bintang Malam’. Tidak hanya itu, penulis juga tidak menceritakan latar belakang para tokoh yang ada di dalam novel. Hal tersebut membuat pembaca acap merasa kesulitan dalam mengkategorisasi peran setiap tokoh di dalam novel.

***


Kepustakaan :

  1. Najla, Fathin. 2019. Bintang Senja. Komunitas Alra Media: Banjar
  2. Beilharz, Peter dkk. 2002. Teori-Teori Sosial : Observasi Kritis terhadap Para Filosof Terkemuka. Pustaka Pelajar: Yogyakarta (hlm 226)

3 comments