Untukmu ‘Dik’

Posted by
Kredit Ilustrasi : arabageekcomen on pinterest.com

Bukan Pengecut

Aku bukan pengecut dik, bukan
Aku bukan pengecut
Jika aku bisa merangkai kata menjadi senjata,
Bukan kah membuat kata manis sepanjang masa adalah pekerjaan mudah?
Jika aku bisa jujur dengan kata hati,
Bukan kah bertemu dengan mu adalah hal yang tak patut dinanti-nanti?

Bukan dik, aku bukan pengecut
Aku tidak sepengecut pikirmu
Dan aku akan selalu membantahnya,
Karena sungguh ini soal lain,
Jika udang di balik batu merupakan kode tentang maksud yang tersembunyi,
Maka sungguh, abaiku terhadapmu ini ada tafsirnya

Percayalah dik percayalah
Ini bukan soal aku yang tidak mau berjuang
Atau aku sudah menghempas segala perasaan
Tapi, inilah perasaanku itu

Perasaan yang menerima untuk sekadar merasa
Bukan harus berbalas angka-angka, layaknya matematika
Apalagi terstandar macam sertifikasi nikah

Sidoarjo, 2020

***

Jalan Sunyi

Dik aku masih disini,
Di jalan sunyi itu
Masih tegap tubuhku,
Masih teratur langkahku,
Untuk menyusurinya

Tapi dik, aku sendirian
Beberapa kawan telah hilang
Sementara nasib kian tak pasti
Beberapa memutuskan berhenti,
Atas nama cuan
Beberapa memutuskan untuk menjilat pantat politisi,
Menunggu sebuah kedudukan

Tapi aku masih disini dik,
Menyusuri jalan sunyi itu
Mengumpulkan semua kabar soal kekalahan,
Mencoba semua kemungkinan
Tentang sebuah kemenangan
Hingga bermuara padamu,
Lalu aku dan kau menjadi ‘kita’

Sidoarjo, 2020

***

Peluru

Jika Wijhi Thukul dalam puisinya berkata,
Kemerdekaan adalah nasi,
Ditelan jadi tai
Maka aku berkata sebaliknya, dik

Jika rasaku ini adalah nasi,
Ditelan jadi kekuatan
Kekuatan untuk tetap bertahan, Menghadapi bengisnya laku para tuan
Melesat jauh, menjemput kemenangan

Sidoarjo, 2020

***

Tanpa Judul

Dik,
Sejak malam itu aku enggan menggerutu
Meski aku, sedang ingin bertemu
Untuk hanya bersandar dan bercerita,
Atau sekadar mengucap kata rindu

Dik,
Apa kau, juga merasakannya?
Jika iya maka bersabar lah
Jaga hatimu itu sampai aku pulang,
Mengetuk dan membuka gagang pintunya
Dan, kau akan mendapati aku sedang kelelahan setelahnya

Sidoarjo, 2020

***

Demi Masa

Hari-hari kian baru dik,
Tapi badai tetap menggilas jalanan,
Seolah memaksaku meledak dari dalam keluar

Ku lihat disana,
Beberapa orang gegap gempita,
Mereka keluar dari kandangnya
Menyusuri jalan,
Membenamkan diri dalam badai
Meretas sebuah perjuangan

Dik, maaf,
Maaf karena aku harus bergegas menuju barisan
Karena itu, untuk beberapa saat aku harus abai terhadap kau,

Namun percaya lah dik, percaya lah
Semua ada masanya
Mungkin saat ini aku hanya memelukmu dengan kata

Namun suatu hari nanti dik,
Aku akan memelukmu dengan raga
Lalu, kita akan berkelakar setelahnya

Sidoarjo, 2020