[ARSIP] Kelas Menulis Rumaka : Pengalaman Menulis Novel Bintang Senja

Posted by
Kredit Ilustrasi : scrumaka.wordpress.com

Indonesia merupakan negara dengan tingkat literasi yang cukup memprihatinkan. Central Connecticut State University (CCSU) lewat laporan ‘World’s Most Literate Nations’ pada tahun 2016 merilis bahwa minat baca Indonesia menempati peringkat 60 dari 61 negara. Sementara riset International Student Assesment (PISA) yang dirilis oleh Organization for Economic Co-Operation and Development (OECD) pada tahun 2017 Indonesia menempati urutan ke-60 dari 72 negara dengan minat baca terendah.

Selain problem minat baca, buruknya kondisi literasi di Indonesia dapat dilihat dari jumlah judul buku yang terbit setiap tahunnya. Islamic Book Fair (IBF) pada tahun 2012 bahkan merilis bahwa Indonesia hanya menerbitkan sekitar 18.000 judul per-tahun. Angka ini sangat jauh jika kita bandingkan dengan jumlah terbitan di Amerika Serikat, Tiongkok dan berbagai negara lainnya.

Berangkat dari itu semua, Studie Club Rumah Mahasiswa Merdeka (SC Rumaka) mengadakan Kelas Menulis Rumaka pada (17/05/19), dengan tema : Pengalaman Menulis Novel berjudul ‘Bintang Senja’. Kelas ini diadakan di Gazebo Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Malang. Kelas ini diisi oleh Fathin Najla selaku penulis dan pembicara utama, serta Faris Fauzan Abdi selaku moderator.

Kelas itu dimulai sekitar pukul 16.00 WIB dan dihadiri oleh beberapa mahasiswa, antara lain :

1.Irfan Efendi (Mahasiswa PBSI FKIP UMM, anggota SC Rumaka)

2.Fikri Fakhturrahman (Mahasiswa PGSD FKIP UMM, anggota SC Rumaka)

3.Ahmad Fadlil H (Mahasiswa PBSI FKIP UMM, anggota Komunitas Sangkar)

4.Diana Ayu Syafitri (Mahasiswa PGSD FKIP UMM, anggota SC Rumaka)

5.Moch Nasihudin CS (Mahasiswa PBSI FKIP UMM, anggota Komunitas Sangkar)

Forum diskusi dibagi atas dua segmen. Pertama, mengupas pengalaman menulis pembicara. Kedua, segmen pertanyaan dengan. Sebagai catatan, tiap-tiap sesi berisi dua pertanyaan.

Segmen Pertama

Dalam segmen pertama ini, Faris selaku moderator bertanya ihwal motivasi dan dorongan untuk menulis. Pertanyaan moderator langsung dijawab pembicara. Dalam hal menulis, pembicara menyatakan bahwa awalnya, ia tertarik dengan dunia kepenulisan karena dorongan tugas mata kuliah. Utamanya saat menjadi mahasiswa baru.

Setelah pertanyaan pertama dijawab lengkap oleh pembicara, moderator langsung melompat ke pertanyaan kedua. Dalam pertanyaan kedua ini, moderator menanyakan ihwal tips-tips untuk konsisten dalam menulis. Karena sebelumnya, pembicara sempat mengeluhkan bahwa ia sempat tidak konsisten dalam menulis novelnya.

Pembicara membenarkan fakta ini. Lebih dari itu, ia juga memaparkan beberapa tips yang ia gunakan saat menghadapi inkonsistensinya tersebut. Tips tersebut yakni menetapkan jadwal menulis. Semisal sehari satu lembar tulisan, atau satu plot cerita. Yang secara keseluruhan disesuaikan dengan aktivitas harian kita.

Tidak hanya itu, pembicara juga memaparkan beberapa tips agar novel yang akan ditulis kaya akan tata bahasa dan berbasis riset. Tips tersebut antara lain, sering membaca buku guna memperkaya diksi, sering-sering merenungi peristiwa di lingkungan sekitar.

Pembicara lantas menambahkan beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh calon penulis yang ingin menulis dan menerbitkan novelnya. Pertama, niat yang baik. Kedua, memiliki rancangan karya berupa tema, alur, penokohan, dan lain sebagainya. Ketiga, memiliki kelihaian dalam me-manajemen konflik di dalam cerita. Keempat, sering membaca karya orang lain. Terakhir, konsisten.

Dalam pertanyaan ketiga dan keempat, moderator bertanya ihwal dinamika, waktu dan isi novel Bintang Senja secara umum. Pertanyaan itu pun langsung dijawab oleh pembicara. Ia mengatakan bahwa dinamika dalam penulisannya cukup banyak. Bahkan pembicara mengakui, bahwa keyakinannya dalam menerbitkan novel perdananya itu sempat naik turun.

Namun akibat dukungan moril dari berbagai pihak, akhirnya novel Bintang Senja itu berhasil ia susun dalam kurun waktu satu tahun. Ia pun mengatakan bahwa novel ini merupakan novel pertama dari lima karyanya yang belum rampung. Sementara untuk pertanyaan tentang isi novel ‘Bintang Senja’ secara umum, pembicara hanya mengatakan bahwa novel ini adalah kisah seorang perempuan dengan berbagai persoalan.

Segmen Kedua

Di segmen kedua ini, sesi pertanyaan dilemparkan kepada forum. Pertanyaan pertam datang dari peserta kelas yang bernama Khairul Ihwan. Berikut isi dari pertanyaannya :

“Tolong ceritakan secara utuh bagaimana mbak bisa menerbitkan karya ini!”

Jawaban Pembicara

“Jadi cerita awalnya adalah dari Instagram. Waktu itu kebetulan ada penerbit baru yang menawarkan promo 200 ribu untuk penerbitan. Mulai dari proses penyuntingan, pemilihan kertas, disain judul sampai penerbitan ber-ISBN”

Karena tidak ada pertanyaan lebih lanjut, moderator memutuskan untuk bertanya pada pembicara. Isi pertanyaan tersebut begini :

“Indonesia kan kurang dalam penerbitan buku (merujuk hasil riset di atas). Lah menurut saya dalam artikel yang pernah saya terbitkan , salah satu faktor penyebabnya adalah maraknya pembaca buku. Nah mbak Fathin ini kan sudah menerbitkan buku, bagaimana respon mbak atas pembajakan buku yang marak terjadi?“

Jawaban Pembicara

“Kalau boleh jujur ya kadang saya kesal. Kenapa orang yang mengutip karya seseorang kok sering banet nggak nyantumin nama pembuat karya. Ya kecewa sih. Kalau masalah pembajakan buku, saya juga tidak suka, dari dulu malah. Makannya dari dulu sampai sekarang, saya tidak suka beli buku bajakan.”

Pertanyaan selanjutnya, datang dari Diana Ayu Syafitri. Isi pertanyaan tersebut begini :

“Apa impian mbak Fathin untuk buku ini?”

Jawaban Pembicara

“Lewat novel ini, sebenarnya ada yang pingin tak buktikan seperti pengalaman rasa sakit saat saya diasingkan oleh orang-orang. Di satu sisi, agar orang bisa mengerti cerita pribadi saya. Kalau masalah impian, sebenarnya saya itu dulu bermimpi jadi dokter tapi karena tidak bisa fisika akhirnya saya nyerah. Sekarang sih mimpi saya ingin jadi penulis dan dosen”

Kelas berakhir pukul 18.32 WIB dan dilanjutkan dengan peresmian Kelas Sastra.

Notulen : Fikri Fakhturrahman

Editor Naskah : Faris Fauzan Abdi

***


*TEKS reportase ini sebelumnya dimuat dalam kolom agenda Jurnal Rumaka. Dimuat ulang disini semata-mata demi tujuan pengarsipan dan pendidikan