Zine BAGI-BAGI Vol I, Menulis Pengalaman Pribadi itu Penting

Posted by
Kredit Ilustrasi : Loise Miranda (@joyful_Grace on Pinterest)

Bagi saya, aktivitas corat-coret itu menyenangkan. Dan saya kira hal ini juga diamini oleh penulis zine BAGI-BAGI volume I ini. Dengan hanya bermodalkan pena dan kertas, si penulis lantas mencurahkan semua isi pikirannya lalu mengabadikannya dalam sebuah zine. Sebuah medium yang konon katanya, tidak mengindahkan sistematika kepenulisan ala media mainstream.

Zine BAGI-BAGI volume I ini, tidak hanya berisi beberapa catatan inspiratif sebagai hasil perenungan si penulis ihwal beberapa peristiwa yang telah di alaminya semata. Melainkan juga, berisi beberapa tulisan lainnya. Seperti review film, jadwal nge-gigs, karya ilustratif yang sarat kritik sosial, sampai quotes dari beberapa band underground.

Membaca zine BAGI-BAGI, seolah menyadarkan saya betapa pentingnya memaknai sebuah peristiwa sehari-hari. Sebab dari proses kreatif bernama pemaknaan lah inspirasi seseorang biasanya lahir. Menyulap sesuatu yang sederhana, menjadi sesuatu yang luar biasa lalu membagikannya kepada orang lain. Pertanyaannya, mengapa harus dibagikan ke orang lain? Apa pentingnya?

Begini, dalam kehidupan itu manusia tidak bisa terhindar dari sebuah proses interaksi antara dirinya dengan lingkungannya. Hasil akhir dari semua proses interaksi tersebut, kita namai saja peristiwa. Jika disatukan, kumpulan peristwa itu lambat laun akan bertransformasi menjadi sebuah pengalaman.

Pengalaman itu gurunya kehidupan. Sebab dari pengalaman lah manusia mendapatkan suatu nilai yang berguna bagi perkembangan dirinya sendiri (in it self). Namun, setiap pengalaman antar satu manusia dengan manusia lain jelas berbeda. Sebab proses interaksi di antara mereka, berlangsung dalam ruang dan waktu yang berbeda pula. Begitu pun juga dengan proses pemaknaannya. Ia melibatkan sudut pandang yang boleh jadi, berbeda pula.

Itulah pentingnya berbagi itu. Kita belum tentu memiliki pengalaman yang sama dengan manusia lainnya. Begitu pun dengan mereka. Mereka belum tentu memiliki pengalaman yang kita punya. Untuk mendapatkan pengalaman satu sama lain, maka diperlukan adanya suatu pertukaran.

Dalam pertukaran ini, seharusnya umat manusia mengantongi identitas ganda. Sebagai seorang murid, sekaligus sebagai seorang guru. Saling mengajari, dan tak segan untuk diajari. Lalu biarlah proses produksi dan pertukaran nilai itu terus berlangsung. Sampai semua proses itu berhasil membentuk tatanan masyarakat yang berbudaya.

Dan proses pertukaran itu akan lebih cepat jika dilakukan melalui sebuah tulisan. Sebab, sebuah tulisan memiliki potensi untuk dibaca banyak orang. Baik orang semua di sekitar kita, mau pun semua orang yang belum sama sekali kita kenal. Apalagi di era digital seperti ini. Sebuah era dimana batas teritorial tidak lagi menghalangi kerja-kerja kita untuk menyebarluaskan informasi.

Tidak usah takut dalam menuliskan semua pengalaman. Sebab hakikatnya menulis itu bebas. Ia tidak mengharuskan kita untuk memiliki bakat menulis, apalagi mengindahkan sistematika kepenulisan yang baik dan benar. Anggap saja menulis itu seperti aktivitas corat-coret. Di mana kita bebas menulis apapun yang kita pikirkan. Tentu saja dengan gaya kepenulisan yang kita kehendaki.

“Menulis dan corat-coret itu menyenangkan. Setiap saat kita melihat, mendengar, merasakan banyak hal. Hati, jiwa dan pikiran langsung bereaksi, tangan tergerak pena digenggam. Maka, semua ini ku persembahkan” (Anonim dalam Zine BAGI-BAGI, 2011)

***


Informasi Zine :

Judul : Bagi-Bagi Volume I
Penulis : Anonim
Dirilis Oleh : PTK Distribution
Tahun Terbit : 2012

*UNDUH dan baca zine BAGI-BAGI DISINI.

3 comments