Putol dan Tabiatnya

Posted by
Kredit Ilustrasi : McQuad via rollingstone.com

HARI itu, perpustakaan jalanan Rumaka membuka lapak buku secara perdana di bulan puasa. Puji syukur, perpustakaan jalanan pada hari itu bisa dibilang cukup ramai. Ramai pembaca, peminjam buku sampai ramai pengunjung. Mayoritas buku yang dibaca, dipinjam adalah buku puisi dan novel. Sementara buku yang ‘berat-berat’ biasanya hanya dibuka beberapa halaman saja dan ditaruh kembali. Tidak dibaca lebih lanjut, apalagi dipinjam.

Singkat cerita, tak lama sebelum tutup, kami sempat kedatangan seorang tamu. Seorang kawan dari organisasi lama — yang saya pun pernah ada di dalamnya. Sebut saja nama kawan saya itu Putol (nama samaran). Dan Putol adalah salah satu nahkoda dalam cabang organisasi itu.

Dari cerita Putol, saat itu ia sedang mencari buka gratis di masjid-masjid. Karena melihat saya, ia akhirnya mampir ke lapak baca Rumaka.

Jadi sibuk beginian rupanya“, kata Putol.

Iya tum sibuk menggantikan peran negara dalam mengatrol budaya baca”, kata saya sambil cengar-cengir.

Buset, menegasi peran negara sekali jawaban ini. Padahal dalam hal ini, pemerintah sudah berperan dalam distribusi buku. Namun lewat pernyataan saya ini, seolah-olah negara tidak berbuat apa-apa. Buat negara, saya minta maaf. Saya terpaksa melakukannya. Pasalnya, yang saya tahu Putol adalah orang paling progresif sedunia. Kalau tidak memakai jawaban ala-ala aktivis, urusan bisa jadi berabe. Bisa jadi pasca itu anda harus siap-siap kena label : nggak progresif, nggak ideologis sampai ‘maaf kita kontra-revolusioner’. Ngeri sekali. Tapi ya itulah si Putol dengan tabiatnya.

Usai bertukar kabar, Putol duduk bersila di trotoar sambil mengamati buku-buku yang dipajang oleh kawan-kawan perpusjal Rumaka. Di sela aktivitas itu, ia sempat berkata begini :

Haha, seharusnya buku-buku ini diganti dengan buku-buku ‘kiri’ ris. Seperti Geneologi Kapitalisme, Das Kapital atau buku kiri lainnya. Buat apa diisi sastra-sastra begini. Ada buku kiat-kiat sukses lagi. Buat apa? Nggak berguna”, kata Putol dengan mimik wajah tak berdosa.

Dengan santai, kata-kata Putol itu saya timpali begini :

Ada step yang harus ditempuh, ada tempat, ada analisis : mengapa kita sampai hari ini kita masih menjajakan buku sastra, mata kuliah bahkan kiat-kiat sukses. Ini cuma pengantar guna mengatrol minat baca. Masalah bacaan super berat seperti itu, ada waktunya tum tol. Tolong jangan begitu lah”, timpal saya.

Kali ini, Putol memang kebangetan. Akan tetapi saya tetap memakluminya. Sebab seperti yang saya katakan tadi, itulah Putol dengan tabiatnya sebagai aktivis yang konon katanya ‘kiri’. Saking kirinya, ketika berkendara ia selalu menyalakan lampu ritingnya ke kiri. Meskipun ia membelokkan motornya ke arah kanan. Kekiriannya tidak sampai disitu saja. Di Instagram semisal, Putol tak lupa menggunakan poster Komune Paris sebagai avatar agar kelihatan kiri. Bahkan sering mengaku bahwa dirinya sudah kahatam buku karya Marx yang paling agung : Das Kapital. Khatam berkali-kali pula katanya.

Namun hari ini, di lapak baca ini — semua gambaran saya atas ‘kekirian’ Putol itu lantas ambyar sedemikian rupa. Persoalannya hanya karena ia tidak adil dalam menilai karya seseorang. Memang, saat itu lapak baca perpusjal Rumaka didominasi buku-buku diktat mata kuliah, novel, antologi puisi bahkan kiat-kiat hidup sukses. Buku-buku itu kebanyakan datang dari penulis baru sampai penulis yang paling mahsyur. Ada buku Boy Chandra, Tere Liye, Djoko Pinurbo, Fiersa Besari, WS Rendra, bahkan Pramoedya Ananta Toer. Tapi di hadapan Putol, buku-buku ini adalah buku yang katakanlah ‘ngehe’.

Putol sungguh keterlaluan. Padahal ia seorang penulis. Tentu ia paham bagaimana susahnya meracik sebuah pemikiran yang disusun dengan kata-kata, kemudian dikukuhkan sebagai sebuah karya. Ia jelas paham, tapi dia menghinanya.

Padahal saat itu, ada Pramoedya Ananta Toer yang paling fenomenal.
Sebut saja karya-karyanya seperti Bumi Manusia, Jejak Langkah, Rumah Kaca dan terakhir Anak Semua Bangsa. Semua karya yang dilarang edar karena tuduhan menyebarkan idiom-idiom berbahaya. Padahal itu tidak terbukti sama sekali. Malahan, seiring berjalannya waktu karya-karya tersebut sudah diterjemahkan di berbagai negara. Bahkan menjadi bacaan wajib bagi mahasiswa sastra yang tersebar di beberapa Universitas di Eropa.

Dan seperti yang kita tahu, Pram dalam buku Bumi Manusianya pernah mengutarakan kalimat yang selalu diagung-agungkan oleh dunia aktivis hari ini :

“Seorang terpelajar, harus lah adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan” (Jean Marais dalam Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia 1980)

Putol memang seorang terpelajar. Namun kali ini, ia tidak adil. Ia terburu menghakimi buku, ironisnya, dengan tanpa membacanya. Ia tidak ada bedanya dengan negara yang selalu merazia buku hanya karena sampulnya. Dan orang macam ini memiliki akses terhadap instrumen kekuasaan, maka akan sangat berbahaya. Bisa-bisa ia bakal menjadi fasis baru yang anti terhadap kerja-kerja pengetahuan. Lebih spesifik, kerja-kerja pengetahuan yang tidak sesuai dengan pandangan ideologisnya.

Terakhir, harapan saya semoga saja penyakit seperti ini hanya menjangkiti Putol seorang. Bukan menjadi tabiat dari aktivis-aktivis kiri lainnya. (Faris Fauzan Abdi)

***


*TULISAN ini pernah dimuat di laman OASE Jurnal Rumaka dan dimuat ulang di sini semata-mata untuk tujuan pengarsipan.