Desember : Sebuah Refleksi Akhir Tahun

Posted by
Kredit Ilustrasi : Awaludin Yusuf (https://dropr.com/illustruth)


Saya selalu suka dengan bulan Desember. Sebagaimana bulan pembuka musim penghujan, bulan ini seolah memiliki aturan main tersendiri dalam menurunkan hujannya. Lebih-lebih, selalu merasa cuek dengan sumpah serapah yang disematkan oleh para manusia. Baik dari pekerja lapang, ibu-ibu dengan cucian yang tidak kering-kering, sampai mahasiswa kere dengan kamar indekos yang selalu bocor macam saya.

Udane ndek njobo, telese neng kamar2” , sindir saya kepada Desember via media sosial Twitter. Utamanya ketika Desember berani-beraninya menurunkan hujan deras ketika kamar indekos saya belum direnovasi. Sayangnya, tweet saya tersebut tidak pernah dihiraukan oleh Desember. Ia tetap menurunkan hujan dengan sebegitunya. Sampai-sampai membuat kamar saya tak ubahnya sebuah kolam ikan dadakan. Tega.

Dari sini saya baru paham. Jika Desember diibaratkan seorang manusia, ia merupakan sosok manusia bebas. Seorang yang hidup dengan aturan mainnya sendiri. Lebih-lebih masa bodoh dengan semua keteraturan yang sudah ada di bumi manusia. Dan belakangan, saya ingin menjadi manusia seperti ini. Seperti Desember.

Saya, memilih menghilang dari peredaran. Lebih banyak membaca buku, menulis, atau sekedar mendengarkan lagu punk di kamar kosan. Lebih sering berdialektika dengan ide-ide seseorang yang tercecer di majalah, koran, buletin dan zine. Tetap menyebarkan informasi-informasi penting seputar pendidikan yang berorientasi pada penyadaran sosial. Lalu memilih untuk tidur sambil mendengarkan podcast ketika rasa bosan mulai melanda.

Beberapa orang akan berkata, “Ini terdengar keterlaluan bung, terlalu ekstrem“. Tidak habis disitu saja. Dengan ketidakmengertian yang sudah sampai taraf ubun-ubun, mereka lantas bertanya sambil berdendang, “Entah apa yang merasukimu, bung?

Entah, saya juga tidak tahu menahu mengenai apa yang telah merasuki saya. Namun yang jelas, belakangan saya memang merasakan bahwa diri saya sedang tidak baik-baik saja. Saya banyak pikiran. Karena itulah saya akhirnya memilih untuk melipir dari circle saya saja. Lebih banyak mengasah diri sendiri dalam banyak hal lalu berekspetasi dengannya.

Terdengar aneh memang. Tapi percayalah bung dan nona sekalian, semua keanehan ini bukan tanpa alasan. Melainkan hadir sebagai respon atas stimulan dari lingkungan yang saya kira, cukup menyebalkan.

Betapa tidak, saat berita-berita seputar penindasan struktural hampir menghiasi timeline saya, yang saya saksikan orang-orang malah lebih suka untuk berdebat mengenai halal-haramnya ucapan Selamat Natal. Tidak hanya itu saja, bung dan nona sekalian. Ketika saya menjumpai negara yang semakin giat mengancuk hak-hak sipil, saya malah menyaksikan beberapa orang lebih sibuk berbicara soal oportunisme politik, menggerutu soal hidup dan percintaan, sampai mencemooh status jomblo kawan sejawatnya. Mau mengalihkan perhatian dengan menginisiasi ‘hal yang baru’ bersama kawan sejalan, ya susahnya minta ampun. Alasannya sering bentrok dengan ini itu lah, tidak ada akses lah dan akhirnya, berujung kenihilan. Mampus.

Herannya lagi, semua hal yang cukup menyebalkan ini, entah mengapa, terjadi secara beruntun di tahun ini. Kedatangannya ibarat air bah yang menggilas segala perenungan saya sampai habis tak bersisa. Betapa menyebalkannya. “Betapa jancuknya“, kata Bung Geger. Sampai-sampai membuat saya ingin mengutuk semua kesialan ini berkali-kali. Dengan sebaik-baiknya, dengan sehormat-hormatnya. Namun apakah hal itu akan berdampak pada hidup kita selanjutnya?

Tidak. Itu tidak akan berdampak apa-apa. Sumpah serapah terhadap tahun ini, tidak akan membawa kita kemana-mana. Sebab semua kesialan ini sebenarnya — tidak berkorelasi dengan diri kita, apalagi membuat kita kehilangan beberapa organ vital dari diri kita. Kita semua, tetaplah lengkap bapak ibu. Kita tetap waras. Tidak ada secuil pun bagian yang hilang dari kita. Terutama ketika kita mengetahui betapa jancuknya obsesi umat manusia hari ini. Lantas jika sudah seperti itu, perlukah kita merasa risau atas dunia yang begitu menyebalkan ini?

Beberapa minggu silam, saya mendapat satu wejangan dari seorang teman satu kos saya. Teman saya itu bernama Pentol. Kebetulan waktu itu, ia sengaja bersilaturahmi ke kamar saya. Awalnya ia hanya meminta rokok. Namun karena lama tidak berbicara, kami akhirnya terjebak dalam obrolan yang begitu intim.

Saya dan Pentol, terlibat dalam upacara yang lebih khidmat dari upacara malam pertama. Upacara itu bernama curhat. Curhat seputar tahun ini, lantas merefleksikannya. Singkat cerita, di akhir pertemuan itu, Pentol menepuk bahu saya sambil berkata begini :

Tahun ini memang menyebalkan bung. Akan tetapi, dengan berpikir lalu melakukannya sendiri tentang semua hal yang perlu dilakukan, kita sebenarnya telah menjadi manusia bebas”

Sialnya, Pentol berkata demikian dengan mimik wajah yang cukup serius. Sampai-sampai membuat bulu kuduk saya sempat berdiri. Namun jika dipikir-pikir lagi, kata-kata itu ada benarnya. Bahwa terkadang kita, manusia ini, sering merasa pusing karena lingkungan yang tak mendukung semua ekspetasinya. Alih-alih tercapai, keseringan, ekspetasi-eskpetasi itu hanya berakhir pada septick tank milik kera-kera putih. Ironisnya lagi, tak jarang hal itu bereskalasi menjadi turbulensi total pada diri kita.

Saat itu terjadi, seharusnya kita tidak menyalahkan lingkungan. Apalagi mengutuknya dengan seadil-adilnya, sehormat-hormatnya. Karena persoalan sebenarnya adalah merubahnya. Namun untuk melakukannya, pertama-tama kita perlu merubah sudut pandang kita terlebih dahulu. Terkhusus dalam melihat lingkungan kita. Setelah itu baru menemukan jalan yang paling realistis untuk merubahnya.

Dan untuk sekarang ini, jalan yang saya yakini untuk merubah keadaan adalah menjadi Desember. Menjadi manusia yang bebas dari keteraturan yang ada, rajin bekerja, tidak terkecuali giat propaganda. Meskipun pada akhirnya semua itu harus saya lakukan sendiri. Disini, di kamar indekos saya yang super ketat dan suka bocor itu. (Faris Fauzan Abdi)

5 comments

  1. Ping-balik: Hutan – Rumah Lisan