Hari Kelima : Pendidikan dan Kekuatan Membaca

Posted by
Kredit Foto : Dokumen Pribadi


Masih di hari kelima bersama Pak Sulis. Usai mengobrol banyak hal seputar radikalisme dan kesalahan kita sebagai bangsa, Pak Sulis lantas bertanya satu hal :

Oh iya, siapa yang dari jurusan pendidikan tadi?

Mendengarnya, saya dan kawan saya, Heni kemudian mengangkat tangan kami tinggi-tinggi. Sebab dari semua mahasiswa yang ada di tempat, cuma saya dan Heni yang berasal dari jurusan pendidikan.

Dari jurusan apa?“, tanya pak Sulis lanjut.

Kalau saya dari PGSD, nah kalau mbak Heni ini dari Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia pak“, jawab saya.

Nggih pak“, imbuh Heni pelan.

Belio terdiam sejenak. Mengangkat tangan kanan untuk menyangga dagunya. Kelihatannya memikirkan sesuatu. Setelah itu baru bertanya lagi.

Dua-duanya ada dari divisi pendidikan? Kalau iya, apa saja program kalian ke depannya?“, tanya Pak Sulis dengan penasaran.

Saya menjawab sambil gemetar, “tidak pak. Saya yang di Divisi Pendidikan. Kalau Mbak Heni ini, di Divisi Publikasi dan Dokumentasi“.

Oh iya-iya, jadi apa saja program pendidikan ke depan mas?“, tanya Pak Sulis.

Seketika saya menjawab, “ada banyak pak. Pertama, bimbingan belajar. Kedua, kami juga mendampingi TPQ setempat untuk mengajar ngaji. Ketiga kami juga mengadakan lomba seperti mewarnai, cerdas cermat, sampai hafalan Al Qur’an

Pak Sulis diam sebentar.

Sudah?“, tanya beliau.

Alhamdulillah sudah pak“, jawab saya.

Bagus itu. Tapi kalau boleh saran, saya minta agar metode belajar dalam bimbel itu harus beda dengan sekolah formal. Anak-anak itu diajari soal inisiatif“, kata Pak Sulis.

Bagaimana itu pak?” , tanya saya.

Dalam melatih sikap gotong royong misalnya. Sebelum belajar, coba kamu bilang begini: ‘anak-anak, biar kita nyaman belajar, ayo kita bersihkan dulu balai desanya’ . Seperti itu saja. Dan ingat, kamu juga harus ikut bersih-bersih. Sebab, asas yang dibangun disini adalah gotong royong“, jelas Pak Sulis.

Iya pak, InsyaAllah akan saya lakukan“, jawab saya.

Seharusnya. Toh itu juga berhasil saya terapkan saat membersihkan taman yang sedang saya bangun di dusun ini kok. Hasilnya bagus sekali. Mereka akhirnya punya inisiatif sendiri. Jadi ketika taman itu kotor, mereka akan segera membersihkannya“, kata belio.

Pokoknya dalam melatih inisiatif anak-anak, hindari intruksi yang terlalu. Karena lewat intruksi biasanya kita mudah menyalahkan mereka. Contoh, seperti Bu Dokter tadi. Dalam programnya, capaian yang harus dilakukan siswa adalah menggosok gigi dengan cara melingkar, nah kalau mereka menggosok gigi ke atas-ke bawah atau zig-zag barangkali, apakah itu dinyatakan salah?“, imbuh Pak Sulis.

Seketika, saya lantas mengarahkan pandangan ke arah Kamelisha, teman saya. Kamel, ia merupakan kepala Divisi Kesehatan di kelompok kami. Sebelumnya, ia memang lebih dulu menjabarkan programnya kepada Pak Sulis. Dan yang sedang di bahas oleh Pak Sulis akhir penjelasannya itu merupakan salah satu program dari Divisi Kesehatan. Sepertinya Kamel tidak apa-apa. Ia hanya tersenyum dan tidak membalas kata-kata Pak Sulis itu.

Inilah pendidikan yang menyalahkan itu. Padahal setiap siswa punya caranya dalam belajar kan? Dan seperti apapun cara itu, mereka tidak boleh disalahkan. Jadi mas, besok kalau mereka bersih-bersih dengan cara mereka, jangan sampai disalahkan lalu disesuaikan agar sama dengan caramu” , Kata Pak Sulis.

Nggih pak“, jawab saya pelan.

Setelah menjawabnya, saya langsung mingkem sambil menganggukkan kepala. Dalam hati saya bergumam : oh jadi ini yang dikatakan Aldino soal pendidikan yang menyalahkan itu. Iya-iya saya paham, kata saya dalam hati.

Kalau menurutmu mas, pendidikan kita ini seperti apa?” , Pak Sulis bertanya lagi.

Kali ini, pertanyaan belio cukup mengagetkan saya. Membuyarkan upacara refleksi saya yang paling hikmat. Saya bingung meski tidak terlalu. Pasalnya, baru beberapa minggu sebelum ini saya sempat menghadiri sebuah bedah buku yang diadakan oleh Rumaka. Kebetulan tema sentral yang diusung oleh buku tersebut adalah pendidikan.

Kalau menurut saya pak, berdasarkan pada pengalaman bedah bukunya Pak Roem yang judulnya Sekolah Itu Candu, pendidikan kita itu kurang disiplin dalam implementasi tiga aspek yang ada di dalamnya : kognitif, afektif dan psikomotorik. Malah menurut saya kecenderungan pendidikan kita hanya berorientasi pada domain afeksi saja. Lalu dari situ timbul peraturan-peraturan yang menurut saya tidak berkorelasi dengan proses pembelajaran. Ironisnya, dari sana timbul praktik salah-salahan pula“, jelas saya.

Lalu?“, tanya Pak Sulis.

Kan seharusnya begini pak, untuk merubah sikap, maka transformasi ilmu pengetahuan harus ada. Bahkan kalau bisa dibanyakin. Ini dikarenakan ilmu pengetahuan akan mempengaruhi perubahan sikap manusia“, kata saya.

Pak Sulis bertanya lagi, “apa bedanya ilmu pengetahuan dan pengetahuan? Atau begini wes, apa Bahasa Inggrisnya pengetahuan dan ilmu pengetahuan?

Pengetahuan masih terlalu subjektif, sementara ilmu pengetahuan sudah pasti objektif karena ia dihasilkan melalui pengetahuan yang sudah dibuktikan lewat penelitian ilmiah. Bahasa Inggris dari pengetahuan adalah knowledge sementara ilmu pengetahuan adalah science. Itu pembedanya“, kata saya.

Nah. Sebentar, itu tadi bukunya Pak Roem Topatimasang?“, tanya belio.

Iya pak, yang judulnya Sekolah Itu Candu“, jawab saya.

Nanti saya lihat ya? Kebetulan saya juga punya koleksi buku-buku milik Pak Roem“, kata Pak Sulis.

Mendengarnya Aldino lantas menyaut, “Oh iya pak, tadi anak-anak katanya ingin berkunjung ke perpustakaan pribadi milik Pak Sulis

Dengan menatap Aldino, Pak Sulis menjawab, “Iya? kalau begitu sini-sini saya tunjukkan

Selanjutnya, kami diajak oleh Pak Sulis menuju sebuah ruangan di samping rumah belio. Ruangan itu ditutup oleh pintu dari besi yang ukurannya lumayan tinggi — di depannya berjejer aneka ragam bunga yang ditanam dalam pot dari semen. Artistik sekali.

Ketika Pak Sulis membuka pintu ruangan itu, saya kagetnya bukan main. Sebab di hadapan saya, saya melihat sebuah ruangan besar nan panjang yang didalamnya lengkap dengan rak-rak besar lengkap dengan buku-buku. Tidak hanya buku saja. Melainkan juga batu-batu antik yang tersusun rapi.

Pak Sulis menoleh dan langsung berkata, “Mari masuk, jadi inilah perpustakaan pribadi saya

Kami pun memasuki ruangan itu. Di dalamnya saya melihat berbagai macam genre buku. Mulai dari komik, buku-buku agama, buku mata pelajaran pendidikan dasar dan masih banyak lagi. Di atas rak-rak itu pula, terdapat gambar para tokoh pembesar yang disusun dengan rapi. Mulai dari B.J Habibie, R.A Kartini, Cut Nyak Dien, Malahayati dan masih banyak lagi. Merasa penasaran dengan semua koleksi bukunya ini, saya lantas bertanya pada Pak Sulis :

Ini buku siapa saja pak?“, tanya saya.

Ada buku saya, buku istri saya dan buku anak-anak saya. Yang semuanya kami simpan sejak kami masih kuliah sampai sekarang“, jawab Pak Sulis.

Banyak sekali ya“, kata teman saya Rido.

Setelah itu kami lanjut mengitari perpustakaan pribadi milik Pak Sulis itu. Beberapa kawan saya, saya lihat sedang mengambil buku, membaca sebentar lantas mengembalikannya kembali ke dalam rak.

Rencananya, perpustakaan ini akan saya buka buat warga sini. Saya tinggal suruh orang saya untuk memilih buku yang sesuai dengan warga sini. Semoga saja mereka suka“, kata belio.

Iya pak, itu bagus sekali“, kata saya.

Pak Sulis menoleh ke arah saya dan bertanya, “kamu suka membaca juga le?

Iya pak, kebetulan saya juga sedang menggeluti perpustakaan jalanan“, jawab saya.

Belio menjawab lagi, “Saya selalu suka pemuda yang punya semangat besar

Kalian tahu, kenapa dia bisa berdiskusi dengan saya panjang lebar? Karena dia membaca. Itulah kekuatan membaca“, imbuh Pak Sulis kepada teman-teman saya.

Mendengarnya saya mendadak salting seketika. Meski tidak terlalu. (Faris Fauzan Abdi)

3 comments