Dua Hari Farhan

Posted by
Kredit Foto : Dokumen Pribadi

Dua hari ini saya memang riwa-riwi Kota Batu. Namun bukan dalam rangka kongkow di cafe, atau keliling alun-alun sambil makan arbanat dan memandangi biang lala yang berputar sampai pusing. Melainkan dalam untuk menyelesaikan tugas mata kuliah. Tugas itu ialah meneliti perkembangan belajar dari Anak Berkebutuhan Khusus secara berkelompok.

Dan subjek penelitian kelompok kami kali ini adalah seorang anak berkebutuhan khusus jenis autis. Anak itu bernama Farhan. Putra sulung dari pasangan Pak Ipad dan Ibu Yelmi. Seorang kakak dari dua bersaudara, Haqi dan juga Amoy.

Sebagai seorang yang awam dalam hal ini, tepat sehari sebelumnya, saya lebih dulu melakukan riset kecil-kecilan mengenai anak berkebutuhan khusus jenis ini. Mulai dari karakteristiknya, sampai bagaimana cara untuk mentransfer ilmu pengetahuan kepada anak berkebutuhan khusus jenis ini. Semua ini saya lakukan dengan harapan agar keesokan harinya saya lebih siap dalam memberikan pembelajaran pada Farhan.

Hari pertama mengajar pun dimulai. Saat itu, saya kebagian tugas dari kelompok untuk memberikan pembelajaran bina berupa cara melipat baju dan selimut. Jujur saja, di momen ini saya agak merasa kesulitan. Sebab si Farhan nampaknya lebih tertarik untuk melihat televisi dan tekun memperhatikannya ketimbang pembelajaran melipat baju yang saya berikan. Padahal, sudah berkali-kali ayah dan ibunya mengancam untuk mematikan televisi.

Tapi tidak masalah. Sebab, itulah salah satu karakteristik anak autis. Apabila ia sudah fokus akan sesuatu, ia tak segan menganggap sesuatu itu adalah dunianya. Salah satu contohnya seperti aktivitas menonton televisinya ini. Farhan, ia tidak hanya memantengi televisi itu dengan teliti agar tidak kehilangan satu momen pun dalam tayangan yang sedang ditontonnya. Tidak hanya itu, dalam beberapa kesempatan, Farhan bahkan mendokumentasikan tontonannya itu melalui handphone pribadi milik ibunya.

Dan hari pertama selesai begitu saja. Kendati sempat mengalami beberapa kesulitan, hasil pembelajaran di hari pertama ini boleh dibilang cukup memuaskan. Farhan, ia sudah bisa membina diri seperti memakai seragam sekolah, melepas seragam, melipat seragam dan selimut tempat tidur. Dalam pembelajaran akademik pun begitu. Farhan sudah berhasil menempelkan gambar sesuai teks, menggunting bangun datar sampai menyapu. Meskipun dalam mengerjakannya, ia masih memerlukan arahan serta bimbingan yang cukup ekstra.

Hari pertama tuntas. Masuklah kami di hari kedua. Di hari kedua ini, kami hanya mengulang pembelajaran yang sudah didapat oleh Farhan di hari pertama. Bedanya, kali ini kami tidak lagi memberikan bimbingan dan arahan kepada Farhan. Harapannya agar kami bisa mengetahui sejauh mana tingkat pemahaman Farhan terhadap pembelajaran yang kami berikan sehari sebelumnya.

Di hari kedua ini, Farhan terlihat agak berbeda dari hari sebelumnya. Kali ini, ia lebih terlihat fokus terhadap apa yang kami berikan ketimbang tayangan televisi kesukaannya. Itulah salah satu faktor dominan yang kemudian membuat hasil belajar Farhan melampaui perkiraan kami. Farhan, ia mengerjakan semua pembelajaran seperti menggunting bangun datar, menempel gambar yang sesuai dengan teks, sampai melipat baju dan selimut — diselesaikan dengan cepat dan tepat olehnya. Uniknya lagi, semua tugas-tugas itu ia selesaikan dengan melalui cara-cara yang kami ajarkan di hari pertama. Hebat sekali.

Setelah semuanya selesai, saya bersama kelompok pun pulang ke rumah masing-masing. Namun, tidak untuk saya dan Fikri. Saya dan Fikri sebaliknya, malah lanjut ngopi di Kedai Enzo. Buat sekedar beristirahat dan mengobrol terkait banyak hal.

Pik, memang ya, sebenarnya sifat kita pun dimiliki oleh anak abk. Contoh fokus yang dimiliki Farhan itu. Kita juga punya itu loh. Hanya saja istimewanya Farhan, dia fokusnya sangat susah teralihkan. Dan itu menjadi keistimewaan tersendiri baginya. Menjadi kelebihannya“, kata saya kepada Fikri secara tiba-tiba.

Fikri menjawab singkat, “Iya ler.

Sambil mengerutkan dahi saya menimpali jawaban itu begini, “lah kalau kita Pik?

Kalau kita nih, kurang semuanya hahaha“, jawab Fikri sambil tertawa.

Hahahahah, iya sih. Ambyaaaaaar“, jawab saya.

(Faris Fauzan Abdi)

6 comments

    1. Hehe, amin mbak. Semoga si Farha kelak membaca catatan ini. Iya kah mbak? Serius loh pas pertama kali ketemu sama Farhan saya malah merasa minder dengan dia. Dia spesial dan bisa fokus sama dunianya sendiri. Sementara saya jarang sekali merasakan hal itu. Selalu kurang dan nggak pandai bersyukur.
      Saya jurusan PGSD mbak. Kebetulan ada matakuliah pendidikan inklusi dan ini tugas matkul ituπŸ˜‚