Amorfati, Stefani Bella dan Syahid M

Posted by
Kredit Foto : shopee

Semua orang percaya bahwa kehidupan sejatinya penuh dengan kejutan. Baik dalam menjalani kehidupan sehari-hari, berkarir, sampai hubungan interpersonal. Katakanlah cinta. Dan kejutan dalam hidup itulah yang sepertinya ingin dipecahkan oleh Saka dan Lara. Dua orang sejoli yang sebelumnya pernah terlibat dalam kisah berdua.

Saka, ia merupakan pemuda asal Bandung yang memiliki egoisme yang cukup tinggi. Tidak hanya itu, Saka merupakan seorang pemimpi ulung. Sementara mimpinya yang paling besar ialah mendirikan sebuah kedai kopi di Kota Yogyakarta. Namun ia menjalani semua mimpi itu dengan mengalir. Sedangkan Lara merupakan gadis asal Jakarta. Seorang perempuan dengan logika matematis yang tinggi. Bagi Lara, segala yang ada dalam hidup haruslah terukur, punya tujuan serta serba-serbi kepastian.

Perbedaan karakter inilah yang kemudian membuat Saka dan Lara memutuskan untuk menggantungkan hubungan mereka untuk menjalani kehidupan masing-masing. Meskipun ini terlalu berat bagi mereka. Sebab, dua-duanya masih memiliki perasaan yang sama. Saat perpisahan itu, Saka tetap menghidupi mimpi dengan kepercayaannya pada keajaiban semesta. Mengisi waktu dengan menulis blog. Hitung-hitung sambil menunggu agar Kevin segera lulus kuliah, dan melebarkan sayap buat mendirikan kedai kopi di Yogyakarta. Berbeda dengan Saka, Lara tumbuh menjadi sosok perempuan karier. Seorang penulis prosa yang bekerja di salah satu penerbitan di Yogyakarta.

Di momen ini, keajaiban tak henti-hentinya menghiasi kehidupan Saka dan Lara. Saka, ia berhasil mendirikan kedai kopi bernama ‘Coffe and Drama’ bersama Kevin. Tidak hanya itu, aktivitas menulisnya di blog pun berhasil menemukan Saka dengan sahabatnya yang baru. Namanya Eleftheriana atau yang belakangan akrab dipanggil Ana. Sementara Lara, ia berhasil menemukan seseorang yang hampir membuatnya jatuh cinta. Orang itu bernama Rio, seorang atasan di tempatnya bekerja.

Saka dan Lara mulai nyaman dengan dunianya yang sekarang. Mencoba menerima dan berdamai dengan apa yang harud dijalani oleh mereka. Namun suatu ketika, apa yang sebelumnya tidak pernah mereka bayangkan begitu saja terjadi. Perusahaan tempat Lara bekerja, mengontak Ana agar ia menerbitkan semua prosanya di blog. Tidak mau terlibat sendirian, Ana mengajak partnernya menulis. Dan partnernya menulis itu ialah Saka.

Saka dan Lara bertemu lagi, setelah sekian lama merasakan pahit manisnya luka dan rindu. Sayangnya, pertemuan ini sebatas hubungan kerja antara penulis dan penerbit. Sebab dua-duanya kini telah bersama orang lain dalam hidupnya. Saka dengan Ana, dan Lara dengan Rio. Hubungan itulah yang lantas membuat Saka dan Lara memilih untuk menyembunyikan kisah masa lalu mereka. Padahal diantara mereka tidak ada hubungan yang spesial, selain teman menulis dan rekan kerja.

Dalam menulis proyek bukunya, Saka menggunakan kisah cintanya bersama Lara dengan sudut pandangnya. Dengan mudahnya, cerita itu ditebak oleh Ana. Dan akhirnya terpaksa Saka menceritakan kebenarannya pada Ana. Kebetulan itu pun terjadi pada Rio. Saat mereka, Rio dan Lara bertemu Saka dan Ana untuk menandata — Rio merasa ada hal-hal yang janggal pada diri Saka dan Lara. Mereka terlihat seperti pernah bertemu sebelumnya. Rio yang penasaran lantas mempertanyakan hal itu pada Lara. Dan Lara pun menjelaskannya dengan penuh kejujuran.

Rio dan Ana, terpaksa menerima kenyataan itu. Ana, ia memilih untuk menjadi teman Saka dan memutuskan diri untuk menuntaskan beasiswanya di London. Membiarkan agar Saka kembali bersama Lara. Penerimaan ini pun terjadi pada Rio. Rio, ia memilih agar ia menjadi teman Lara saja. Menjadi rekan kerja yang paling menyenangkan bagi Lara.

Lara dan Saka akhirnya kembali. Di akhir cerita, mereka diceritakan sedang menggarap film yang diangkat dari novel karya Saka dan Ana, Amorfati. Tidak hanya itu, di titik ini, Saka akhirnya bertemu dengan ibunya Lara. Ibu Lara menyambut Saka dengan baik. Bahkan berharap agar Saka, menjadi menantunya.

Amorfati merupakan kisah lanjutan dari novel karya Steffani Bela dan Syahid M. Sebelumnya, mereka menceritakan kisah Saka dan Lara dalam karyanya yang berjudul KALA. Membaca Amorfati, membuat saya makin penasaran saja dengan Kala. Sebab Amorfati memiliki banyak pelajaran yang bisa diambil. Salah satunya, soal bagaimana menghadapi kehidupan.

Kita paham, dunia sedang dilanda sebuah krisis besar. Sebuah stagnasi yang menegasi berbagai hal bernama kejutan. Saka dan Lara barangkali ingin memecahkan kedua itu. Kira-kira benarkah dunia ini seharusnya dipenuhi kejutan-kejutan tidak terduga?

Saka, ia mencoba memecahkan misteri itu dengan jalannya yang bisa dibilang cukup pasif. Sementara Lara, ia menjalani kehidupannya dengan aktif bekerja. Menyadari itu, mereka menerima apapun yang datang. Sekali dua kali menyesal, hanya karena penerimaan itu belum sepenuhnya.

Diantara usaha penerimaan itu, Saka ia menerima kejutan yang luar biasa. Jika mendirikan Kedai Kopi bersama Kevin menjadi hal yang biasa baginya, maka membukukan tulisan, bertemu Ana, memfilmkan buku sampai kembali ke pelukan Lara — ia terima dengan luar biasa. Sebab, rencana-rencana itu tidak pernah ada di pikirannya. Lara pun begitu. Dengan logika yang matematis, pada akhirnya ia pun mendapat kejutan-kejutan yang luar biasa. Dimulai dengan kehadiran Rio, bertemu Saka, menggarap film Amorfati (novel Saka dan Ana), sampai menyadari betapa besar rasa sayang dan perjuangan Saka.

Amorfati merupakan pertarungan antara dua cara kepasifan dan keaktifan dalam mewujudkan harap. Ada yang membiarkannya mengalir. Ada pula yang mengejarnya mati-matian. Dua-duanya akan sampai dan dipaksa menerima takdir itu. Apapun hasil akhirnya. Sebab, manifestasi tertinggi dari rasa cinta pada kehidupan adalah penerimaan.

“Penerimaan nyata mampu membuat hidupku jauh lebih hidup”

Lara Alana, Amorfati hlm 80.

4 comments