Warkop Kabul Jaya

Posted by
Kredit Foto : scrumaka.wordpress.com


Oleh : Faris Fauzan Abdi


Konon, awalnya warkop ini bernama Warkop Ipul. Diambil dari penggalan nama sang maestro kopi : Saipul. Memiliki satu jargon andalan : ‘jaya’. Dulu, nama beserta jargon ditulis via nama Wi-Fi : Warkop Ipul Jaya.

Karena tergerus zaman dan kebiasaan, entah mengapa, kini, warkop tersebut sudah berganti nama. Pergantian namanya cukup menukik di hati, dan melipat di lidah. Nama baru itu ialah ‘Warkop Kabul’. Nama warkopnya boleh saja berganti. Namun jargonnya, masih tetap sama. Sehingga nama Wi-Fi nya : Warkop Kabul Jaya.

Keren dan asik, terdengar cukup familiar. Tidak menukik di hati, apalagi, melipat di lidah. Jadi okelah nama warkop boleh saja diganti, jargon boleh saja tetap. Namun, lokasi, dan cita rasa, sampai intepretasi harus tetap sama. Seperti jargonnya.

Untuk lokasi, warkop ini berada di Desa Kraton Kecamatan Krian Kabupaten Sidoarjo. Indonesia? Ya, Indonesia. Warkop ini berada tepat di pelataran rumah Cak Ipul yang dikenal lebat akan pepohonan itu. Tentu dengan background sungai yang ampun, cokelat, penuh sampah — tapi mempesonakan mata. Anginnya semilir, udaranya pun sejuk. Di tengah panasnya Kota Sidoarjo, Warkop Kabul tentu sangat cocok sebagai destinasi saat ngopi siang maupun malam.

Masalah cita rasa kopi, oh jangan khawatir. Cak Ipul selaku sang maestro Warkop Kabul Jaya, dikenal ahli dalam meracik kopi tubruk. Masalah rupa, cak Ipul memang tak ada mirip-miripnya dengan Mas Ben Filosofi Kopi yang diperankan oleh Chicco Jerikho. Akan tetapi, dalam hal konsistensi rasa yang ia ciptakan mah, jangan ditanya. Dari dulu, sampai sekarang kopi tubruknya enak sekali. Kental, hitam pekat, dan rasanya pas di lidah.

Selain kopinya yang enak, Warkop Cak Kabul, bagi saya adalah representasi budaya literasi di Sidoarjo, daerah saya. Jangan kaget, budaya literasi di Sidoarjo ini memang terbilang cukup tinggi. Bayangkan saja , di setiap warung kopi yang dijajakan tidak lain dan tidak bukan adalah koran. Sangat mudah cari koran disini. Salah satunya di Warkop Cak Ipul. Eh, Warkop Kabul Jaya.

Bukan sombong atau apa, karena memang seperti itulah keadaannya. Orang Sidoarjo, ketika ngopi, memang lebih suka membaca koran ketimbang mendengarkan dangdut koplo. Mereka, orang Sidoarjo memang lebih suka membaca kabar negara hari ini, ketimbang mendengar lagu. Apalagi lagu-lagu koploan —yang kadang dinyanyikan si penyanyinya dengan mimik wajah yang menye-menye itu.

Bukan bermaksud mencemooh produk kebudayaan sendiri. Karena memang disini, di Warkop Cak Kabul, anda tidak akan menemukan suara lagu apapun. Baik yang beraliran pop, rock , alternative apalagi koplo. Yang akan anda lihat dan dengarkan disini adalah orang membaca koran, suara burung, kalau tidak ya orang mengobrol. Obrolannya pun terbilang cukup beragam, namun masih lazim untik diobrolkan.

Dari kalangan kelas pekerja, yang diobrolkan mungkin soal teman se pekerjaan yang ‘nggatheli’, bos yang suka ngamuk, sampai jam istirahat yang sebentar. Kalangan pembolos lain lagi, mereka paling sering mendiskusikan soal mata pelajaran, guru killer sampai taktik jitu untuk titip absen. Sementara Cak Ipul and the gank, mereka lebih suka mendiskusikan soal gejolak dunia memancing, acara desa, sampai kondisi tanah air hari ini.

Menariknya, secara konsisten, Cak ipul and the gank lebih sering mendiskusikan kondisi tanah air hari ini. Cak Ipul and the gank, memang bukan Cak Tarno — beserta seluruh pejuang intelektual yang tergabung dalam Cak Tarno Institute nya. Tapi percayalah, semangatnya dalam mengupas isu-isu terkini sangat menggelora antara mereka itu ‘sama’. Hanya saja, Cak Ipul and the gank selama ini hanya berdiskusi dengan metode yang luwes dan terbuka. Bahkan, saking terbukanya, mereka acapkali menggunakan beberapa istilah yang terkenal cukup ‘saru’ di tanah Jawa. Contoh : ndasmu, bapakmu, mbahmu sampai jancuk koe.

Singkatnya, mereka selama ini hanya menggunakan konsep : setiap orang adalah guru, setiap rumah adalah sekolah (meminjam ajaran Ki Hadjar Dewantara). Tak suka berdiskusi secara metodis, apalagi sempat membuat Rencana Tindak Lanjut (RTL). Meski demikian, jika saya amati secara seksama, diskusi antara Cak Ipul and the gank ini terbilang cukup teratur. Pun menyasar beberapa aspek yang bersifat sektoral. Mulai dari ekonomi, sosial bahkan politik.

Bayangkan saja, saat rupiah melemah terhadap dolar, Cak Ipul and the gank selama tiga hari, terbilang masif mendiskusikan topik yang cukup menggemparkan itu. Meski dengan metode reflektif dengan pisau bedah yang cukup sederhana. Dalam aspek sosial-politik lain lagi. Pernah sesekali saya melihat dan mendengar Cak Ipul and the gank amat mengutuk keras pembelahan sosial yang ada dalam kontestasi pilpres yang baru saja (selesai) kita gelar. Meski dalam hal ini, Cak Ipul and the gank hanya sebatas menggunakan pisau analisis sejarah dan tak ada aksi penyikapan yang cukup berarti, baik secara lisan maupun tulisan.

Cak Ipul and the gank memang terbiasa untuk tidak se-progressif itu. Mereka hanya suka untuk mengupas isu-isu terkini secara reflektif, tapi mendasar. Macam kolom Oase di Jurnal Rumaka. Selain budaya literasi dan diskusi yang sudah mapan, ada salah satu kebudayaan yang unik di warkop milik Cak Ipul ini.

Disini, di Warkop Kabul milik Cak Ipul, setiap pengunjung yang berbondong-bondong harus siap-siap menerima kata celetukan yang kadang membikin kita mengerenyitkan dahi, bahkan mengelus dada. Ya, Cak Ipul memang sosok yang tak hanya garang, melainkan juga cerewet. Tak hanya satu orang, dua orang yang pernah ia cereweti. Kendati begitu, percayalah, kecerewetan yang dibalutnya dalam bentuk celetukan ini hanya menyasar orang-orang tertentu saja.

Pertama, pengunjung baru. Ya, pengunjung baru memang kerap menjadi objek bulan-bulanan dari kecerewetan Cak Ipul. Namun, jika saya boleh menebak tujuannya, saya yakin Cak Ipul dalam hal ini hanya ingin membangun ikatan sosial dengan pengunjung baru yang datang. Kedua, orang-orang yang takhluk pada teknologi sampai-sampai mengacuhkan komunikasi sosial. Ya, Cak Ipul paling tidak suka melihat orang-orang yang ngopi dengan berbekal produk teknologi, diam tak mengobrol, dan hanya suka menghabiskan listrik.

Jujur, pernah sesekali saya ditegur masalah ini. Wajar, saat itu saya sedang menggarap project Jurnal Rumaka. Aktivitas saya waktu itu hanya main gadget, sesekali membuka buku sampai mengedit tulisan menggunakan laptop. Kebetulan, pada waktu itu saya tidak sendiri. Saya bertemankan dua orang. Kami semua : sama-sama sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Hingga datang celetukan dari Cak Kabul yang saya terjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia yang berbunyi seperti ini :

Bokong kalian (maaf) , tidak capek kah ? Dari tadi cuman duduk, numpang Wi-Fi , tidak ada obrolan dan suara? Kalau begini mending kalian pulang saja”, kata Cak Ipul sambil memasang wajah serius.

Memang mengesalkan, namun kalau dipikir-pikir tentu teguran macam itu adalah teguran yang positif. Wabilkhusus bagi milenial macam kita, yang kerap kali menggunakan waktu ngopi hanya untuk asik dengan dunia sendiri. Padahal waktu ngopi adalah waktu yang tepat untuk membangun komunikasi horizontal. Yang selama ini, kita ketahui bersama semakin rusak lantaran tergerus oleh masifnya kehadiran aplikasi komunikasi digital.

Lebih-lebih, sudah tahu bahwa tempat itu adalah Warung Kabul. Warung kopi yang tak ramai dengan lagu koplo, tapi ramai akan praktik adu cuitan dan gagasan. Warung kopi yang tak hanya menawarkan makan, rokok bahkan es ketan susu. Melainkan bahan bacaan , teman ngobrol, serta ilmu kehidupan khas orang-orang pedesaan.

Itulah semua keunikan yang terbungkus dalam budaya di salah satu warkop di kampung halaman tercinta, Sidoarjo. Ingat, warung itu bernama Warkop Kabul Jaya. Biasanya, warkop ini adalah warkop wajib saya ketika pulang ke Sidoarjo. Sebab disini, di Warkop Kabul, saya bisa dengan mudah mendapatkan inspirasi, koran buat bahan bacaan serta kliping, sampai ilmu kehidupan.

Sayang, kini saya masih berkuliah di Kota Malang. Sehingga waktu saya agak terbatas untuk sekedar meneliti bagaimana perkembangan ruang milik Cak Ipul ini. Long live Warkop Kabul Jaya !

***


*ARTIKEL ini sebelumnya dimuat di kolom Oase di Jurnal Rumaka. Dimuat ulang disini dengan judul yang sama semata-mata demi tujuan pengarsipan. Link artikel :
https://scrumaka.wordpress.com/2019/06/05/warkop-kabul-jaya/

4 comments