Hari Kelima : Pak Sulis dan Cara Berpancasila yang Baik dan Benar

Posted by
Kredit Foto : Dokumen Pribadi

Hari kelima KKN akhirnya menemukan saya dengan Pak Sulis. Nama lengkapnya, Sulystyo Soejoso. Belio merupakan seorang mantan aktivis. Sekaligus mantan anggota Dewan Pendidikan Provinsi Jawa Timur yang kebetulannya, menjadi warga baru di Desa Payungrejo.

Dilihat dari paras dan dandanannya, beliau ini punya banyak kemiripan dengan budayawan Sujiwo Tejo. Rambutnya kriting, agak beruban, dan pastinya gondrong. Kulitnya sudah agak keriput dan berwarna cokelat sawo. Tak lupa, ia pun mengenakan kacamata.

Di awal pertemuan ini, kami diminta untuk mengenalkan diri masing-masing lewat atribusi singkat berupa nama, jurusan dan asal daerah. Cuma itu saja. Tidak pakai NIM. Pasalnya ini cuma diskusi kecil. Bukan kelas mata kuliah.

Setelah puas berkenalan, belio membuka obrolan denhan memperkenalkan beberapa aksesoris yang dipakainya. Mulai dari kepala yang saat itu berbalutkan Udeng (tutup kepala asal Pulau Dewata Bali), kaos kampanye Golput, sarung asli buatan orang Jawa, bahkan sandalnya yang bermerk Jogger. Tentu dengan tanpa menyebutkan harga macam vlog ‘harga outfit’ yang belakangan cukup menginfluensi dunia YouTuber kekurangan konten.

Aksi unjuk pakaian yang dilakukannya ini bukannya tanpa maksud. Melainkan memiliki makna yang menyasar jiwa rakyat Indonesia.

Lihat nih, semua pernak-pernik yang saya gunakan ini kan berasal dari budaya yang berbeda-beda. Tapi kalau mereka disatukan, kelihatan bagus kan?“, pamer Pak Sulis.

Mendengarnya, saya dan teman-teman hanya tersenyum renyah. Beberapa bahkan ada yang bilang ‘mantul’. Dan Pak Sulis lantas meneruskan obrolannya. Kali ini soal isu yang cukup seksi dan terlalu dibesar-besarkan oleh rezim ini : radikalisme. Sebuah terma yang entah mengapa ditafsirkan sepihak oleh pemerintah — sebagai pola pikir atau tindakan hal-hal sifatnya bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila.

Menurut saya, merebaknya radikalisme saat ini merupakan akibat dari kesalahan kita sendiri“, kata Pak Sulis.

Dahi saya seketika mengernyit. Sambil bertanya-tanya dalam hati, Loh maksudnya? Lah salahnya dimana?

Sejak Pancasila kita terima sebagai satu-satunya ideologi bangsa, kita dari dulu sampai sekarang tidak pernah menyadari konsekuensi logis dari itu semua“, imbuhnya.

Konsekuensi yang seperti aa..

Belum sempat saya bertanya, Pak Sulis langsung menyelat. Nampaknya belio tahu apa yang saya ingin tanyakan. Maka dari itu, ia langsung menjawabnya begini :

Konsekuensi logis itu begini, seharusnya ketika kita sudah menerima Pancasila sebagai satu-satunya ideologi, maka konsekuensinya apapun yang harus kita lakukan harus mencerminkan nilai-nilai Pancasila. Halah minimal dari cara berpakaian kita saja loh. Pakaian saya ini kan asalnya dari berbagai kebudayaan, berbagai tangan perajin pula. Dari pakaian saya ini saja, banyak nilai Pancasila yang bisa kita ambil. Dengan memakai semua aksesoris ini saya akhirnya kan mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila : kebhinekaan dan gotong royong yang mengarahkan pada keadilan sosial” , jelas Pak Sulis sambil cengengesan.

Loh kok bisa pak?” , tanya saya sambil garuk-garuk kepala.

Belio menjawab, “Ya kan ini semua dari perajin. Dengan membeli pakaian ini tanpa disengaja saya kan menghidupi pengrajin. Itu cuma saya thok loh. Coba bayangkan jika kita semua (rakyat Indonesia) bergotong royong menghidupi pengrajinnya. Sudah pasti keadilan sosial bakal menjadi milik pengrajin kita“.

Kami semua tertawa. Tentu saja sambil berucap “oh iya ya” secara serentak. Disinilah saya pribadi bisa menangkap maksud Pak Sulis. Bahwa sebenarnya beliau ingin mengajarkan cara sederhana menjadi seorang Pancasilais. Sebaliknya, melihat fenomena orang yang tidak Pancasilais dengan sederhana pula.

Agak nyeleneh memang. Tapi boleh lah jika pemahaman itu dipakai sebagai bahan intropeksi kita sebagai bangsa. Sudah sejauh manakah ber-Pancasila kita? Sudahkah kita ini ber-Pancasila dengan sebenar-benarnya? Sesederhana mungkin barangkali?

Koruptor sudah jelas bukan Pancasilais. Sebab, koruptor secara tidak langsung menyalahi sila kelima. Ormas yang gemar tudang tuding dan bikin rusuh — dengan landasan kebenarannya sendiri ya begitu. Ormas itu bukan Pancasilais. Pasalnya, mereka menyalahi sila keempat yang berisikan mekanisme musyawarah. Banyak sekali indikator tidak Pancasilais itu.

Saking banyaknya, saya sendiri akhirnya merasa bahwa saya masih setengah-setengah dalam ber-Pancasila. Bukan dilihat dari dandanan, atau jika dilihat sikap saya sebagai anak bangsa saja. Melainkan juga perlakuan saya kepada orang-orang yang jelas menyalahi nilai-nilai Pancasila.

Misalnya, jika saya sudah ber-Pancasila dengan sebaik-baiknya sehormat-hormatnya, nggak mungkin tiap hari Minggu kerja bakti di desa itu saya biarkan sepi. Jika saya sudah ber-Pancasila dengan baik nggak mungkin saya diam saja ketika ada korupsi. Jika saya sudah ber-Pancasila dengan baik , nggak mungkin saya biarkan tetangga saya tetap kere, nggak bisa mengakses pendidikan atau kesehatan. Banyak. Banyak sekali hal-hal yang menyalahi nilai-nilai Pancasila. Jika saya biarkan saja, saya juga bisa disebut anteknya para non-Pancasilais dong?

Tapi okelah, mengatasi hal-hal macam ini, solusi saya yakni cara ber-Pancasila lah yang harus dibenahi. Dan itu hanya bisa ditempuh lewat pendidikan. Utamanya dengan menyusun suatu sistem yang berorientasi pada pemaknaan dan pengimplementasian nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Bukan seperti yang dulu-dulu. Yang cuma dihapal, dimaknai secara sempit, dan kemudian, dilupakan. (Faris Fauzan Abdi)

One comment