Jadi Guru ?

Posted by
Kredit Foto : Dokumen Pribadi

Akhir-akhir ini, saya acap merasa heran terhadap satu hal, mengapa Mas Cesar suka kirim-kirim e-book seputar pendidikan kepada saya? Apalagi jumlahnya ada banyak sekali. Saya penasaran, kira-kira apa maksudnya?

Karena penasaran, saya akhirnya mengajak Mas Cesar untuk ngopi. Malam itu, di Enzo Institute. Kebetulan waktu itu juga ada Fikri. Jadi kami berdiskusi bertiga. Sampai malam suntuk. Satu jam pertama, kami habiskan untuk membahas seputar pengalaman KKN. Saya dan Fikri adalah mahasiswa keguruan dan ilmu pendidikan. Karena itulah, kami dimasukkan ke dalam bidang yang spesifik dengan jurusan kami. Katakanlah Divisi Pendidikan.

Pengalaman seputar kegiatan kami di Divisi Pendidikan hanyalah pengantar. Sebab lama kelamaan pembahasan makin meruncing pada jurusan mata kuliah kami: keguruan dan ilmu pendidikan. Karena Mas Cesar adalah mahasiswa hukum, ia banyak bertanya soal kebijakan-kebijakan pendidikan. Mulai dari analisis seputar full day school sampai sistem zonasi.

Jujur saja waktu itu, saya dan Fikri mendadak kalcit. Kami kicep dan tidak satu dua kali diam. Sebab selama ini, sebagai mahasiswa keguruan dan ilmu pendidikan, kami tidak diajarkan atau pun pernah diberikan materi seputar kebijakan pendidikan yang terbaru. Jangankan untuk dibedah, diajak dosen untuk berdiskusi ihwal topik terkait saja tidak pernah.

Oleh sebab itu, kami bertiga memutuskan untuk lanjut membahas kegiatan-kegiatan yang saya dan Fikri dapat di mata perkuliahan selama ini. Mulai dari semester satu sampai semester tujuh. Mulai dari paradigma pembelajaran sampai praktek mengajar yang baik dan benar.

Saya dan Fikri bercerita dengan saling bersautan. Mulai dari cerita yang katakanlah menyenangkan, sampai cerita yang menurut kami amat membebani. Semisal merencanakan pembelajaran yang super njelimet, pembuatan media, sampai melaksanakan pembelajaran secara implementatif. Dan percakapan kami itu didengarkan betul oleh Mas Cesar yang waktu itu sedang memakan nasi bungkusnya. Saya paham gelagat ini. Mas Cesar ia sengaja mendengar dengan baik agar ia bisa mencari celah untuk bertanya.

Bagaimana di tempat kalian KKN? Pakai kurikulum itu nggak?” , tanya dia singkat. Fikri ia menjawab bahwa kendati sekolahnya serba-serbi kekurangan, sekolah itu tetap menggunakan kurikulum 2013 dengan baik dan benar. Itu berkebalikan dengan pengalaman saya di desa. Di sekolah tempat KKN saya kemarin, kurikulum 2013 diberlakukan oleh para guru dengan setengah-setengah. Tidak ada RPP, apalagi media pembelajaran. Kesimpulan ini saya dapat ketika saya bersama anggota divisi dimintai pertolongan untuk membuat RPP oleh salah seorang guru di tempat saya KKN.

Berarti di level desa masih nggak jalan ya? Kenapa ris kok nggak pernah kepikiran buat nulis soal analisis efektivitas kurikulum 2013?“, tanya Mas Cesar lagi. “Toh kamu lihat aja sekarang, kita loh suka betul gonta-ganti kurikulum. Tapi pernah nggak ada inisiatif dari pusat buat mengkoreksi apakah kurikulumnya udah jalan nggak, udah efektif nggak?“, imbuhnya.

Waktu itu, saya hanya menjawabnya dengan jujur. Bahwa sebenaenya saya tidak tertarik untuk menulis hal-hal seputar pendidikan. Apalagi untuk tahu-menahu seputar inisiatif pemerintah yang dimaksudnya. Mendengarnya, Mas Cesar sepertinya geram. Dan lantas kemudian berkata :

Loh gimana sih, kau ini kan calon guru?

Iya. Tapi kan tapi nggak harus ada batasan dalam topik menulis kan?

Berarti bener nggak pengen jadi guru nih?

Enggak mas. Tidak ada kepikiran buat kesana

Kenapa?”

Berat

Berat apanya? wong guru sekarang loh liburannya ikut anak-anak. Kalau anak-anak libur satu minggu, guru ya libur satu minggu. Kalau anak-anak libur satu bulan, guru ya libur satu bulan. Masalah itu tadi kan bisa diantisipasi pas liburan. Nyusun perangkat pembelajaran dibuat nanti ketika tahun ajaran baru dimulai“, ketus Mas Cesar.

Saya tetap kokoh untuk mengatakan tidak pada Mas Cesar. Saya tidak mau untuk menjadi seorang guru. Dan saya hanya menunjukkan keengganan itu dengan geleng-geleng kepala. Tanpa berkata-kata.

Begini loh ris. Jangan terlalu takut pada prosesnya. Nggak mungkin ada aku, kamu dan Fikri hari ini tanpa hadirnya seorang guru. Makannya sampai sekarang aku itu masih sering salim ke guru sd ku ketika ketemu di jalan. Gaji atau apa itu hitung sebagai bonus. Toh yang penting nilainya kan?

Mendengarnya, saya dan Fikri hanya bisa diam. Tidak geleng-geleng atau garuk-garuk kepala. Apalagi sempat berkata-kata. (Faris Fauzan Abdi)