Sampai Maut Memisahkan Kita, Mira Widjaja

Posted by
Kredit Foto : Dokumen Pribadi

Seseorang pernah berkata pada saya begini:

Dalam hidup ini, berbuatlah kepada orang seperti kamu berbuat pada dirimu sendiri. Kau pasti ingin selalu berbuat baik untuk dirimu kan? Maka dari itu berbuatlah baik pada orang-orang disekitarmu seperti kau berbuat baik pada dirimu. Karena sejatinya, semua kebaikan atau kejahatan sekecil apapun, akan kembali pada dirimu sendiri sebagai majikannya perbuatan itu

Kalimat itu saya kira ada benarnya. Apalagi setelah saya membaca kisah antara Febrian, Inge dan Angel yang ditulis oleh Mira Widjaja dalam sebuah kisah bertajuk ‘Sampai Maut Memisahkan Kita’. Febrian tokoh utama. Seorang anak lelaki yang lahir dan hidup dalam keluarga mentereng. Karena itulah ia kerap merasa bahwa ia berhak melakukan segalanya. Barangkali juga, mendapatkan segalanya. Febrian, atau akrab disebut Rian merupakan seorang playboy. Korban pertamanya adalah Inge. Seorang mahasiswa kedokteran yang ia taksir sejak ia melakukan tugas praktikum anatomi. Padahal waktu itu, Inge sudah punya hubungan dengan Agus. Bahkan mereka sudah merencanakan diri untuk menikah.

Tapi Febrian tak peduli. Ia tetap mendekati Inge. Bahkan ia nekat menyetubuhinya saat mereka sedang berlibur di villa puncak. Inge hamil. Ia terpaksa meminta Febrian bertanggung jawab dan meninggalkan kekasihnya, Agus. Akhirnya si Inge dan Febrian menikah. Dalam pernikahan inilah, neraka bagi Febrian itu dimulai. Rumah tangga antara Inge dan Febrian serba menyiksa. Febrian seperti tak mengenal sosok Inge sebagai istri. Begitu pun dengan Inge yang tidak mengenalnya sebagai seorang suami. Tidak ada keharmonisan, melainkan yang ada hanyalah pertikaian.

Sampai suatu ketika, jabang bayi Febrian lahir dari rahim Inge. Dan mereka dikagetkan oleh kehadiran buah hati mereka itu. Bayi itu mati dengan muka yang mirip seorang monster. Sejak kejadian itu, Inge memutuskan untuk minta cerai pada Febrian dan kembali ke rumah orang tuanya. Sementara Febrian, ia lebih memilih untuk melanjutkan studinya di Los Angeles.

Di Los Angeles, dalam momen yang tidak disengaja, Febrian bertemu dengan Angel. Seorang pegulat perempuan yang kerap disebut ‘The Blue Angel‘. Singkat cerita, mereka berdua terjebak dalam suatu hubungan karena Febrian berhasil mengalahkannya di ring pertandingan. Mereka saling mencintai dan memutuskan untuk tinggal bersama. Kendati, mereka tidak terjebak dalam hubungan yang sakral. Katakanlah pernikahan.

Angel, ia sangat mencintai Indie. Sebuah nama panggilan yang ia sematkan pada sosok Febrian. Angel, ia merupakan perempuan yang berhasil menyembuhkan Febrian dari masa lalunya bersama Inge dan penyakit impotensi yang diderita Febrian. Apapun ia lakukan untuk Febrian. Mulai dari menyediakan tempat tinggal sampai menyediakan kebutuhan Febrian selama ia menyelesaikan studinya di LA. Mereka berdua sempat liburan ke Kota Roma, Italia. Dan di kota inilah mereka mengucap janji setia untuk terus bersama sampai maut memisahkan. Janji itu mereka ucapkan tepat di hadapan air terjun Di Trevi, Roma. Salah satu tempat romantis bagi seorang pasangan di dunia.

Di titik inilah Febrian merasa bahwa ia perlu membawa Angel pulang ke Indonesia untuk segera dikenalkan dengan orang tuanya. Mengenal budaya serta kebiasaan-kebiasaan adat ketimuran. Dan Angel begitu saja menyetujui permintaan Indienya ini. Mereka berdua akhirnya terbang ke Indonesia. Sayang sekali saat di Indonesia, keadaan hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja. Febrian luput dari sesuatu. Sesuatu tersebut ialah bahwa Febrian sebenarnya tak pernah menceraikan Inge. Malah ia sempat ingin kembali kepada Inge. Hanya karena Inge sudah banyak berubah. Dalam pertemuannya ini, mereka pun sempat mabuk dan akhirnya melalui satu malam bersama. Sebagai suami istri.

Inge akhirnya mengaku hamil lagi. Febrian kalang kabut. Sebab ia tahu ia sudah bersama dengan Angel. Pada akhirnya, ia tetap memilih Inge. Febrian mengingkari janjinya. Dan terpaksa Angel harus mengalah. Terbang dari Indonesia menuju ke LA. Dalam keadaan hamil anak Febrian. Kisah di dalam novel ini semakin rumit. Karena Febrian baru sadar bahwa anak yang dikandung Inge adalah anak Agus. Gila. Febrian akhirnya menceraikan Inge dan terbang ke Los Angeles. Tentu untuk mencari Angel. Perempuan yang telah banyak berjasa dalam hidupnya.

Saat pertemuan mereka, kondisi Angel sudah banyak berubah. Ia kini bukan lagi seorang pegulat, melainkan sebagai seorang pelacur. Semua itu semerta-merta dilakukan Angel sebagai usaha untuk terus membesarkan buah hatinya bersama Febrian. Di akhir cerita, Angel meninggal karena penyakit yang dideritanya. Dan yang tersisa ialah penyesalan terbesar dalam hidup Febrian.

Novel ini memang banyak memberikan gambaran pada kita mengenai pentingnya seseorang dalam menepati janji. Karena itu novel ini dijadikan satu buku bersama karya Mira Widjaja yang berjudul ‘Merpati Tak Pernah Ingkar Janji‘ oleh penerbit. Tapi menyoal kisah Febrian ini, entah mengapa saya ingat pada hukum sebab akibat (kausalitas). Bahwa setiap perbuatan apa yang dilakukan, entah baik atau pun buruk — akan selalu kembali pada diri kita masing-masing.