Kita dan Pohon

Posted by
Kredit Foto : Pinterest

Setelah saya amati-amati, Kota Malang banyak mengalami perubahan selama tiga tahun terakhir. Kota yang dulunya dingin ini, mendadak panas secara tiba-tiba. Bagaimana tidak, pembangunan masif terjadi dimana-mana. Polusi semakin menjadi-jadi. Ruang-ruang hijau makin digerus pembangunan.

Yang terdekat dari lingkungan saya pun begitu. Sawah-sawah disulap sedemikian rupa menjadi kedai kopi mainstream oleh para pengusaha muda akibat keterputusasaan petaninya. Ironisnya, diantara perkopian itu banyak yang masih digunakan untuk diskusi soal petani. Tapi tak pernah sekalipun mereka memberikan motivasi. Padahal mahasiswa pertanian nggak kurang-kurang kan?

Gila. Ini benar-benar gila.

Perubahan menuju kota wisata kian gencar. Sementara gerakan yang meledakkan kesadaran sosial hanya menggeliat di tanah bagaikan siput. Tentu saja dengan alibi ‘alon-alon asal kelakon’. Benar put. Itu benar. Oleh karena itulah saya dan kawan-kawan, alhamdulilahnya masih berkecimpung di Kedai Enzo. Kami tetap belajar dan terus belajar. Menghimpun, mengorganisir dan terus mengorganisasikan. Dengan harapan agar segera melihat tatanan dunia ini segera runtuh.

Bung“, tegur Irham. “Bung, boleh lah mengharapkan itu cepat terjadi. Itu baik. Tapi sungguh kejauhan kala kita pakek Kota Malang. Oke Kota Malang sudah berubah sedemikian rupa. Tapi coba bung lihat kampus. Kampus kita nggak berubah. Padahal, kita loh banyak mahasiswa di kampus. Setiap tahun ribuan jumlahnya. Tapi keadaan kampus bahkan mahasiswa-mahasiswannya belum berubah“, imbuhnya.

Irham benar. Lewat kekata itu ia seolah-olah ingin menanamkan paham bahwa perubahan besar dimulai dari lingkungan terkecil. Minimal diri sendiri, orang terdekat, keluarga , lingkungan bermasyarakat — negara. Itulah Irham. Dia revolusioner. Seorang lontang-lantung yang mengajari saya bahwa gerakan itu perlu analisis. Perlu pertimbangan dan siasat. Entah bertahan dengan semua ketidakpastian. Lelah dan kemudian menyerang dengan cul-culan.

Tidak hanya itu, karena setelah menyerang pun kita perlu evaluasi. Lantas memutuskan untuk kembali menunggu atau menyerang lagi. Itulah Irham. Barangkali dia ini adalah Ernest Mandelnya Kota Malang. Sebab, ia merupakan seorang yang selalu saja — menolak pemisahan antara kerja-kerja praktik dan teoritik.

Kalau pun saya pikir-pikir lagi, kata-kata Irham memang banyak benarnya — daripada salahnya. Kampus, katakanlah, sama sekali belum berubah. Dua Minggu silam tepatnya, saya masih sempat terjebak dalam praktik maupun kejanggalan-kejanggalan yang demikian lama saya pahami. Semisal, dipetal ketika UAS, kejadian hilangnya baut motor sampai jalan parkiran yang masih saja berlubang. Mengenai sarpras yang menunjang perkuliahan entah lah. Sebab, terakhir saya hanya masuk dalam satu kelas dan menurut saya, keadaannya baik-baik saja.

Eman sekali. Padahal namanya besar. Danaunya besar. Luasan kampusnya besar. Gedungnya juga besar-besar.

Tapi tidak apa-apa. Ini hanya perkara waktu. Pasalnya, beberapa waktu yang lalu, saya sempat bertemu lagi dengan kawan saya, Jaya. Dalam pertemuan tidak sengaja itu, ia menceritakan banyak hal terkait perkembangan dinamika gerakan mahasiswa di kampus. Salah satunya ini, beberapa waktu lalu di gedung perkuliahan terdapat poster-poster yang menuntut agar kampus mentransparansikan anggarannya. Dan Jaya, jujur saja, mencari para aktor yang menggerakkan aksi tersebut. Bukan untuk diciduk, akan tetapi diajak mediasi dengan pihak birokrasi.

Bisa?

Jelas bisa. Karena saya paham sebenarnya kampus ini cukup demokratis. Terbukti, saya juga cukup kaget ketika transparansi dana lembaga intra yang dulu sempat saya perjuangkan bersama kawan-kawan aliansi — sudah dikabulkan oleh pihak birokasi kampus. Ini cerita Jaya. Dan saya percaya berita ini cukup valid. Sebab, Jaya selama ini adalah mahasiswa yang ada di dalam sistem.

Lalu kalau seperti itu gimana bung?” , tanya Irham. Saya kira Jaya sudah memahami soal ini. Bahwa rektor sejak dulunya ingin segala kritik dan masukan dari mahasiswa itu bersifat representatif. Pendek kata, aksi-aksi mahasiswa yang dilakukan di kampus mewakili kebutuhan mahasiswa secara keseluruhan. Bukan atas kepentingan kelompok-kelompok kecil.

Dan itulah saya kira PR kita bersama hari ini. Baik yang masih bergerak di level kampus maupun di level lokal (daerah). Kita kian banyak membutuhkan waktu buat membaca dan belajar. Kita kian membutuhkan banyak analisis-analisis. Kita kian membutuhkan banyak membutuhkan orang-orang yang sadar untuk saling bahu membahu dan menang.

Kata ‘api’, barangkali indah buat digunakan untuk menggambarkan sebuah gerakan. Tapi untuk aksi propaganda poster ini saya lebih menggunakan bahasa analogi yang lebih sederhana. Katakanlah pohon. Sebagai kesadaran, tentu saja pohon akan terus hidup. Meskipun ditebang, ia akan tumbuh karena akarnya masih ketinggalan ditanah. Kalau pun akar itu harus dihilangkan, tanah akan tetap menumbuhkan rerumputan kecil. Dan mereka akan terus tumbuh disamping-samping aspal atau disela-sela paving. Meretakkan upaya untuk meratakan budaya diam. Mencongkelnya untuk membangkitkan yang lain agar mau bersuara.

Itulah pohon dan kita. Pohon akan terus tumbuh. Kita akan terus bergerak. Kita, saya dan pohon, akan terus menjalar. Semakin tinggi dan semakin besar. Sebab, tanah akan selalu memupuk kesabaran yang luar biasa. Demi menuju tujuan-tujuan yang luar biasa pula. Kita sebut itu perubahan. Perubahan atas nama perbaikan dan kemajuan. (Faris Fauzan Abdi)