Maferanren

Posted by
Kredit Foto : Instagram


Maferanren adalah hantu. Ia bisa menghilang sekejap pun bisa ada tanpa diduga-duga. Maferanren adalah topeng. Ditengah keramaian, ia akan menjadi sosok yang tegar hanya untuk memastikan agar dia baik-baik saja. Sebaliknya, ditengah kesunyian ia hanya akan menjadi manusia yang benar-benar manusia. Yang merengek, sering pusing sendiri dan terakhir, patah hati.

Maferanren, ia merupakan manusia yang merdeka. Tidak satu kali dua kali ia menolak lantas memutuskan untuk hengkang dari satu tempat ke tempat lain ketika itu semua bertentangan dengan apa yang ia yakini secara prinsipil. Maferanren, barangkali kalian hanya menyebutnya marga dari salah seorang. Jika iya begitu, kalian salah besar.

Sebab, nama Maferanren kini adalah nama dari sebuah pena. Pena yang menulis cerita-cerita senyap dalam gegap gempita. Yang karena itulah ia akan abadi. Lalu pastilah pembaca semua akan bertanya siapa kira-kira manusia yang beridir dibalik nama Maferanren?

Untuk menjawabnya, izinkan saya menceritakan sejarah pertemuan saya dengan Maferanren terlebih dahulu. Adalah dua tahun silam, ketika kekalahan saya saat mencalonkan diri menjadi Ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) mengantarkan saya menjadi ketua partai politik mahasiswa (parpolma). Di awal kepengurusan partai itu, saya jujur mendapat mandat yang begitu berat. Salah satunya mempertahankan status quo berupa pertahanan kekuasaan di salah satu himpunan. Di satu sisi, memenangkan kursi di salah satu himpunan yang pernah menjadi rumah kami.

Karena mendapat saran dari wakil partai dan seluruh jajaran, saya memulainya dengan membuka kursus politik berupa sekolah ideologi. Dengan harapan agar semua peserta yang mengikuti ini mengerti visi-misi partai dan mengarahkannya ke basis politik kelas. Bukan ke politik identitas. Sebuah status quo yang entah mengapa sampai saat ini dipertahankan oleh mayoritas partai politik mahasiswa di kampus saya.

Langkah-langkah itu saya katakan berhasil. Mesin partai buat mendopleng suara di level akar rumput sudah kami bentuk. Relasi dengan beberapa perangkat keras demokrasi di level kampus, katakanlah beberapa organisasi otonom mahasiswa sudah kami jalin. Dan sebagai langkah awal, ini merupakan salah satu pencapaian yang cukup besar.

Saya lega. Tapi belum sepenuhnya. Sebab pasca ini saya harus memikirkan satu hal : strategi. Ya strategi yang mengharuskan saya untuk merebut sekaligus mempertahankan. Untuk merebut rumah kami (katanya) , saya mengharuskan diri agar partai lebih selektif untuk memilih calon. Begitupun dengan strategi mempertahankan kekuasaan di salah satu himpunan. Tiga kandidat dari total lima kursi himpunan sudah kami kantongi. Sisanya ada dua. Dan dua kursi himpunan itu berhubungan kuat dengan strategi partai diatas. Merebut sekaligus mempertahankan kekuasaan katakanlah.

Dalam hal merebut, saya sudah cukup merasa terbantu dengan wakil partai. Sebab mendekati hari pendaftaran calon, ia menemukan harta emas yang diduga pak wakil bakal menjadi Kartu AS untuk merebut kursi kepemimpinan — yang lama tidak kami pegang. Satu pekerjaan rumah terselesaikan. Sisa satu pekerjaan lagi yakni menemukan siapa yang bakal mempertahankan status quo di salah satu rumah kami.

Karena merasa kesulitan, semua rekomendasi kandidat akhirnya saya serahkan kepada ketua himpunan sebelumnya. Pasalnya ia yang lebih tau kondisi di lapangan. Saya tak peduli mau orangnya dari luar atau internal partai. Saya tak peduli ada tekanan dari dewan kehormatan. Sebab saya yakin, keputusan untuk mengambil kandidat dari eksternal partai ini merupakan jalan yang tepat.

Waktu itu ada dua kandidat yang diajukan oleh ketua himpunan sebelumnya. Pertama, orang seangkatan kami. Kedua, dari kalangan mahasiswa baru. Karena calon yang pertama itu terkesan mencla-mencle pada waktu itu, saya akhirnya memilih calon yang kedua. Seorang mahasiswa baru yang bernama Khairul Ikhwan. Atau akrab dipanggil Iwan.

Malam itu, ketua hmj sebelumnya lantas mengajak saya buat bertemu dengan si Iwan di Enzo. Tujuannya agar sebelum mencalonkan diri, si Iwan paham soal visi-misi partai dan konsekuensi logis dibalik tawaran itu. Dan saya memaparkannya secara rinci tepat di ruangan depan Kedai Enzo. Mulai dari apa, mengapa dan untuk apa ia dicalonkan. Visi-misi partai. Dan tak lupa, konsekuensi logis dibaliknya.

Dari semua penjabaran itu jujur saja, saya menghindari kata memaksa. Saya lebih menyerahkan semuanya kepada Iwan. Kagetnya, ia memutuskan untuk mencalonkan diri malam itu. Hanya saja ia meminta agar diberikan waktu untuk menjawab konsekuensi logisnya itu. Saya nggak masalah. Karena saya sadar bahwa konsekuensi itu memang seharusnya diserahkan pada keputusan kandidat. Bukan dipaksakan agar diikuti melalui sebuah kontrak politik.

Semua hal terasa makin mbelunder. Apalagi saat pengumuman administrasi. Di momen itu, saya harus kehilangan satu dari lima kandidat karena ia dinyatakan tidak lolos lantaran terbelit kesalahan administrasi. Kendati begitu saya tetap sadar bahwa gerilya politik harus tetap kita mulai. Corong agitasi propaganda serta media infokom partai harus tetap dibuat. Mesin partai wajib untuk tetap dijalankan. Strategi benar-benar tetap dimainkan. Tentunya dengan asas kerahasiaan dan pengawasan yang boleh dibilang cukup ketat.

Sampai tibalah kami di hari pencoblosan. Saat itu, si Iwan entah mengapa memutuskan diri buat naik gunung dulu setelah nyoblos. Dan saya mengizinkan hal itu. Karena saya tahu, saat ini semua kerja-kerja partai dan kandidat hanya tinggal menunggu hasil saja. Hasil yang sepenuhnya berasal dari Tuhan.

Di hari perhitungan saya kagetnya bukan main. Sebab hitung-hitungan saya berhasil. Semua strategi yang mengarah pada domain pertahanan dan perebutan sepenuhnya mendapat hasil yang istimewa. Kendati saya harus kecewa karena belum bisa merebut beberapa diantaranya.

Iwan, ia datang dengan tersenyum-senyum dari Gunung Panderman. Saya ingat betul dia waktu itu masih memakai tas dan carrier. Dengan posisi baru pulang dari naik gunung. Belum ganti pakaian, belum mandi, belum gosok gigi dan raup air tajin. Tapi di hadapannya, sebuah papan mengumumkan bahwa ia terpilih sebagai ketua himpunan berikutnya. Selanjutnya, ia hanya tinggal mempersiapkan diri buat kerja. Mempertahankan prestasi dan kalau bisa, melampaui generasi-generasi sebelumnya. Hanya itu pesan saya pada Iwan waktu itu.

Waktu begitu cepat berlalu. Saya tidak pernah lagi bertemu dengan dia. Sebab, pada waktu itu saya memiliki guncangan yang begitu hebat. Kendati begitu, sebagai ketua partai saya tetap mengontrol kandidat-kandidat saya. Entah memberi masukan terkait permasalahan sampai rencana program. Lagi-lagi proses ini TIDAK sama sekali bersifat intruktif. Melainkan sebatas saran dari partai. Sebab saya ini juga seharusnya adil buat memahami profesionalitas kerja. Itu pun hanya beberapa kali konsultasi. Pasalnya saya tahu dan paham di internal kampus itu sibuknya seperti apa.

Dan saya kaget saja ketika Iwan tiba-tiba membuat kejutan besar. Bagaimana tidak, seorang HMJ entah mengapa berani-beraninya membuat acara besar di Hall Dome. Melangkahi himpunan lain. Melangkahi BEM Fakultas. Bahkan melangkahi BEM Universitas. Semua prosesnya pun sepenuhnya lepas dari pengawasan partai.

Hebat. Hanya kata itu yang saya rasa cocok untuk menggambarkan prestasi besar Iwan waktu itu. Seharian penuh saya posting acaranya di media sosial instagram. Seharian saya pasang juga di Whatsapp. Seharian juga saya pasang di Line. Karena apa? Saya bangga, itu saja. Apalagi ketika saya tahu bahwa prestasi itu murni hasil kerja kerasnya sendiri. Bukan dari rekomendasi atau bantuan partai. Partai sama sekali tidak berkontribusi dalam hal ini. Meski dalam bentuk dukungan moril.

Itulah sebabnya saya lantas memutuskan diri untuk mundur saja dari proses saya menjadi ketua partai. Dan hilang dari lingkaran pergaulannya dalam beberapa waktu. Herannya, di akhir periode kepemimpinan, Iwan kembali mencari saya. Entah ada apa gerangan. Saya mengiyakan saja ajakan itu.

“Mas kemana saja?” , itulah pertanyaan yang pertama kali terlontar dari mulut seorang Khairul Ikhwan. Ia mempertanyakannya berkali-kali sambil membubuhkan beberapa cerita dibalik bagaimana prosesnya yang serba kalang kabut di internal kampus. Saya punya penjelasan. Tapi kesimpulan saya juga tetap. Saya bukanlah ketua partai yang bertanggung jawab dalam menyelesaikan apa yang saya mulai. Saya meminta maaf kepada Iwan berkali-kali. Kendati saya tidak meminta ia untuk mau memaafkannya.

Tanpa terasa, Iwan sudah memasuki tahun-tahun terakhir kepemimpinannya. Sejak itu kami selalu bersama dalam berbagai hal. Entah cuma sekedar ngopi, diskusi sampai menulis. Pengaruh saya dan teman-teman kian menguat pada anak ini. Iwan, ia mulai tertarik pada hal-hal yang mengasah ketajaman intelektualnya. Walhasil sepulang dari Jogja, Iwan punya gagasan buat mendirikan Studie Club Rumah Mahasiswa Merdeka.

Dalan prosesnya, Iwan mengubah namanya menjadi Maferanren. Seorang pemuda yang gemar berpikir, pusing dan ambyar. Tokoh sentral Rumaka yang terbilang cukup revolusioner. Seseorang lantas penasaran, mengapa Iwan di daratan berbeda dengan Iwan ketika di panggung diskusi?

Mungkin benar jawaban Fikri. Selama ini Iwan adalah sosok yang punya dua sisi. Pertama, Iwan sebagai sosok Iwan yang dalam benak kami semua, sosok yang kekanak-kanakan dan suka bermanja ria. Manusia dengan kadar kegabutan yang masyaAllah, sudah berada di atas batas normal. Itulah Iwan dalam benak kami semua. Dan Iwan, jelas berbeda dengan nama penanya : Maferanren. Pernah satu malam saya tanyakan ini kepadanya. Kira-kira obrolan itu begini :

Cong setelah semua proses ini kamu jalani, kau ingin dikenal sebagai Iwan, atau Maferanren?

Maferanren kayaknya mas

Serius? Soalnya begini loh. Dalam Max Havelaar rata-rata orang lebih tahu bahwa pengajar kemanusiaan dalam novel tersebut adalah Multatuli. Semua orang kenalnya Multatuli ketimbang nama aslinya, Edward Douwes Dekker

Iya mas. Dan aku ingin seperti itu. Dalam proses ini aku lebih suka buat dikenal sebagai Maferanren“, katanya.

Hahaa kalau begitu buat dirimu dikenang dengan nama itu“, jawab saya sambil nggegek.

(Faris Fauzan Abdi)