Detik-Detik Jatuhnya Orde Baru

Posted by
Kredit Foto : facebook.com

Judul Buku : Titik Tolak Reformasi : Hari-Hari Terakhir Presiden Soeharto
Penerbit : LKIS
Penulis : Edward Aspinall, dkk
Tebal : 416 halaman

Oleh : Faris Fauzan Abdi


Sampai hari ini, detik-detik kejatuhan orde baru merupakan salah satu topik yang menarik untuk didiskusikan. Sebab menjelang jatuhnya orde baru, kerusuhan banyak terjadi dimana-mana. Beberapa diantaranya berujung tragedi yang cukup memilukan. Misalnya seperti tragedi penculikan aktivis, kerusuhan, pembunuhan mahasiswa Trisakti, sampai kerusuhan Mei yang menyasar orang-orang Tionghoa. Bagaimana bisa?

Sebenarnya, semua peristiwa itu sudah diceritakan secara proporsional dalam sebuah buku yang berjudul ‘Titik Tolak Refomasi : Hari-hari Terakhir Presiden Soeharto’ yang diterbitkan oleh LKIS pada tahun 2000 silam. Pasalnya, buku dengan judul asli ‘The Last Days Of President Soeharto’ ini tidak hanya menyajikan analisis mendasar mengapa rezim yang sudah berkuasa selama puluhan itu tumbang. Lebih dari itu, buku ini juga mengisahkan tentang bagaimana gejolak aksi massa berikut respon orang-orang orde baru pada waktu itu.

Dalam hal analisis faktor, pertama-tama pembaca akan diajak untuk menyelami sejarah. Sejarah bahwa dalam lingkup kenegaraan, masyarakat Indonesia selalu bergantung pada stabilitas ekonomi-politik. Apabila kedua sektor tersebut tidak stabil, maka sebuah transisi politik yang berskala besar pasti akan selalu terjadi di negara ini. Sebagai contoh, orde lama runtuh karena gagal mempertahankan legitimasi ekonomi-politik yang menyokongnya. Sementara orde baru runtuh karena legitimasi ekonomi yang ia bangun hancur oleh krisis dan mengarahkan Indonesia pada krisis politik pada tahun 1998.

Dari dua fenomena tersebut, yang menarik untuk dikaji ialah kejatuhan orde baru. Sebab, peristiwa tersebut menuliskan sejarah baru bahwa malapetaka ekonomi bisa mengantarkan bangsa Indonesia menuju ke arah krisis politik besar. Suatu kondisi yang sebenarnya bisa membuat bangsa Indonesia pada waktu itu bisa saja menuju era baru, begitu pun sebaliknya. Hal itulah yang lantas membuat Edward Aspinall, Garry van Klinken dan Herb Feith menjelaskan kronologi awal terjadinya krisis ekonomi politik sampai Indonesia pasca Soeharto dalam pengantar umum.
Jika ditotal, buku 416 halaman ini terdiri dari delapan bab dengan jumlah 47 esai yang ditulis oleh kalangan jurnalis dan akademisi. Yang secara keseluruhan diadopsi dari banyak media informasi non-Indonesia.

Esai-esai tersebut lantas disusun menjadi sebuah buku dengan tujuan agar memberikan gambaran sekilas mengenai momentum reformasi 1998 berikut analisis dibalik peristiwa yang melingkupinya. Tentu dengan analisis yang cukup tajam dari para pengamatnya.

Kronologi Kejatuhan

Secara kronologis, krisis ekonomi yang ditandai dengan merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar di akhir tahun 1997 sampai Januari 1998 telah menyebabkan legitimasi bangunan politik orde baru mulai keropos. Orde baru yang sebelumnya sempat berselisih dengan IMF, kembali membuka diri untuk memperbarui kerja sama moneter antara Indonesia dan IMF pada 15 Januari 1998 melalui Michel Comdessus. Dengan total kerjasama mencapai 43 miliar dollar AS. Sebuah nominal kerjasama yang sama seperti sebelumnya. Bedanya kerjasama ini mengharuskan persyaratan yang lebih ketat.

Ironisnya, hasil kerja sama tersebut nyata tidak berimplikasi pada perbaikan yang berarti. Nilai tukar rupiah semakin terjun bebas. Kepercayaan publik terhadap kepemimpinan orde baru pun semakin luntur sedemikian rupa. Februari 1998, kelangkaan bahan-bahan pokok yang dibarengi dengan penjarahan di seluruh negeri, telah menyebabkan mahasiswa Universitas Indonesia menggelar demonstrasi untuk pertama kalinya. Mereka menuntut agar harga bahan pokok diturunkan dan menuntut iklim demokrasi yang lebih baik. Pada akhirnya, demonstrasi tersebut mampu mempengaruhi mahasiswa yang lain untuk berani menentang orde baru pada tanggal 26 Februari 1998 dan seterusnya.

Tanggal 10 Maret 1998, Suharto kembali terpilih menjadi presiden melalui sidang MPR. Sehari setelahnya, tepat tanggal 11 Maret 1998, para mahasiswa menggelar demonstrasi di beberapa kota besar di Indonesia. Karena rusuh, Jenderal Wiranto selaku panglima ABRI waktu itu menyerukan bahwa ABRI hanya akan menyetujui aksi-aksi demonstrasi mahasiswa jika demonstrasi dilakukan di lingkungan kampus. Kendati mendapat ultimatum, mahasiswa tetap memaksakan diri untuk terus menekan pemerintahan orde baru waktu itu. Begitupun dengan tokoh-tokoh publik seperti Amien Rais dan Megawati Soekarnoputri. Seterusnya, tekanan yang berdarah-darah terus menggerogoti legitimasi politik orde baru secara perlahan.

Puncaknya 12 Mei 1998, sebuah penembakan empat mahasiswa Universitas Trisakti berhasil menyebabkan amarah publik makin bereskalasi sedemikian rupa. Kelangkaan bahan pokok dan makanan telah memicu konflik etnis yang cukup besar. Pada tanggal 14 Mei, pembunuhan yang menyasar etnis Tionghoa yang dibarengi dengan penjarahan toko-toko serta pembakaran pusat perbelanjaan masif terjadi di beberapa kota. Menyadari hal itu, Soeharto melalui Menteri Penerangan M. Alwi Dahlan waktu itu menyatakan keinginannya untuk turun dari kursi kepresidenan. Pro-kontra atas pernyataan Suharto dalam tubuh kekuasaan orde baru pun terjadi.

Puncaknya, Suharto melalui siaran televisi nasional tanggal 19 Mei 1998, masih menawarkan diri untuk melakukan reformasi politik. Padahal sehari sebelumnya, ribuan mahasiswa, intelektual kritis sampai para seniman sudah menduduki gedung DPR/MPR RI. Mereka tetap menolak apapun upaya orde baru untuk tetap berkuasa. Meskipun orde baru mulai menawarkan sebuah kerangka reformasi politik.

Setelah mendapat banyak saran dan masukan tepat pada tanggal 21 Mei pukul 09.00 WIB bertempat di Istana Negara, Suharto menyatakan diri untuk mundur dari kursi kepresidenan. Ketika itu kedudukan Suharto lantas digantikan oleh B.J Habibie yang pada saat itu, menjabat sebagai wakil presiden. Sehari setelahnya, Prabowo Subianto dicopot jabatan oleh Jenderal Wiranto. Banyak analis menduga, langkah ini dilakukan Wiranto dalam rangka mengkonsolidasikan kekuatan ABRI. Keesokan harinya, tanggal 23 Mei 1998 ABRI mengosongkan gedung DPR dari para demonstran.

Kekuatan buku ini ada pada penyajiannya. Selain mencoba untuk mereka ulang beberapa peristiwa menjelang jatuhnya orde baru, buku ini juga menyajikan analisis para ahli dengan titik fokus yang sepenuhnya multidimensional. Pendek kata, buku ini disusun dari berbagai sudut pandang pengamat dan membebaskan pembaca untuk mengambil interpretasinya masing-masing. Dengan demikian, pembaca diharapkam mampu mempelajari kejatuhan orde baru dengan lebih objektif. Lebih-lebih bisa menemukan hubungan kausalitas antara kejatuhan orde baru dan dinamika reformasi.

***


*PENULIS merupakan mahasiswa yang sedang menyelesaikan studi sarjana di Universitas Muhammadiyah Malang. Pegiat Studie Club Rumah Mahasiswa Merdeka (SC RUMAKA)