Dua Hari Kembali ke Studie

Posted by
Kredit Foto : Maferanren (istimewa)


Dua hari saya nggak tidur, salah siapa? Dua hari saya galau, salah siapa? Dua hari saya nggak buang air besar salah siapa? Dua hari saya nggak nulis, salah siapa?

Rumaka. Lagi-lagi soal Rumaka. Sudah saya bilang, Rumaka itu katakanlah ibarat sebuah bayi. Karena mberojol bulan April, Rumaka adalah bayi berumur tujuh bulan. Dalam usia sekecil itu, Rumaka pasti butuh dibelai, dimomong, ditimang-timang tak terkecuali diempengi dan diganti popoknya.

Banyak hal. Karena itulah mengurusnya akan membutuhkan banyak waktu. Butuh banyak gagasan. Butuh banyak kegiatan. Butuh banyak bergandengan tangan. Butuh banyak pemaknaan atas semua interaksi yang ada di dalamnya.

Namun sayangnya, kadangkala dari semua kebutuhan itu para orang tua Rumaka ketinggalan soal yang paling akhir : pemaknaan. Rumaka boleh bercita-cita besar. Boleh ingin ita-itu, ngono-ngene, nganu-nganu. Tapi Rumaka adalah bayi. Dan bayi jika sudah dipaksa seperti itu pasti dia akan menangis. Seperti yang terjadi di kamar Ivan pada suatu malam. Empat dari orang tuanya menangis. Kendati cuma Fikri yang menangis paling tersedu-sedak.

Nggak masalah. Itu positif. Sebab, melalui itu kita tanpa disadari atau tidak, telah berhasil menemukan intisari daripada hubungan kita atas Rumaka. Apa itu? Cinta. Ya, kita semua cinta Rumaka. Seperti cinta orang tua terhadap anak menurut Erich Fromm dalam bukunya ‘The Art Of Loving’.

Selesai menyadari cinta, beberapa hari silam, Koordinator dalam tulisannya yang berjudul ‘Pojokan’ bertanya : akan dibawa kemana Rumaka setelah ini ? Apakah ia akan menemukan pengganti, katakanlah seperti orang tuanya kini?

Koordinator bertanya tentang pertanyaan yang sudah sudah ia jawab sendiri. Baik beberapa waktu lalu pun malam ini. Ketika kami ngopi di Cafe D’Aquos. Koordinator ia menjelaskan kalau yang dibutuhkan Rumaka saat ini adalah diskusi dan belajar. Sebab dua hal itulah yang menjadi ruh dari Rumaka. Baik sejak kelahirannya, maupun nanti ketika Rumaka sudah menginjak usia dewasa.

Sepenuhnya saya sepakat dengan penjelasan Koordinator kepada Andi Warhol. Dan tak hanya itu, saya juga sepakat dengan beberapa langkah kecil yang dilakukan oleh Koordinator untuk mencari orang tua Rumaka yang lain. Melalui sistem momong katakanlah seperti yang ia lakukan pada Adit, Agung, Upik dst.

Semangat anak muda! Karena untuk mahasiswa usia kami, para mahasiswa sudah semakin sempit pikirannya. Sempit zona pertemanannya. Sempit maknanya. Sebab mahasiswa-mahasiswa semester tua tumbuh sebagai orang yang makin rasional. Pikirannya hanya lulus, kerja, menikah dan berternak diri. Oleh sebab itu, saya sering meminta maaf lantaran karena belum bisa banyak membantu dalam hal ini.

Dan koordinator selalu memaafkan kami. Di satu sisi dia membuktikan bahwa langkah terkecil pun perlahan merubah Rumaka. Menimang agar Rumaka tak lagi menangis gulung-gulung, geleng-geleng dan ambyar. Sebab pak Koordinator entah disadari atau tidak sudah mengetahui navigasi dan kebutuhan yang mampu mendopleng Rumaka agar ia tumbuh besar sebagai bayi.

Pengorganisiran. Kata itu memang terbilang sederhana. Tapi dibaliknya perlu ada kemampuan yang maha dahsyat. Katakanlah seperti penjabaran visi yang dibangun, keteguhan prinsip, skill kepemimpinan dengan level politis tertentu, tak terkecuali siasat. Memang setiap pengorganisir punya versinya masing-masing. Namun itulah skill-skill pengorganisir yang saya akui efektifitasnya untuk saat ini. Dan percayalah saja, skill itu lambat laun sudah saya lihat melalui sosok Maferanren selaku Koordinator Rumaka.

Kembali ke Studie” , kata Maferanren membuka obrolan. “Oleh karena itu kita harus semakin menghidupkan diskusi dan belajar. Karena disitulah jantung sebuah Studie Club. Kita nggak papa berjalan dan mewujudkan beberapa gagasan. Tapi itu hanya bonus“, imbuh Maferanren di Ngesis Coffe pagi itu. Dan saya makin mantab saja dengan kata-kata ini. Karena itulah skill kepemimpinan yang enggan untuk berkompromi dengan upaya-upaya yang berpotensi menghalangi fitrah kelahiran Rumaka. Hebat sekali.

Lalu malamnya, semua dibuktikan Maferanren dengan menghadirkan dan memimpin sebuah diskusi soal pendidikan. Dalam diskusi kali ini, pesertanya lebih banyak. Topiknya lebih ruwet. Pembahasannya makin tajam. Oleh karena itu ia butuh seorang perumus, seorang peracik arem-arem dari sekian banyak analisis dan obrolan. Dan saya memang sengaja meminta Maferanren yang menghandle semua ini. Bukan memperbudak, akan tetapi melalui metode ini saya yakin ia bakal banyak menyerap pengetahuan yang dioralkan peserta diskusi sampai gumoh. Seperti beberapa waktu yang lalu. Saat ia mengikuti sekolah ekologinya yang pertama.

Dan saya semakin sadar bahwa malam ini saya semakin tua saja. Baru diskusi beberapa jam, otak saya sudah mumetnya nggak karu-karuan. Vertigo saya kumat. Saya nggak bisa menentukan arah apapun. Untuk pulang menuju kamar kos saja saya sempoyongannya bukan main.

Tapi saya punya Maferanren. Saya siap untuk senantiasa dipimpin oleh orang ini. Seperti malam itu, tanggal 04 April 2019. Ketika saya untuk pertama kalinya berkompromi dengan Maferanren untuk membidani dan membesarkan anak nurani kita. Sebuah bayi yang oleh Maferanren diberi nama Rumaka. Rumahnya para mahasiswa merdeka.

(Faris Fauzan Abdi)

“Kesadaran adalah matahari. Kesabaran adalah bumi. Keberanian menjadi cakrawala. Dan perjuangan adalah pelaksana kata-kata”

WS Rendra