New Order

Posted by
Kredit Foto : Canva

Beberapa waktu lalu, salah seorang sobat gurun saya, Fathin meminta satu hal pada saya :

Ler, jadilah manusia. Sekali-kali kek buat puisi cinta atau kata-kata jenaka gitu“, tandasnya.

Entah maksudnya apa. Tapi inilah permintaan baru itu. Dan sebagai seorang sahabat yang baik, sudah menjadi kewajiban agar saya melaksanakannya. Lewat status LINE dan Twitter semisal. Belakangan ini saya terbilang aktif buat menulis puisi maupun kata-kata jenaka ketimbang cuitan-cuitan soal politik. Dan puji syukur perubahan drastis itu membawa dampak yang masyaAllah nggak karu-karuan.

Reno dan kakaknya Putol bilang kalau ini tulisan ngehek. Sugarcandy bertanya-tanya, semua ini ditujukan untuk siapa gerangan? Syafiq lain lagi. Ia entah mengapa tiba-tiba penasaran dan membuat tulisan yang mempertanyakan kenapa orang sedih selalu menggunakan sastra sebagai penggambaran isi hatinya?

Aneh. Padahal beberapa puisi atau kata jenaka yang saya buat tidak banyak menggunakan bahasa kiasan. Masih terstruktur rapi layaknya teks naratif ala-ala jurnalis. Makannya dalam beberapa kesempatan, status LINE maupun tweeps saya bisa ditebak maksudnya. Lantas menjadi gunjang-gunjing sosial.

Apakah dengan itu semua saya sudah merasa puas dengan puisi-puisi ciptaan saya? Bangga sih iya, karena melalui untaian kata ini saya akhirnya bisa jujur. Namun puas untuk berpuisi? Belum. Saya belum sampai sana. Makannya kemarin sore, saya datang ke salah satu teman yang dikenal sebagai salah satu penyairnya Rumaka: Pikri. Waktu itu yang saya tanyakan padanya begini :

Pik, cara membuat puisi itu gimana?

Ya gimana ya cong, lha wong bacaanmu cuma buku politik

Si Pikri memang nggatheli. Padahal niat saya meminta cara-cara itu dengan sederhana. Malah dijawabnya pertanyaan itu dengan nalar yang tanpa disadari atau tidak, menyinggung hubungan kausal antar kalimat. Yang biasanya hanya dibahas dalam diskursus-diskursus teoritik mengenai silogisme.

Kendati begitu, saya tetap menangkap. Barangkali maksud dia itu seperti ini — bahwa salah satu agar kita memahami cara-cara membuat puisi adalah dengan membaca buku-buku antologi. Atau, kiat-kiat sukses membuat puisi. Bukan buku kiat-kiat sukses hancur lebur.

Tapi saya masih penasaran dengan kata Pikri. Seperti yang kita tahu, puisi merupakan salah satu prodak tinggalan abad Romantisme di Eropa pada abad ke-19. Saat itu, seperti kata Russel, puisi dan merupakan salah satu medium perlawanan atas moralitas hidup yang didasarkan pada pendapat umum. Salah satu medium pengembang bagi lahirnya egoisme yang akhirnya membidani lahirnya kesusastraan pada awalnya. Karena itu ia tidak bisa mengikuti pendapat-pendapat umum sekalipun itu dituliskan dalam kiat-kiat sukses menulis puisi.

Pagi tadi, saya kembali bertemu dengan Pikri untuk kedua kalinya. Rencananya pagi ini saya akan menguliti otaknya. Temanya tetap sama, soal puisi. Namun Fikri lagi-lagi nggatheli. Nggatheli karena belum sempat saya tanyakan tapi sudah dijawab duluan. Bukan dengan modal omong apalagi memakai nada-nada yang kedengarannya agak imperatif. Pikri, ia hanya mencontohkannya pada saya lewat tindakan. Awalnya ia bertanya begini :

Cong kenapa rokok itu candu?“, tanya Pikri.

Ya kan candu itu kan artinya baik jung. Sebuah penawar. Biasanya orang rokok kan habis makan ya. Orang habis makan kan biasanya ketinggalan tuh rasa makanannya. Ada manis, ada asin, ada pait, ada juga slilit. Nah kalo menurutku sih kehadiran rokok itu guna menetralisir itu semua. Merubahnya menjadi rasa legit” , timpal saya.

Oh iya-iya. Sek bentar

Suasana mendadak hening karena Pikri asik dengan handphonenya. Saya pun begitu, asik dengan handphone saya. Trol halaman Twitter keatas-kebawah, begitupun sebaliknya. Hanya untuk menunggu Ann menulis sebuah Twitt. Ibarat kata sambat tak tandur pari cukule suket teki, bukannya Twitt Ann yang muncul. Melainkan Twitt Pikri. Isinya begini :

“@KananuFikri : Kamu suka rokok nggak..? Aku sih suka Tau kenapa alesannya? Rokok itu ibarat kamu menenangkan semuanya jadi bikin candu”

Membaca ini saya langsung nggegek bukan main. Sembari berkata kasar tepat di depan mukanya:

Hahaha, cooooooook begini ini caramu rupanya. Lasuuuuuu.“, respon saya spontan.

Fikri ia ikut-ikutan tertawa. Seperti biasanya, sambil garuk-garuk kepala. Dan saya pikir ini new order yang paling berat. Ketimbang order baru yang paling baru dari orde baru. (Faris Fauzan Abdi)