Orang Maiyah Menghadapi Zaman

Posted by
Kredit Foto : Slide Share

Judul Buku : Orang Maiyah
Penulis : Emha Ainun Nadjib
Penerbit : PROGRESS
Tahun Terbit : Januari, 2007
Tebal : 64 halaman
ISBN : 979-9010-21-7

Oleh : Faris Fauzan Abdi


Semua orang pasti sepakat bahwa di era ini, dunia sedang mengalami krisis pemaknaan yang cukup besar. Utamanya pemaknaan atas realitas kehidupan. Dampaknya mengerikan. Banyak manusia yang tidak mensyukuri hidup yang diberikan kepadanya. Di satu sisi, banyak orang-orang yang akhirnya terjebak pada hal-hal yang sifatnya keduniawiaan. Sebut saja seperti kekayaan, jodoh dan seterusnya.

Implikasinya sungguh fatal. Ajaran agama banyak yang dilupakan. Banyak terjadi pertikaian antar sesama. Peradaban jauh mengalami kemunduran karena ilmu pengetahuan tidak lagi dihargai. Karena itulah muncul inisiatif dari budayawan, Emha Ainun Nadjib atau akrab disebut Cak Nun untuk menyusun sebuah buku berjudul Orang Maiyah.

Seperti dituliskan Cak Nun dalam Kata Pengantar, buku seri ke-2 dengan total 65 halaman ini awalnya hendak disusun dengan judul Orang Maiyah dan Tahun Kiamat. Pertama, karena buku ini berisi tulisan dan beberapa renungan dari jema’ah Maiyah. Kedua, karena lewat buku ini Cak Nun ingin mengintepretasikan kondisi zaman dan bagaimana jema’ah Ma’iyah dalam menghadapinya. Akan tetapi, setelah mendapat masukan dari penerbit buku ini lantas disusun dengan judul Orang Maiyah.

Kendati demikian, Cak Nun lewat Kata Pengantar tetap kekeh menyatakan bahwa buku ini bercerita soal tahun-tahun kiamat. Menurut Cak Nun sendiri, kiamat terdiri dari dua makna. Pertama, kiamat adalah puncak kegelapan bagi siapa saja yang tertipu dengan dunia selama ini. Kedua, kiamat selain merupakan puncak kegelapan, ia juga merupakan kebangkitan. Sebab dalam terminologi arab kiamat berasal dari dua kata: ‘qiyam’ dan ‘qiyamah’ yang artinya kebangkitan.

Kiamat bisa jadi kegelapan namun disatu sisi ia juga bisa berakhir pada sebuah kebangkitan. Utamanya kebangkitan bagi siapa saja yang mampu mengambil gegap gempita untuk menuai ilmu dan makna secara jujur dan jernih. Dan menurut Cak Nun, inilah pekerjaan dari orang-orang Maiyah.

Buku dengan tagline ‘Terang dalam Kegelapan Kaya dalam Kemiskinan’ ini berisi karya-karya orisinil dari sembilan jema’ah Maiyah dengan titik fokus pada pengalaman penulisnya dalam menghadapi dinamika kehidupan. Jema’ah Maiyah tersebut antara lain Ahmad Mustofa, Isman, D.S Nugroho, Haryono, Toha, MFN, Nabhan Baidhowi Tamam, M.Fatkur Nuriyanto dan Agus Maz. Tulisan mereka lantas diedit dan disusun oleh Cak Nun menjadi beberapa esai yang padat akan nilai-nilai keilmuan. Katakanlah ilmu dalam memaknai stratifikasi sosial berupa kaya-miskin, menemukan jodoh, pengalaman Maiyah’an sampai cara menggali makna dari kehidupan sehari-hari.

Menariknya keseluruhan karya ini berasal dari pengalaman langsung dari para penulisnya. Bukan berupa cerita karangan yang dibuat-buat dengan sengaja. Itulah yang membuat buku ini menjadi kaya nilai. Kaya nilai dalam artian banyak ilmu yang bisa didapatkan darinya. Ilmu yang jelas-jelas multidimensional. Pasalnya, pengalaman yang diantarkan oleh beberapa penulisnya pun terbilang cukup universal. Oleh karena itu, membaca buku ini memerlukan pemaknaan yang cukup dalam.

“Di dalam Maiyah semua Murid. Orang yang menghendaki, dalam hal ini menghendaki ilmu. Jadi semua Orang Maiyah adalah Murid. Ini pembicaraan panjang yang memerlukan halaman-halaman tersendiri di masa yang akan datang”

Emha Ainun Nadjib dalam Karya (bukan Karangan) Orang Maiyah.

***


*PENULIS merupakan mahasiswa yang sedang menyelesaikan studi sarjana di Universitas Muhammadiyah Malang. Pegiat Studie Club Rumah Mahasiswa Merdeka (SC RUMAKA)

3 comments