Hari Bumi Internasional dan Perjuangan Petani Kendeng

Posted by
Kredit Foto : Kompas

Oleh : Faris Fauzan Abdi


Tanggal 22 April merupakan peringatan Hari Bumi Internasional yang diperingati oleh 175 negara yang tergabung dalam jaringan bernama Earth Day Network. Dalam sejarahnya, Hari Bumi Internasional digagas sebagai bentuk sikap keprihatinan atas rusaknya lingkungan hidup di Amerika. Mulai dari kerusakan yang disebabkan oleh penggunaan pestisida oleh masyarakat pedesaan sampai kebakaran besar yang terjadi Sungai Cuyahoga, Cleveland akibat pembuangan limbah kimia.

Peristiwa tersebut lantas melatarbelakangi munculnya aktivis-aktivis lingkungan pada tahun-tahun berikutnya. Gaylord Nilson yang waktu terpilih menjadi Senator AS pada tahun 1962 lantas bertekad untuk meyakinkan dunia bahwa kondisi bumi waktu itu tidak baik-baik saja. Tidak hanya itu, pada tahun 1969 Nelson lanjut merealisasikan aksinya dengan menjadi salah satu orang yang mengembangkan gagasan Hari Bumi Internasional sebagai respon spontan oleh masyarakat di level akar rumput.

Dengan mengonsentrasikan jaringan pada gerakan misi penyelamatan lingkungan hidup, Earth Day Network atau EDN kemudian menghasilkan kelompok-kelompok pemerhati lingkungan berskala besar. Benar saja, pada tahun 1990 Earth Day Network melaporkan bahwa Hari Bumi Internasional sudah diikuti oleh 200 juta orang dari 140 negara. Dan angka tersebut terus bertambah hingga saat ini. Seperti dikatakan di awal paragraf, gerakan ini kini diikuti oleh jutaan orang dari 175 negara. Bertambahnya anggota jaringan peduli lingkungan itupun menjadi suatu bukti tentang pentingnya lingkungan bagi kelangsungan hidup manusia.

Refleksi Hari Bumi dan Perjuangan Petani Kendeng

Seperti kata Nelson, awalnya gerakan lingkungan merupakan gerakan spontan dari masyarakat akar rumput yang peduli terhadap isu-isu perusakan lingkungan. Di Indonesia, salah satu gerakan masyarakat di level akar rumput yang menolak perusakan lingkungan adalah perjuangan para petani Kendeng dalam menolak pembangunan industri semen di Pegunungan Kendeng.

Dalam tuntutannya, mereka menuntut agar PT Semen Indonesia berhenti beroperasi. Aksi ini bukan semerta-merta dalam rangka menyelamatkan tanah adat saja. Melainkan juga penyelamatan lingkungan. Sebab, pegunungan Kendeng banyak memberikan manfaat bagi warga disekitarnya. Terutama dalam memasok mata air bersih lewat mata air dibawah pegunungan. Jika PT Semen Indonesia tetap beroperasi, maka krisis air bersih akan menjadi salah satu dampak paling nyata bagi masyarakat sekitar Pegunungan Kendeng.

Sejauh ini, KLHS atau Kajian Lingkungan Hidup Strategis yang menunjukkan dampak negatif dari pembangunan pabrik semen audah keluar. Pemerintah pun juga sudah menginstruksikan agar pemerintah daerah dan ESDM menutup pabrik semen. Namun ironisnya, intruksi presiden yang mengacu pada hasil KLHS itu belum dilaksanakan sampai sekarang.

Perjuangan petani Kendeng merupakan salah satu bentuk perjuangan lingkungan yang nyata di negeri ini. Semua lapisan masyarakat, organisasi pecinta alam, seyogyanya harus lebih menyikapi kasus petani Kendeng ini dengan serius. Saling menggabungkan diri dan mengorganisir massa guna memastikan agar Pegunungan Kendeng tetap lestari. Dan Hari Bumi Internasional seharusnya menjadi momen yang paling tepat bagi kita untuk mengevaluasi diri. Kira-kira, sudah sejauh mana sikap kepedulian kita terhadap isu-isu yang berkaitan dengan kerusakan lingkungan hidup.

***


Rujukan

1. Baca selengkapnya di artikel “Sejarah Hari Bumi yang Jadi Google Doodle 22 April 2018”, https://tirto.id/cJcA

2. Baca artikel ‘Panakawan Kendeng Minta Pemerintah Jateng Jalankan KLHS’ di Mongabay. Link akses : https://www.mongabay.co.id/2019/03/19/panakawan-kendeng-minta-pemerintah-jateng-jalankan-klhs/

*ARTIKEL sebelumnya dimuat di Indikator Malang dalam momentum perayaan Hari Bumi Internasional pada tahun 2017. Direvisi lalu dimuat ulang disini semata-mata demi tujuan pendidikan dan pengarsipan. Link akses :
http://www.indikatormalang.com/2017/04/peringatan-hari-bumi-dan-perjuangan.html