Butuh Banyak Pahlawan

Posted by
Kredit Ilustrasi : Tim Kreatif

Pagi ini, Greta Thunberg melalui akun Twitter-nya memberitahukan bahwa bukunya yang berjudul ‘No One Is Too Small To Make A Difference’ terbitan Penguin Books telah direvisi. Dengan ditambah beberapa pidatonya yang paling baru, bukunya ini akan dirilis di Amerika hari Senin besok. Dan tentu saja akan sesegera mungkin dirilis di berbagai negara kemudian. Lebih dari itu, semua royalti dari penjualan buku, kata Greta akan didonasikan untuk amal.

Terdengar altruistik dan filantropis sekali memang. Altruistik karena Greta seperti yang kita tahu, merupakan aktivis lingkungan yang sedang memperjuangkan nasib seluruh umat manusia. Khususnya dari jurang kiamat berupa krisis iklim yang disebabkan oleh ketamakan dan kerakusan segelintir elite global. Filantropis karena ia masih memiliki kepedulian terhadap semua orang yang hari ini mungkin ia tunjukkan dalam bentuk amal.

Dengan umur yang masih sangat muda, pemikiran macam Greta ini tentu sudah hebat sekali. Padahal belum tentu semua orang di planet ini mau peduli terhadap apa yang ia perjuangkan. Barangkali inilah gambaran kecil dari sosok pahlawan itu. Entah dunia peduli atau tidak, Greta tetap teguh pada perjuangannya. Ia tetap berapi-api untuk mengorganisir banyak orang. Ia tetap berpidato dengan berapi-api sambil berkali-kali mengucap ‘how dare you’ tepat di hadapan para begajul dunia.

Hari ini, tepat tanggal 10 November, Indonesia sedang merayakan Hari Pahlawan Nasionalnya. Mengingat kembali momen pertempuran nekat nenek moyang mereka di medan pertempuran Surabaya yang terjadi 74 tahun silam. Memperingati jasa-jasa pahlawan mereka. Dari yang dikenal maupun sampai yang tidak dikenal. Dari yang versi pecundang sampai versi pemenang. Semuanya. Semua jasa pahlawan yang mendukung perjuangan untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan RI.

Ada Sukarno, ada Muhammad Hatta, ada Tan Malaka, ada Sutan Syahrir ada Bung Tomo dan seterusnya. Banyak sekali. Kita punya banyak sekali figur pahlawan. Figur yang entah mengapa membuat kita ini selalu punya alasan untuk tetap mengakui Merah Putih sebagai bendera, Bahasa Indonesia sebagai pemersatu dan Pancasila san UUD 1945 sebagai dasar pedoman.

Alasannya, kesamaan sejarah. Kesamaan nasib. Ya, dua hal itulah yang mendasari mengapa sejak 10 November silam kita bertempur di medan Surabaya. Hari ini, dua hal itu pula yang mendasari mengapa September silam banyak orang yang protes dan memutuskan diri untuk turun ke jalan dalam rangka menyelamatkan harkat dan martabat kita, rakyat Republik Indonesia. Yang kini, bukan untuk berperang melawan kolonialisme-imperialisme. Melainkan melawan culas dan tamaknya penguasa republik hari ini.

Saya yakin kita tetap Merah Putih, namun bisakah Merah Putih hari ini masih bisa menjelaskan wibawa dan kharismanya sebagai bangsa? Barangkali seperti lirik lagu Iwan Fals itu?

Kita jelas masih mengakui Pancasila dan UUD 1945 sebagai pedoman hidup berbangsa dan bernegara. Akan tetapi, bisakah kita menjelaskan sejauh mana kita sudah ber-Pancasila? Bisa kah cara kita ber-Pancasila menjelaskan mengapa hari ini banyak kasus korupsi ? dan mengapa jurang kekayaan antara si kaya dan si miskin di Republik Indonesia kini kian melebar?

Soekarno barangkali akan berkata begini :

Perjuanganku Lebih Mudah karena Melawan Panjajah. Tapi Perjuangan Kalian akan Lebih Berat, karena Melawan Saudara Sendiri

Kata-kata itu benar sekali. Sebagai generasi yang mengisi kemerdekaan, kita sebagai bangsa entah mengapa sulit sekali merdeka 100%. Utamanya hari ini, kemerdekaan seolah-olah makin di-amputasi oleh kekuasaan. Berbicara kebenaran dituduh bohong. Melakukan kebaikan, di persekusi. Menyatakan aspirasi dituduh subversi. Demi apa?

Mempertahankan kekuasaan yang tamak. Itu saja. Nggak ada lagi jawaban lain. Dan percayalah bahwa keharusan sejarah memang sudah jauh-jauh hari menyatakan bahwa dalam setiap perubahan zaman, selalu ada pahlawan-pahlawan baru.

Budiman Sudjatmiko boleh saja beropini dalam Twitter pribadinya bahwa negeri yang butuh pahlawan terus menerus adalah negeri yang krisis terus menerus. Benar sekali bung Budiman. Benar, dunia bahkan negeri ini terus-menerus dilanda krisis. Karena itu, negeri ini selalu butuh yang namanya pahlawan. Ada Greta Thunberg di kancah dunia. Ada pemuda-pemudi Indonesia di kancah nasional. (Faris Fauzan Abdi)