Pensiun

Posted by
Kredit Foto : Khairul Ikhwan

Ketika saya sedang sibuk-sibuknya, saya selalu ingat pertanyan Andi : “cong, saat kita udah nikah, udah kerja dan punya anak, kamu bakal pensiun dari gerakan gak?

Gerakan yang dimaksud Andi tentu saja bukan gerakan tangan dan kaki. Katakanlah seperti koprol, jungkir balik, nggelundung, sampai akhirnya, ambyar. Melainkan gerakan yang secara konteks berkaitan erat dengan kerja-kerja intelektual. Sebut saja seperti mengorganisir orang, diskusi, baca buku, kritik ngalor-ngidul, demonstrasi ngalur ngidul, dan seterusnya.

Pertanyaan yang cukup berat untuk dijawab memang. Alasannya karena saya, Andi dan tentunya juga anda, bukanlah ahli nujum. Kita masing-masing tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi beberapa tahun ke depan. Bisa saja Andi yang awalnya tidak pernah kepikiran buat membangun gerakan, lantas melupakan cita-citanya sebagai pebisnis dan masuk dalam dunia gerakan. Bisa saja, saya yang memang punya cita-cita untuk tetap ada di dunia gerakan berubah lantaran saya mendapat tawaran untuk menjadi seorang politisi. Semua bisa jadi nak, nyo.

Apalagi ketika saya, Andi dan tentunya juga anda, pasti sudah tahu bahwa usaha-usaha yang saya lakukan itu — tak kunjung menunjukkan perubahan-perubahan yang positif. Baik bagi diri saya sendiri, lingkungan, bahkan negara. Saya, ehm tetap saja pengangguran. Lingkungan ehm, tetap saja membully saya. Negara apalagi. Ia tak kunjung menunjukkan perubahan-perubahan yang berarti.

Ambyar. Mendalami ini rasa-rasanya makin membuat saya ingin pensiun di tempat. Menjadi manusia-manusia pada umumnya. Yang normal. Normal karena tidak dibaluti alam pemikiran juga perbandingan. Bahagia karena kepura-puraannya. Tidak akan pusing karena kepercayaannya bahwa diri manusia, lingkungan bahkan negara bakal berubah dengan sendirinya.

Lalu hanya mengecilkan ikat pinggang idealis saya dengan segera menamatkan kuliah, bekerja, menikah punya anak dan masuk surga. Tetap terdengar idealis. Kendati sekecil itu, se-individual itu. Betapa bahagianya, betapa manisnya. Pertanyaannya, apakah dengan itu semua kita akan bahagia dan tidak berpikir?

Tidak. Minimal kita tetap berpikir dan bekerja. Kita tetap akan pusing ketika anak minta uang sekolah. Kita akan tetap pusing ketika istri minta tambahan bulanan. Di satu sisi, kita tetap akan protes jika negara membuat kebijakan yang ngawur. Kita tetap akan protes ketika uang sekolah makin mahal dan kebutuhan istri tidak terjangkau lagi. Apa bedanya?

Sama sekali tidak ada. Boleh jadi pasca itu kita gerak. Sebab kondisi lingkungan bahkan negara sedikit banyak memiliki dampak pada keluarga saya dan saya sebagai pribadi. Karena itulah saya tidak akan pernah berpikir untuk pensiun dari dunia gerakan. Malahan saya bercita-cita buat membikin lembaga riset kebijakan yang konsen dalam berbagai isu. Ya semoga saja kesampaian. Amin.

Tidak ndi, tidak. Saya belum dan tidak akan pernah berpikir buat pensiun“, kata saya tegas (Faris Fauzan Abdi).