Buku Resep

Posted by
Kredit Foto : thebabybirds.net

Beberapa waktu lalu dua orang teman saya, Rizal dan Bayu datang kepada saya untuk meminta beberapa buku. Konon katanya, buku-buku tersebut bakal dipajang di cafe Rizal yang kini — hendak disulap menjadi cafe literasi. Keren sekali. Namun waktu itu saya memang sengaja menawari mereka buku-buku resep. Dan saya jujur saja terkaget dengan bagaimana respon mereka.

Rizal, ia hanya membaca pesan saya itu tanpa membalasnya dengan sepatah kata pun. Sementara Bayu, ia membalas pesan saya tersebut dengan nada kesal sambil menyebut, ‘maaf’, alat kelamin perempuan dalam Bahasa Jawa.

Dari kedua respon ini, saya menyimpulkan bahwa Rizal dan Bayu marah pada saya. Bagaimana tidak, sudah dimintai dengan serius tapi akan tapi saya jawab dengan guyon. Barangkali minta buku-buku yang populer. Namun sayangnya saya hanya menawarkan buku resep. Heheu.

Nggak masalah. Itu wajar. Karena dalam benak mereka, mereka hanya menganggap bahwa buku resep hanya berisi soal cara memasak. Tidak ada kata-kata kiasan karena isinya cuman tata cara. Tidak ada imaji yang tersirat karena ia banyak berisikan gambar-gambar. Kendati ia tetap berisi soal pengetahuan tentang cara memasak soto, rendang, bahkan, rawon.

Itu hanya resep masakan. Nah kalau resep yang lainnya? Ada? Ada. Kemarin saya memang pulang ke Sidoarjo selama dua hari. Dan saya terjebak dalam beberapa obrolan dengan berbagai tema. Salah satunya soal buku resep. Awalnya, untuk membahas buku resep dengan konteks lebih luas saya membuka pertanyaan pada ibu begini :

Bu, apa yang kau pikirkan soal buku resep?

Ya buku yang berisi cara-cara memasak toh?

Nah loh.

Tapi kenapa setiap masakan orang itu resepnya beda-beda ya bu? Dan itu membuat rawon ibu tidak sama dengan rawonnya depot Krian

Ya kan memang resepnya beda-beda nyo

Nah loh.

Itu kan resep masakan ya bu? Kalau ku bilang resep kehidupan, resep kehidupan ibu apa?

Menjalankan apa yang menjadi perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya

Kalau itu mah resep dalam meningkatkan takwa bu. Maksudku resep dalam menjalani hidup”

Hidup itu berjuang le. Ada kebutuhan ada keinginan. Jika hanya bergantung pada kebutuhan hidupmu jelas monoton. Namun jika hanya bergantung pada keinginan kau akan memiliki kekayaan imajinasi. Dua-duanya bersangkut paut. Namun ibu selalu menjadikan keinginan menjadi kebutuhan begitupun sebaliknya

Contohnya bu?

Beberapa waktu lalu kau cerita kalau kau sedang makan rawon karena kau sakit kan? Itu keinginanmu karena kau paham makanan lain hanya akan berakhir mubazir dan tidak kau makan. Di satu sisi rawon mensiratkan kebutuhanmu untuk tetap makan tapi tidak mubazir. Itulah kadangkala mengapa kita ini jangan bergantung pada salah satunya. Akan tetapi seharusnya, kita berusaha untuk tetap menjalankan keduanya. Sebab dua-duanya (kebutuhan dan keinginan) itu ada manfaatnya untuk kita sebagai pribadi. Utamanya dalam menjalani hidup ini

Mantab bu, terimakasih

Hehe, kau pasti mau nulis ya?

Iya bu, lagi butuh pandangan soal buku resep. Hehe

Obrolan itu singkat saja. Karena setelah itu saya memilih untuk keluar rumah dan menulis catatan ini. Sementara ibu memilih untuk tetap di rumah ngurusi brengkesan ikan tongkol. Semua keluarga saya suka akan brengkesan itu. Tapi tidak untuk saya. Sebab dari dulu saya memang tak suka ikan. Namun itulah kasih sayang seorang ibu. Belio tetap memasakkan saya brengkesan. Kendati bukan brengkesan tongkol. Melainkan brengkesan telur. Dan ibu memiliki resep tersendiri untuk itu.

Istimewa kan? Ya, Istimewa.

Lantas pertanyaan saya, ketika resep itu di kontekstualisasikan dalam berbagai hal macam ini, bisakah kita hidup tanpa buku resep? Tidak. Kita tidak bisa hidup tanpa resep.

Mark Manson dengan buku resep berupa Seni Untuk Bersikap Bodoh Amatnya.

Thomas Gordon dengan buku resep berupa Cara Menjadi Orang Tua yang Efektif.

Fumio Sasaki dengan buku resep berupa Seni Hidup Minimalisnya.

Banyak. Semua butuh resep. Dan semua orang saya yakin, tidak bisa hidup tanpa buku resep mereka masing-masing. Dalam hal memasak saja kita pasti membutuhkan buku resep untuk mengetahui bahan baku, jumlah takaran dan seterusnya. Itu resep makanan. Nah kalau resep mengenai hidup, menulis dan lain sebagainya?

Ibu saya dengan resepnya bahwa hidup itu intinya berjuang dan berhati-hati dalam memilah kebutuhan serta keinginan. Dan saya yakin masing-masing pribadi memiliki resep khusus untuk hidupnya.

Menulis pun begitu. Bagi saya, menulis seperti ini juga butuh resep. Ibarat sebuah masakan, menulis butuh bahan baku berupa masalah, bumbu berupa sudut pandang dan penyajian agar sebuah tulisan memiliki cita rasa yang khas. Itulah alasan mengapa tulisan Muhidin M Dahlan, Eka Kurniawan, Puthut EA, bahkan Agus Mulyadi, memiliki ciri khasnya masing-masing.

Apalagi sebuah cafe. Sebuah cafe tidak hanya membutuhkan sebuah resep untuk meracik kopi. Melainkan juga resep untuk menentukan ciri khas dari sebuah cafe. Dan menurut saya, penentuan akan resep cafe ini paling tidak dilakukan sebelum memulai bisnis perkopian. Yang secara keseluruhan diperoleh lewat analisis pasar yang erat kaitannya dengan lingkungan.

Membuka cafe literasi di Kota Malang dan Kota Yogyakarta menurut saya cukup potensial. Sebab, Kota Malang dan Kota Yogyakarta merupakan dua kota yang mengantongi identitas sebagai kota pelajar. Kendati sepi diskusi, minimal tidak sepi pengunjung berupa mahasiswa-mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas, sekedar main remi, bahkan, pacaran. Heheu.

Sementara di Sidoarjo, jika sebuah cafe katakanlah sengaja didirikan ‘hanya’ untuk mengakumulasi profit, cafe itu cukup menyediakan beberapa komponen awal. Seperti tempat yang strategis, suasana yang artistik, Wi-Fi, terminal listrik sampai barista yang ramah. Minimal tidak seperti Cak Kabul yang sebetulnya ramah tapi suka celometan. Dan itu semua saya yakin sudah dimiliki oleh KOPICUP. Nama cafe milik Rizal itu. Indikatornya bisa dilihat dari ramainya pengunjung belakangan ini.

Berarti tidak bisa kalau misalnya KOPICUP kuubah jadi cafe literasi?“, tanya Rizal.

Bukannya tidak bisa dik milenial. Bukan. Tapi pesan saya kembalikan lagi itu pada resep. Pertama, lihatlah lagi tujuan awal kenapa kau harus membuat bisnis kopi. Kedua, lihatlah pasar. Dan ketiga, tentukan corak. Dari situ pasti ketemu kuncinya.

Namun jika keinginan untuk mentransformasi cafe itu ke arah cafe literasi sudah bulat, ya apa boleh buat. Lakukan saja. Hanya seharusnya dik milenial tidak lupa pada resep. Bahwa ada langkah-langkah yang harus dilakukan terlebih dahulu. Nggak ujug-ujug dan jedier macam cafe yang pernah saya tulis dalam catatan saya yang berjudul ‘Renewable Cafe‘ itu. Yang beberapa bukunya akhirnya tak terbaca itu.

Dan inilah resep dari saya. Jika memang menginginkan agar cafe anda menjadi cafe literasi, pertama-tama yang harus dibenahi adalah minat baca. Nggak harus menyediakan buku populer dari yang ringan sampai yang njelimet. Minimal sediakan koran harian. Konsekuensi dibalik itu, sebuah cafe dengan koran harian harus buka lebih pagi dan full sampai malam hari. Tidak hanya itu, warung literasi biasanya identik dengan diskusi. Sebab diskusi diperlukan untuk semakin mempertajam budaya baca. Pasalnya, hanya lewat budaya diskusilah rasa keingintahuan itu muncul dan menguat.

Yang nggak kalah pentingnya adalah manajemen. Harus ada manajerial yang jelas dalam membangun cafe literasi. Harus ada sang pengepul isu, jaringan pembicara, sampai jaringan komunitas. Rizal misalnya, ia kan dekat dengan banyak pendaki. Sebenarnya, ia juga bisa memanfaatkan jaringan itu buat membikin diskusi seputar isu-isu pendakian.

Menurut pengalaman saya, itulah langkah awal untuk membuat cafe literasi. Bukan berdasarkan pengalaman saya dalam memiliki cafe, namun pengalaman dari beberapa orang yang mendirikan beberapa cafe literasi di Kota Malang. Itu saja resep yang saya persembahkan untuk sokib saya, Rizal. Masalah dijalankan atau tidak, semua kembali kepada Rizal sebagai pemilik cafe. Sekian dan semoga sukses.

Ngomong-ngomong tulisan saya kali ini kok seperti ceramah ya? (Faris Fauzan Abdi).