Mengingat Uda Nanang

Posted by
Uda Nanang berada di Tengah (Kredit Foto : Dokumen Pribadi)

Pagi ini, saya memilih untuk ngopi di warung Cak Kabul. Minum kopi susu sambil baca koran. Siapa tahu dapat inspirasi. Siapa tahu dapat pekerjaan, eh. Dan entah mengapa, hari ini pelayanan cak kabul berbeda dari biasanya. Ia begitu lama membuat kopi. Tak banyak celometan dan terlihat loyo. Benar-benar berbeda dari biasanya. Yang terkesan cepat mengantarkan pesanan, galak dan lebih-lebih cerewet. Tapi yawis ben lah. Mungkin Cak Kabul moodnya sedang turun.

Seusai nyeruput kopi, saya memutuskan untuk mulai membaca koran. Koran yang ada dalam genggaman saya waktu itu ialah koran harian Jawa Pos edisi Selasa, 5 November 2019. Seperti biasanya, halaman yang saya tuju adalah kolom opini. Sebab, dari kolom opini lah kita bisa mengetahui keberhasilan diseminasi publik oleh media massa. Terkhusus menyangkut isu apa yang hangat diperdebatkan oleh para pakar.

Sayangnya belum sampai kolom opini saya dibuat kaget oleh artikel yang berjudul ‘Tak Terbukti Fasilitasi Kasus Korupsi’. Setelah saya baca dan saya pahami artikel tersebut berisi pembebasan mantan Dirut PLN, Sofyan Basir dari skandal kasus korupsi PLTU Riau. Sofyan, ia dinyatakan bebas lantaran hakim menyatakan bahwa ia tidak terbukti memfasilitasi pertemuan Eni Maulani Saragih, Johannes B. Kotjo, dan Idrus Marham selaku terdakwa kasus korupsi PLTU Riau-1. Atas putusan tersebut, Sofyan dinyatakan bebas dari jeratan hukum dan dipersilahkan meninggalkan rutan.

Membaca artikel ini jujur saya kaget. Apalagi ketika saya tahu bahwa pembebasan Sofyan Basir oleh majelis hakim pengadilan tipikor bukanlah yang pertama. Melainkan pembebasan yang kesekian kalinya. Sebab ada dua terdakwa KPK yang pernah diputus tidak bersalah oleh hakim tipikor. Mereka adalah Mochtar Mohammad (wali kota Bekasi) dan Suparman (bupati Rokan Hulu). Kendati dua-duanya tidak disidang di pengadilan Tipikor Jakarta.

Heran. Saking kagetnya saya sampai memfoto koran ini dan mengunggahnya ke snapgram. Tak lama kemudian snap saya itu dibalas oleh kakak saya begini :

“Mau kasasi saja bingung”

Sepertinya kakak saya juga sedang asik membaca artikel tersebut. Namun mengenai responnya ini, kakak saya nampaknya menyayangkan sikap KPK. Mungkin bagi kakak saya, respon KPK dalam artikel itu nampak kebingungan. Padahal seperti tertera dalam artikel KPK hendak mengadakan diskusi internal guna membahas langkah hukum berikutnya.

Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk membuktikan itu” , ujar Laode M. Syarif selaku Wakil Ketua KPK.

Dan saya akan percaya bahwa KPK akan terus mengusahakan kasus ini sampai tuntas. Karena saya tahu bagaimana integritas, atau sikap ketersesuaian antara ucapan dan pikiran itu dijunjung tinggi oleh KPK. Yang menurut pengalaman saya, pernah saya jumpai langsung wujudnya melalui salah seorang pekerja KPK. Namanya Nanang Farid Syam. Atau akrab dipanggil Uda Nanang.

Saat itu, beliau merupakan seorang pegawai KPK yang bertugas di Dirut PJKAKI KPK atau Direktorat Pembinaan Jaringan dan Kerja Sama antar Komisi dan Instansi, Komisi Pemberantasan Korupsi. Kami bertemu sebanyak tiga kali. Pertama dalam momen diskusi anti korupsi. Kedua, dalam sekolah anti korupsi. Dan ketiga, saat bedah film ‘Menolak Diam’ di salah satu rumah warga Kota Malang. Dari ketiga pertemuan tersebut, pertemuan ketiga lah yang paling berkesan buat saya. Sebab dalam momentum tersebut, saya mendapati betapa integritas itu dijunjung tinggi oleh Uda Nanang selaku pegawai KPK.

Singkat cerita sepulang dari rumah warga itu, Uda Nanang meminta agar ia diantarkan untuk pergi ke stasiun. Saya lupa waktu itu ia mau kemana. Hanya yang saya ingat waktu itu salah seorang teman saya bersedia untuk mengantarnya.

Sama saya aja pak sekalian lewat“, katanya waktu itu.

Oh iya, lah helmnya mana?“, tanya Uda Nanang.

Ndak usah pak. Jam segini nggak jalanan Kota Malang itu sepi. Pasti nggak ada polisi

Teman saya yang enggan saya sebut namanya itu khilaf. Ia tidak tahu sedang berbicara dengan siapa. Seketika Uda Nanang marah betul waktu itu.

Biar apa? Biar gaya gitu melanggar peraturan?” , kata Uda Nanang sambil menunjukkan wajah serius.

Pinjam helm dulu lah mas“, celetuk saya pada orang itu.

Iya harus pakek helm. Ingat loh korupsi itu berawal dari perilaku kecil. Salah satunya suka melanggar peraturan. Coba saja buka UU Tipikor, disitu jelas frasanya: ‘setiap orang yang melawan hukum’ “ , tegas Uda Nanang.

Teman saya itu langsung diam. Lantas turun dari motor untuk meminjam helm kepada pemilik rumah, Pak Jainul. Kejadian itu saya ingat betul sampai sekarang. Integritas yang diperlihatkan Uda Nanang malam itu, selanjutnya merubah seluruh pandangan saya soal peraturan selama ini. Yang awalnya saya berpikiran bahwa peraturan ada untuk dilanggar, kini saya berpikir bahwa peraturan ada untuk ditaati.

Uda Nanang, ia merupakan representasi dari KPK saat ini. Melalui Uda Nanang, saya percaya akan ada langkah konkret dari KPK untuk menyelesaikan kasus ini. KPK dari dulu memang dilemahkan. Tak pernah berubah. Bahkan upaya-upaya ini terjadi sejak lama. Namun lembaga ini tidak pernah berubah. Kendati berada dalam selemah-lemahnya kondisi, lembaga ini tetap konsisten untuk membekuk para perampok kekayaan negara. Tidak seperti Cak Kabul pagi ini. Yang tiba-tiba berubah karena moodnya menurun. (Faris Fauzan Abdi)