Hari Keempat : Jeritan dari Desa

Posted by
Kredit Foto : Dokumen Pribadi

Di hari keempat KKN, kondisi kami di desa masih biasa-biasa saja. Belum ada guncangan yang berarti. Belum ada kisah-kisah nan heroik. Kosong begitu saja. Nganggur. Karena itulah saya ngopi pagi bersama Aldino. Di depan balai desa. Siapa tahu nemu kisah baru.

Seperti biasa, dalam momen itu si Aldino selalu mengajak saya berdiskusi. Aldino kembali menyanggung persoalan yang fundamen dalam pendidikan: pendidikan yang menyalahkan. Dengan semua anasir yang kebanyakan datang dari Pak Sulis. Saya pura-pura saja seperti gelas kosong pada waktu itu. Dan itulah yang membuat saya makin penasaran dengan sosok Pak Sulis.

Nantilah kita ketemu, tapi nggak janji ya“, Aldino berucap.

Siap” , jawab saya singkat.

Suasana mendadak hening. Namun sebentar saja. Karena pasca itu mata kami terbelalak ketika salah seorang warga tiba-tiba keluar dari ‘babakan’ di depan balai desa. Babakan yang dalam istilah Bahasa Indonesia diartikan sebagai WC umum yang ada di bantaran sungai. Melihat fenomena itu, Aldino tiba-tiba nyeletuk begini:

Seharusnya ini kan ada WC umum“, kata Aldino.

Haha, iya. Kita buatkan kah?“, tanya saya.

Hahaha, punya dana berapa kita ini?”

Haha. Dikit cong, makanya itu

Di salah satu desa yang bersebelahan dengan desa tempat tinggalku ada tempat yang keadaannya boleh dikatakan cukup ironis ris

Gimana no, gimana?” , tanya saya penasaran.

Di desa itu kalau kamu tau ialah penghasil kopi terbesar di daerahku. Tapi rerata petaninya adalah petani gurem yang bekerja di lahan-lahan para tuan tanah. Setiap panen, mereka hanya menerima Rp 300.000. Bertani ala-ala mreman lah

Weh gila sekali ya. Tapi memang seperti itu sih No kenyataannya

Iya, yang nggak habis pikir, ketika ada bantuan sosial disana semuanya dialirkan oleh mafia-mafia desa hanya untuk para koleganya. Seperti ketua kampanyenya dulu atau sanak saudara mereka sendiri. Walhasil kesenjangan diantara mereka boleh dibilang cukup jauh. Orang yang dekat dengan mafia desa, rumahnya tinggi-tinggi. Mewah-mewah. Sementara mereka yang jauh dari cakupan kekuasaan, mereka hanya berpagarkan kayu.”

Lah terus gimana sama warga sana? Apakah ada yang pernah melawan kenyataan yang sudah kronis itu?

Pernah ada. Tapi inilah desa itu. Selalu ada celah buat mematikan api. Setiap ada warga yang sudah sadar untuk melawan, entah warga yang lainnya akan berbondong-bondong buat mengepung si warga itu. Entah dikatain nggak bersyukur lah, tidak bisa menjaga kerukunan lah, dan seterusnya. Ngeri loh mafia desa itu. Lebih mengerikan dari mafia perpolitikan nasional malah. Sebab mereka jarang tersentuh oleh mahasiswa-mahasiswi atau pemuda-pemudi yang kritis

Lah kan kau hidup di kota pelajar no, di tempatmu masih banyak sekolah dan universitas. Barangkali pula, ada sebagian dari mereka yang merantau buat berkuliah. Seharusnya masih ada kesadaran kan?” , jelas saya.

Iya, yang berkuliah sih banyak. Yang paham begituan ya banyak. Sebanyak pemain-pemainnya lah. Tapi kaum pemuda disana sama sekali nggak punya kesadaran buat merubah keadaan. Banyak dari mereka yang lebih memikirkan diri sendiri

Disini quote seorang Pramoedya Ananta Toer entah mengapa tiba-tiba meledak keluar dari aras kesadaran saya. Akibatnya, kepala saya mendadak penuh saja oleh kata-kata itu: “Kau harus adil Minke, kau terpelajar. Terpelajar haruslah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi perbuatan“. Mendengar kata-kata itu lantas saya meminta izin kepada Aldino. Tentunya untuk menulis ceritanya ini.

No, boleh ku tulis cerita ini?

Waduh jangan cuk. Berbahaya

Tenang, tidak ku sebutkan nama desanya. Hanya mungkin, namamu hahaha“, kata saya sambil ketawa.

Janganlah ris” , jawab Aldino singkat.

Kau terpelajar din

Iya, iya. Tapi jangan pakek nama desa. Ayo wes balik. Ada kegiatan ini

Iya ayo hahaha

Kami balik ke balai desa. Sebab anak-anak sudah selesai makan. Namun pagi itu tetap saja seperti biasanya. Seperti biasanya Koordinator Desa memutuskan agar hari ini kita lanjut survei. Jadi nggak ada kegiatan selain survei. Aldino mendadak patah hati (Faris Fauzan Abdi)