Belajar dari Wahyu

Posted by
Kredit Foto : instagram.com/payung_gunung

Nama lengkapnya Wahyu Triatmojo. Akrab dipanggil Wahyu. Ia merupakan teman seperjuangan saat masih SMA. Juga salah satu anggota dari Anak Merdeka. Rasanya sudah lama sekali saya tidak berkabar dengannya. Apalagi sempat bertemu.

Terakhir kami bertemu dalam acara reuni Anak Merdeka dua tahun silam. Saat itu, ia banyak bercerita soal kondisi terkininya. Bahwa ia sedang banting tulang dengan harapan bisa berkuliah. Pada suatu hari nanti. Dan harapan itu sepenuhnya terwujud. Sebab, belakangan tersiar kabar jika ia kini tengah duduk di bangku perkuliahan. Tepatnya di Universitas Ma’arif Hasyim Latif (UMAHA). Jurusan ekonomi-bisnis lagi. Hebat sekali.

Belakangannya lagi, juga tersiar kabar bahwa ia berkuliah sambil bekerja. Ia bekerja sebagai seorang porter. Sebuah pekerjaan yang dalam memoar saya, cocok dengan hobi Wahyu. Sebab pada dasarnya, Wahyu adalah seorang petualang. Seorang pengembara dengan satu cita-cita : mengelilingi Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke. Dari Mianggas sampai pulau Rote.

Uniknya si Wahyu disini. Dari foto-foto yang ia unggah di akun Instagramnya, saya tahu kalau ia masih memegang erat cita-citanya itu. Wahyu, ia tetaplah petualang dengan mimpinya menyusuri bumi nusantara. Daerahnya, gunungnya bahkan bumi manusianya. Padahal beberapa mimpi kecilnya sudah terwujud. Sebut saja seperti menapakkan kaki di Nol Kilometer Indonesia, mendaki Gunung Kerinci, bertemu Dewi Anjani di puncak Gunung Rinjani, dan masih banyak lagi.

Heran. Padahal dulu saya selalu berpikir bahwa mimpi-mimpinya itu terlalu ketinggian buat seorang anak SMA. Dulu sekali, saya kerap berpikir bahwa Wahyu tidak lebih dari seseorang yang doyannya ngerowos. Atau yang dalam istilah Bahasa Indonesianya berarti seseorang yang suka ‘omong besar’. Seorang yang gemar bermimpi di siang bolong.

Rupanya saya salah. Perlahan tapi pasti, Wahyu sudah berhasil mewujudkan beberapa dari sekian banyak mimpinya. Hebat sekali. Sebagai seorang sahabat, jujur saya merasa bangga dengan sosok seorang Wahyu. Seseorang yang selalu menghidupi mimpi dengan keyakinan. Seseorang yang tidak pernah berbohong dengan dirinya sendiri. Serta selalu menuntut diri untuk bertanggung jawab terhadap kata-katanya itu.

Melalui Wahyu, saya jadi percaya pada sebuah mimpi. Mimpi adalah syarat untuk diwujudkan melalui tindakan yang sudah dilandasi keteguhan dan keyakinan. Sementara jujur atas diri sendiri ibarat pondasi yang membuat kita tidak segan untuk memaafkan diri sendiri. Terkhusus dalam menghadapi kehidupan yang serba tidak pasti ini. Mendalami seorang Wahyu, seketika saya ingat puisi Rendra yang bunyinya begini :

“Kesadaran Adalah Matahari
Kesabaran adalah Bumi
Keberanian menjadi Cakrawala
dan Perjuangan adalah Pelaksanaan Kata-Kata”
– (WS Rendra. Depok, 22 April 1984)

Tetap pada jalanmu, sam. (Faris Fauzan Abdi)