‘Bung’ yang ke-21

Posted by
Kredit Foto : instagram.com/shafwansyafiq

Hari ini, adik saya Muhammad Shafwan Syafiq berulang tahun yang ke-21. Usia yang bisa dibilang cukup tua. Cukup tua untuk menyerap banyak pengalaman hidup. Cukup tua untuk mulai sigap menentukan pilihan. Tapi apa secukup tua itu kah Syafiq?

Tidak. Ia tidak cukup tua untuk itu. Syafiq tetaplah muda. Wajahnya tetap baby face. Gerak-geriknya tetap menunjukkan bahwa ia pemuda. Slogannya tetap young, wild and free. Pegangannya pun tetap idealisme. Dia tidak pernah sedikitpun tua.

Saat masih kecil misalnya, gaya khas pemuda yang gemar menjajal hal baru mulai terlihat dari adik saya ini. Seperti diceritakan ibu, Syafiq kecil gemar melakukan hal-hal yang sifatnya eksperimental. Mulai dari menyembelih ayam kecil, ikan, meledakkan korek api, sampai menggunting kuping saya. Eksperimen yang terkesan aneh dan mengerikan. Akan tetapi, tidak banyak dilakukan oleh pemuda dengan usia 2-3 tahunan.

Karena eksperimen berawal dari rasa keingintahuan, Syafiq lantas tumbuh sebagai pribadi yang gemar belajar dan akhirnya, pintar. Saat TK, ia banyak menjuarai berbagai lomba. Lulus TK, SD Muhammadiyah 1 Krian. Sebuah sekolah favorit di tempat saya. Di sekolah ini, Syafiq sering mengikuti olimpiade-olimpiade. Khususnya olimpiade sains. Aktivitas yang akhirnya membentuk seorang Syafiq menjadi lulusan terbaik di sekolah itu. Hebat.

Lulus dari SD, Syafiq lantas melanjutkan pendidikan SMP-nya di SMP Negeri 3 Sidoarjo. Salah satu sekolah favorit disana. Padahal setahun sebelumnya saya dinyatakan tidak diterima di sekolah itu. Akan tetapi Syafiq bisa melenggang masuk begitu saja. Alasannya satu: dia pintar.

Tiga tahun berlalu. Tiba waktunya Syafiq buat melanjutkan jenjang SMA. Waktu itu ia bilang bahwa ia ingin lanjut ke SMAN 3 Sidoarjo. Naasnya, ia tidak diterima di sekolah itu. Seperti saya. Karena frustasi, akhirnya ia memilih untuk satu sekolah dengan saya. Tepatnya di SMAN 1 Taman Sidoarjo. Dan di sekolah itulah kami berdua banyak terlibat dalam skandal cerita masa muda.

Di SMA, Syafiq dikenal sebagai tipe orang yang suka membaur. Salah satu pentolan Anak Merdeka. Juga salah satu pentolan dari Perompak. Dua geng besar dengan basecamp yang sama: parkiran. Berbeda dengan nasib Anak Merdeka, Perompak dibawah naungan Syafiq dan beberapa pentolannya yang lain berhasil mempersatukan semua angkatan di SMAN 1 Taman. Sebuah pencapaian yang menurut saya patut buat diapresiasi.

Ia lulus dari bangku SMA nilai yang cukup baik. Bercita-cita ingin kuliah di Kota Malang. Sama seperti saya. Namun hal itu tidak kesampaian karena ia harus ditolak oleh Politeknik Negeri Malang. Uniknya disini. Pasca ditolak, Syafiq lewat SBMPTN dinyatakan masuk prodi Ilmu Sejarah, FIB Universitas Negeri Jember. Padahal, dulu prodi ini ialah prodi incaran saya.

Tak puas menjadi mahasiswa negeri, Syafiq memutuskan diri untuk masuk dalam organisasi. Menjadi kepala bidang termuda di organisasinya dengan secepat itu. Alasannya bukan karena organisasi itu kekurangan SDM. Melainkan karena kapasitas pengetahuannya sudah memungkinkan. Seperti kata ketua organisasinya pada saya waktu itu.

Satu periode kepengurusan selesai. Kini, Syafiq tergabung di salah satu Perpustakaan Jalanan terbesar di Kota Jember : Amorfati. Sedang giat-giatnya membaca dan berdiskusi. Sedang merintis blog pula. Ia sadar bahwa segala aktivitasnya berlatarbelakang ilmu pengetahuan. Oleh karena itulah, Syafiq tiada henti-hentinya buat belajar.

Dua Minggu yang lalu, tepatnya ketika saya berada di Kota Jember, Syafiq kerap mengajak saya buat berdiskusi. Terkhusus soal ekonomi dan agraria. Dua disiplin yang menjadi fokus pengetahuannya. Sekaligus yang membuat Syafiq lantas menjadi salah satu jantung dalam pergaulannya. Ketika teman-temannya bingung soal sejarah ekonomi dan agraria, Syafiq selalu memberi pemahaman yang jelas kepada teman-temannya itu. Sejelas ia menjelaskan soal antroposentrisme kepada saya dan seluruh anggota diskusi di Amorfati waktu itu.

Malam ini, ia bercerita bahwa ia sedang mengikuti forum bedah buku di Museum Huruf. Sebuah buku yang berjudul ‘Sejarah Dunia yang Disembunyikan’. Karya Jonathan Black. Ya begitulah Syafiq, dengan semangat mudanya, dengan seluruh keingintahuannya. Sampai-sampai terkadang saya bingung apa cita-citanya. Namun pernah suatu hari saya coba memberanikan diri buat bertanya soal cita-citanya:

“Pik apa cita-citamu?”

“Aku? Jadi filsuf yang setara Socrates”

“Amin” , sahut saya.

Filsuf setara Socrates katanya. Suatu cita-cita yang mulia lagi bijaksana. Perlu pengorbanan berdarah-darah. Perlu kebijaksanaan yang luar biasa. Oleh sebab itu teruslah berkubang dalam rasa keingintahuan. Teruslah menjadi pemuda pemikir. Teruslah belajar. Tetaplah bijaksana dan selalu bersahaja. Dengan begitu, kelak biarlah impian tersebut menjadi nyata. Selamat ulang tahun yang ke-21, bung.***

Malang, 26 Oktober 2018

Faris Fauzan Abdi