Reno Adiknya Putol

Posted by
Kredit Ilustrasi : Pinterest


Malam , eh pagi ini saya baru sampai kamar indekos setelah seharian dimakan habis oleh aktivitas. Sebut saja kuliah, ngeditorial di Enzo, ambil sertifikat dan seterusnya. Eh kelupaan, termasuk salah satunya bertemu kawan saya, Reno. Ia merupakan kawan lama saya asal Sidoarjo yang berkuliah di salah satu perguruan tinggi di Surabaya ini — mendadak berkunjung ke Kota Malang. Katanya, nggak ada kegiatan apa-apa. Melainkan ia hanya ingin liburan sejenak. Maklum semester tua banyak waktu luang.

Saya bertemu dengan dia di Alun-Alun Batu sekitar pukul 19.30 WIB tadi. Lanjut ngopi di trotoar jalan daerah Pot Bunga (arah ke Museum Angkut). Saya pesan kopi dan dia pun pesen kopi. Lantaran sudah lama tak bersua kami saling tanya kabar.

Gimana kabarnya jan?

Baik no, kamu?

Yah lihat aja to, baik-baik aja gini loh. Hahah” , katanya sambil tertawa.

Haha, ok“, kata saya kaku.

Reno, ia tidak mau obrolan itu putus begitu saja. Ia makin bercerita soal banyak hal. Mulai bagaimana kondisi kuliahnya hari ini, gimana iklim kampusnya, hubungan pribadinya, sampai bagaimana dinamika aktivisme di Kota Surabaya. Yang secara keseluruhan saya simpulkan, berbanding terbalik dengan saya.

Reno sukses melejit. Sementara saya, sukses hancur lebur. Karena itulah saya memilih buat mengulur-ulur ceritanya saja. Tujuannya agar ia tidak sempat menanyakan soal bagaimana cerita kelam saya di Kota Malang. Kalau ia sampai tahu, pasti ia akan meledek saya habis-habisan. Sebab dari dulu begitulah tabiatnya.

Kendati sudah menghindar sedemikian rupa, Reno tetaplah Reno. Reno yang nggatheli memang. Ia mungkin tahu kalau ia sedang saya sanggung. Lantas ia tiba-tiba bertanya:

Lah kamu gimana disini? Ku dengar kamu sudah berhenti dari organisasi-organisasimu?

Iya memang

Kenapa?

Adalah satu hal yang sifatnya prinsipil. Sisanya karena ngehek

Aku ini udah bertahun-tahun nggak ketemu kamu loh. Tak kira ada yang berubah. Rupanya enggak

Ya mau gimana lagi lah, entah. Ngelu“, jawab saya.

Reno tertawa terkekeh-kekeh. Dari raut mukanya, ia nampak sedang menertawakan kesuraman saya. Dan saya memang sengaja buat melayani syahwat komedinya yang terkenal cukup nggatheli itu. Saya diam-diam saja. Berharap dia tidak tahu soal apa yang kini masih saya lakoni: Rumaka. Bukan karena malu. Akan tetapi saya ingin menikmati selera komedinya setelah lama tidak bertemu.

Lah doi gimana?“, tanya Reno lanjut.

Mati saya. Ketika mendengar pertanyaan itu, saya sekonyong-konyong seperti disamber geledek. Saya bingung. Kalau saya jawab jujur, saya tahu akan sampai dimana kejujuran saya akan menggampar wajah saya. Sementara kalau saya bohong, dia pasti akan mencari celah yang lain. Intinya sama saja. Sama-sama mati. Hemat saya, lebih baik jujur saja lah.

Kandas lur

Hahahaha“, respon Reno.

Reno, tertawa habis-habisan sambil mendongkrakkan kepalanya. Dengan bibir selebar itu. Dengan mata sesipit itu. Berani-beraninya. Kalau saya misal, nggak terlalu ingat tragedi tiga tahun silam pasti saya lempar lagi mukanya dengan korek (lagi).

Ya, saya memang pernah sedekat nadi dengan Reno. Namun itu dulu sekali. Sebelum kita pernah benar-benar terjebak dalam sebuah tragedi baku hantam. Di posisi yang sama. Di suasana yang sama. Cuma waktu itu saya, dengan tanpa mendongkol dalam hati, langsung melempar kepalanya dengan korek api. Berbeda dengan hari ini yang cuma nggerutu di dalam hati.

Hehe, iya no. Westa urip iku urup” , saya meminjam kekata Syafiq.

Hahaha iya aku paham kok. Tapi kok ya absurd betul

Ya memang. Aku hendak memutuskan diri buat jadi absurdis kok” , jawab saya.

Terserahlah. Haha“, kata Reno sambil tetap tertawa.

Makannya aku lihat beberapa tulisan kamu di blog belakangan kok galau terus. Menye-menye terus. Nggak lagi penuh dengan catatan-catatan berbahaya yang revolusioner“, imbuh Reno.

Sial. Rupanya, belakangan ini Reno juga membaca blog saya. Dan saya ingat betul sejak Vivere Pericoloso, ada sesuatu yang mengganjal pada tulisan-tulisan saya. Untuk saya pribadi, saya memang tidak biasa mengakui apapun. Termasuk se-revolusioner apa, se-ngehek apa, bahkan se-nganu apa. Sebab saya percaya bahwa itu hanya soal pembawaan, soal esensi. Manusia itu ‘being‘ kata Sartre. Artinya sebagai manusia pada umumnya, saya sudah eksist sejak dulu. Hanya saja karena saya terima konsep manusia sebagai ‘adalah’ (man simply is), saya bebas buat mendefinisikan diri saya sendiri.

Jadi nggak usahlah terlalu dibatas-batasi begitu.

Tapi ya gimana lagi, itulah Reno. Sebagai temannya, saya paham siapa si Reno ini. Seorang pecandu pencapaian. Tipikal seseorang yang haus akan pengakuan. Tidak terkecuali, bebal. Jadi percuma saja kalau saya merespon semua celometannya ini dengan keseriusan. Mending dibuat santai. Tentu saja sambil menertawakannya dalam hati.

Ya dari dulu masak progressif revolusioner no, berat. Menurutku nggak ada yang progresif revolusioner seperti katamu malah. Lah wong saat ini isinya lebih banyak catatan“, sambung saya.

Enggak, ada beberapa tulisanmu yang seperti itu. Cuma tulisanmu belakangan ini yang harus diganti. Belakangan ini kamu suka baca sastra sih. Kelihatan kok dari beberapa snapmu. Pengaruh betul ke tulisanmu itu. Baca yang ngeri-ngeri lagi lah

Setelah blog, sekarang Instagram. Memang garangan betul adek Putol yang satu ini. Saya sebut adek Putol karena karakternya hampir mirip. Kiri yang terlalu kekiri-kirian. Kalaupun ia menjejal kanan, saya yakin, ia bakal menjadi ultranasionalis sekelas Hitler. Hati saya yang kadung kemerengkel lantas bertanya:

Sastra emangnya kurang ngeri apa?

Ya bukan sastranya. Cuma mungkin genrenya

Apa ? terlalu menye-menye? Terus urusannya sama tulisanku?

Reno diam sejenak.

Nggak ada sih. Yawes itulah. Iya-iya semua buku itu sama“, jawab Reno sambil memalingkan muka.

Obrolan itu selesai dan kita kembali ke obrolan seputar hal-hal yang ringan saja. Sebab saya (lagi-lagi) tahu bahwa Reno tipikal mahasiswa bebal. Sementara dia juga tahu bahwa saya nggak bisa mendengarkan ujaran penghinaan terhadap karya seseorang. Apalagi yang dibahas Reno adalah karya saya. Murni anak nurani saya (meminjam pengandaian Oppa Pram).

Selang beberapa menit setelah itu kami memutuskan buat menuju rumah Adit untuk bermalam disana. Mungkin buat beberapa hari katanya. Saya nggak ngurus. Saya lebih memilih untuk kembali ke indekos.

Karena jarak antara Kota Batu dan Kota Malang yang ehm, lumayan jauh itu, di jalan saya sempat berpikir tentang semua kelucuan ini. Saya tentu saja percaya dan yakini, semua tulisan adalah produk ilmu baik yang dibungkus dengan bahasa pengantar ala-ala jurnal maupun ala sastra yang maknawiah. Hanya beda bungkusannya saja. Tapi entah mengapa penyakit kita sampai hari ini masih terlampau membeda-bedakan antara keduanya.

Yang pembaca sastra nggak mau produk jurnal yang teoritis lah. Yang pembaca jurnal nggak mau produk sastra yang menye-menye lah.

Heran. Padahal, kedua genre tulisan itu hanya berbicara soal pengemasan. Soal kemasan. Sudah begitu, masih ada saja manusia yang ‘non’ karya macam Reno yang masih kober mengata-ngatai sastra. Dan hal itu cukup sukses membuat batin saya kesal. Dari tempat saya ngopi sampai kamar indekos bahkan.

Soalnya begini, yang dihinakan Reno ialah karya. Indonesia ini adalah negara dengan krisis karya. Khususnya di dunia literasi. Di negeri ini, percayalah, kesadaran seseorang buat berkarya di bidang literasi ditengah iklim yang selalu tidak memberi ruang ini saja sudah bagus. Terlepas dari genre karya yang dihasilkan. Cuma yang jadi persoalan dan kesialan anda sebagai Reno, anda tidak pernah punya sebuah karya orisinil. Entah sastra maupun jurnal teori.

Anda nggak pernah merasakan karya anda dicecar secara tidak langsung macam itu. Anda nggak pernah merasakan buku anda karena mungkin, saking ngerinya — akhirnya dirazia aparat lantas dibuang ke selokan. Anda nggak pernah merasakan karya anda karena sengehek sastra seperti kata anda — karya anda akhirnya dihina-hinakan oleh para hewan yang pandai akan teori. Anda belum pernah mencapainya. Apalagi pernah merasakan betapa jengkelnya***

Malang, 24 Februari 2019

Faris Fauzan Abdi

One comment