Sebuah Alasan

Posted by
Kredit Foto : bombxcity film


Sebelum memasuki dunia perguruan tinggi, kakak saya pernah berpesan: “Kau sudah mahasiswa. Kau pun seorang laki-laki. Adikku lagi. Kau harus bisa menjaga nama baik keluarga, mengangkat harkat dan martabatnya.

Apakah itu juga tercermin dalam tingkah laku kakak saya?

Saya katakan ya. Saya ingat betul dia dulu merupakan seorang pekerja keras. Seorang yang tekun dan telaten. Saat ia masih mahasiswa dan waktu itu keadaan ekonomi keluarga kurang membaik lantaran pailitnya pabrik tempat ayah saya bekerja, kakak saya itu — pernah dua kali membiayai uang SPP saya. Membelikan adik saya , Syafiq sebuah helm. Pun hendak membayar SPP si kecil, Erli. Padahal waktu itu ia masih seorang mahasiswa.

Dan aksi heroik kakak saya tersebut hampir sepenuhnya mempengaruhi hidup saya. Di awal menjadi mahasiswa sampai hari ini. Seminggu pasca Pesmaba selesai, saya, dengan tanpa mempertimbangkan apa-apa — begitu saja bergabung ke dalam salah satu organisasi eksternal di kampus. Berproses dengan baik dan akhirnya satu tahun kemudian mulai memasuki dunia jurnalistik. Saya menjadi wartawan sebuah media pers lokal.

Tak puas dengan pencapaian itu, saya akhirnya terjun ke Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Disini banyak pengalaman yang saya dapatkan. Sumber utama mengapa saya bermimpi buat mempunyai semacam lembaga penelitian dll. Singkat cerita, saya hanya setahun berada disana. Saya berhenti lantaran ada bencana besar yang tidak mungkin saya uraikan disini.

Berhenti dari LSM, saya akhirnya terjun ke dunia perbukuan. Menjadi penjual buku. Tangan kedua dari beberapa penerbit. Waktu itu, puji syukur buku yang saya jual bisa dikatakan ramai pembeli. Pelan-pelan, setiap hasil penjualan akhirnya saya tabung sedikit-sedikit. Sebab kedepan, segala bentuk ketidakpastian masihlah mengancam.

Dan ketidakpastian itu akhirnya benar-benar terjadi. Tepatnya menjelang tahun terakhir perkuliahan saya. Pelan-pelan saya akhirnya mundur dari dunia perbukuan itu. Disinilah saya sempat bingung buat terus bertahan dalam mengejar kakak saya. Di satu sisi, menunaikan petuah kakak yang ia sampaikan itu.

Kebingungan itu terjadi berbulan-bulan. Hingga pada akhirnya, sebuah tawaran untuk menjadi penulis lepas datang kepada saya. Mulai dari koran, e-majalah sampai platform informasi digital. Kalau boleh jujur, disinilah proses saya yang paling sulit. Karena sudah lama saya tidak menulis. Saya harus banyak membaca media, beli koran dan lain-lain (lagi).

Lantaran melakoninya dengan tekun, akhirnya tulisan saya banyak yang tembus. Beberapa diantaranya pun, menghasilkan pundi-pundi rupiah. Sebagiannya aktif saya tabung, sisanya buat beli koran dan buku lagi. Dan puji syukur tabungan itu semakin banyak dan akhirnya : saya sudah yakin kalau tabungan itu sudah cukup buat mendirikan kedai kopi dari keringat sendiri. Demi masa depan, demi pesan babang Naufal.

Makannya belakangan ini saya sering riwa-riwi cari pemasok kopi. Pun mensurvei harga sewa kios. Meski yang baru sudah jalan ialah di Jember. Saya masih butuh keliling lagi. Butuh waktu lebih banyak lagi. Lantas hari ini betapa kagetnya ketika saya tahu kalau beberapa orang menjudge saya dari belakang sebagai penelantar anak orang, aneh dst. Wtf !

The more i see a man, i mean everyone like you , the more i like a dogs.

Hai, para pengidap hipokrit kritis. Tolonglah dengarkan ini. Saya memang aneh, penulis ulung, ambisius, flat man, penelantar, penebar sakit hati massal, pemalas, kurang pintar dalam belajar soal kesalahan masa lalu, apalagi?

Itu memang saya. Hal-hal yang paling asasi dari saya. Lantas mengapa hal-hal itu malah kalian buat agar menyerang saya? Hanya karena kalian tidak melihat cukup banyak kebahagiaan dari apa yang selama ini saya berikan kepada teman kalian itu? Keren. Saya apresiasi. Hanya saja, kecurangan kalian ialah terlalu membatasi makna bahagia dan tersakiti itu sendiri. Yang sebenarnya makin membuat kalian ‘tidak’ akan menemukan apa yang menjadi dasar, dari bahagia maupun penderitaan itu sendiri.

Misalnya, bisa tidak kalian jelaskan mengapa hari ini dunia yang sudah mencapai perkembangan yang begitu cepat, mentereng dan membahagiakan nyatanya menjadi salah satu penyebab mengapa bunuh diri menjadi sebuah trend mengakhiri depresi? Bisa tidak misalnya kalian jabarkan mengapa orang di kota dengan tingkat perekonomian tertinggi memilih singa, macan sebagai hewan peliharaan? Sementara bom, bazoka sampai AK47, bahkan mobil mewah terbatas di dunia mereka buat sebagai mainan di ladang pertanian?

Atau kalau itu terlalu berat, dapatkah kalian coba jelaskan mengapa kalian selalu merasa menderita dengan hari Senin sampai Jumat? Dengan rutinitas pekerjaan, tugas mata kuliah dst? Dapatkah pula misalnya kalian jelaskan kenapa kalian lebih bahagia dengan hari Sabtu dan Minggu sebagai harinya ‘waktu luang’?

Serius, ini menjijikkan. Kalian tidak punya sudut pandang yang mumpuni buat mempreskripsi. Benarkah itu rasa sakit, atau sebaliknya bahagia? Darimana anda lihat itu? Senyum ikhlas? Wtf, kalian lupa bahwa manusia hidup dibalik topeng. Kalian lupa, saya bahkan tidak bisa mencintai diri saya sendiri karena ini. Kalian pun lupa saya punya podium buat mengklarifikasi semua hal.

Saya memang salah. Namun saya punya alasan untuk itu. Saya punya pertimbangan mengapa saya harus sibuk ini itu. Barangkali jika kalian berkenan, kalian bisa membaca ulang beberapa paragraf diatas. Dan saya sendiri dalam hal ini juga sadar, bahwa semua aktivitas ini ialah abnormal. Sebab pendapat umum mengatakan kalau remaja seusia kita ya masih eranya senang-senang. Gak ada yang lebih dari itu.

Mohon maaf kalau memang apa yang saya lakukan selama ini nggak ada apa-apanya. Ya begitu-begitu tok. Kerja-kerja monoton. Bagi semua orang bahkan sudah nggak berguna. Tapi tolong, jangan bunuh saya dua kali. Itu saja.

Semua manusia layak menentukan pilihan. Mereka berhak menentukan sejarahnya masing-masing. Mereka berhak dalam bersikap dan bekerja sesuai cita rasa mereka. Saya dengan pilihan saya. Kalian dengan pilihan kalian. Saya dengan pilihan saya untuk tetap menari. Saya harap, kalian pun akan memilih untuk terus menari. Sebab hidup kita masing-masing belumlah tuntas. Belum sempat kita hidupi. Jadi tolong, diamlah.***

One comment

  1. Hei ngga ada yang salah dengan pemikiran yang “berbeda”. Malah aku apresiasi kamu. Kamu berani keluar dari zona nyaman, berpetualang, menyerap kepahitan hidup sebanyak-banyaknya yang mungkin agar kelak bila tiba waktunya, kamu sudah tidak perlu merasakan kepahitan lagi. Hepinya aja. Hehe. Jangan percaya orang lain. Percaya saja pada dirimu sendiri. Harapanku, kamu jaga kesehatan ya, biar bisa nulis terus yang keren-keren. Daaan, jangan menutup cinta yang datang kepadamu 🙂